Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 12


__ADS_3

Setelah kepergian Frans yang Icha lakukan hanyalah berdiam diri di kamar, hatinya gelisah memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan hingga sore hari dirinya belum juga keluar kamar, dia menunggu kabar dari Frans, berkali-kali mengecek ponsel hanya untuk menunggu pesan dari suaminya itu. Mama Icha yang mengetahui putrinya sejak kepulangannya belum keluar kamar pun segera menghampiri ke kamarnya, tok tok tok...


"Masuk," Sahut si pemilik kamar, mama Icha mendekat dan duduk di tepi ranjang.


"Kamu kenapa Cha? kok mukanya murung gitu?"


"Engga papa ma, cuma capek aja."


"Cha, jangan bohong sama mama. Kamu berantem sama Frans?"


"Enggak ma, aku sama Frans baik-baik aja kok."


Tak terasa air mata Icha lolos begitu saja, tentu saja hak itu semakin membuat mamanya cemas.


"Cha, kamu inget gak waktu kamu kecil selalu cerita sama mama tentang apa yang kamu alami, kamu selalu terbuka sama mama. Mama gak ingin kamu menanggung beban sendiri Cha, mama cuma pengen kamu tetap jadi Icha kecil mama yang selalu terbuka. Kalau hari ini kami belum siap untuk bilang, bicara sama mama kapanpun Cha, mama siap dengerin semua keluh kesah kamu."


"Maa, orang tua Frans udah tau soal hubunganku sama dia. Aku gak tau lagi musti gimana ma. Icha takut kalau dituduh sebagai pelakor."

__ADS_1


"Cha, apapun yang dilakukan pasti ada konsekuensinya, dan kamu harus siap untuk menjelaskan semuanya ke orang tua Frans. Mama selalu siap bantuin kamu."


Icha pun menangis di pangkuan mamanya, hingga tak terasa dia tertidur.


Pagi telah tiba, Sherin yang sudah sampai di kotanya tadi malam masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur rumahnya sendiri. Dia terlihat tidak semangat karena nanti siang harus dihadapkan dengan orang tua Frans yang sudah pasti akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan, namun mau tidak mau dia harus tetap datang ke tempat mertuanya. Apalagi papa Frans termasuk orang yang sangat tidak bisa mentoleransi yang namanya perselingkuhan. Dengan langkah gontai Sherin menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, lalu memoles sedikit riasan di wajahnya agar terlihat lebih fresh. Tidak lama setelah itu dia mengambil ponsel dan menghubungi Frans, terdengar nada tersambung di seberang sana...


"Ya kenapa?" Sahut frans.


"Gue udah mau otw ke tempat lo."


"Ya."


Sherin segera menuju garasi dan melaju ke tempat tujuan, kali ini dia menyetir sendiri tanpa Devin. Sesampainya di rumah mertuanya dia langsung mengetuk pintu, begitu pintu dibuka terlihat mertuanya sedang duduk di ruang tamu dengan raut muka yang tidak mengenakkan. Sherin tetap bersalaman kepada mereka.


"Kemarin dari mana saja kamu?" Belum sempat duduk, Sherin sudah dihadiahi pertanyaan oleh papa Frans.


"Emm, itu Sherin habis jalan-jalan ke LN sama temen-temen pa."

__ADS_1


"Temen apa selingkuhan?"


Degg.... Sherin tidak bisa berkutik kali ini.


"Papa sudah mendengar semuanya tentang masalah rumah tangga kalian. Papa minta secepatnya kalian berpisah."


"Gak bisa dong pa, aku udah hamil anak Frans." Sherin mencoba untuk berbohong, tentu saja ucapannya membuat mertuanya tidak bisa berkata-kata lagi. Namun Frans tiba-tiba datang dari arah dapur, melihat semua hanya diam dia pun bertanya..


"Kok pada diem kenapa ma?"


"Kamu itu tega ya Frans..."


"Tega kenapa ma???"


"Kamu tau Sherin sedang hami anak kamu dan kamu malah nikah sama perempuan lain. Apa itu namanya gak tega??"


"Heh Sher, bilang apa lo sama orang tua gue?"

__ADS_1


"Frans kan emang bener aku lagi hami anak kita."


"Jangan gila lo, sekalipun gue belum pernah ya nyentuh lo. Itu pasti anak Devin kann. Jangan coba-coba bohongin gue, atau lo akan tau akibatnya." Kedua orang tua Frans sudah sangat emosi karena ulah anak dan menantunya, sementara Sherin masih tidak bergeming.


__ADS_2