Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 5


__ADS_3

Pagi pun tiba, Icha segera mandi dan menuju lantai bawah untuk sarapan. Setelah sarapan dan berpamitan, Icha mengemudikan mobilnya menuju toko,


"Baru kemaren gak ke toko, rasanya udah kangen aja sama suasana toko." Gumamnya.


Sesampai di toko pegawainya, Sinta menyambut bosnya itu, tak lupa Sinta juga menanyakan kenapa Icha tumben tidak masuk kerja dan Icha pun hanya menjawab bahwa dia ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.


"Loh ajeng mana Sin?" Tanya Icha sembari menuju meja kasir.


"Oh itu kak Ajeng sakit, jadi hari ini gak masuk." Icha hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Seperti biasa saat hari-hari kerja memang toko agak sepi, kalaupun ada hanya satu dua orang, nanti kalau di jam pulang kantor toko kembali ramai. Icha duduk di belakang monitor sambil bermain game kesukaannya. Tak terasa waktu begitu cepat jam makan siang tiba, Icha segera menuju cafe Hijau yang sudah menjadi langganannya.


Begitu sampai di dalam cafe terlihat Frans sudah duduk di tempat yang biasa, Icha pun menghampirinya. Sesaat mereka saling diam namun bukan Frans namanya kalau ga jahil terhadap Icha.


"Eh Em... sayang kamu mau diem aja atau mau makan?" Kata Frans sambil memandangi wajah cantik calon istrinya.


"Dasar ga waras lu. Ya gue kesini mau makan lah." Sahut Icha dengan pipi yang terasa panas karen ucapan Frans, untuk menutupi kegugupannya Icha segera meraih buku daftar menu dan memesannya. Selesai makan siang Frans dan Icha menuju butik untuk fitting baju pengantin. Sungguh sebenarnya Icha merasa ogah-ogahan untuk mengurus semua ini, tidak ada semangat sama sekali. Di dalam mobil pun Icha hanya diam. Mobil terparkir dan keduanya melangkah masuk ke butik, mereka disambut dengan ramah oleh pemilik butik tersebut yang ternyata adalah adik dari papa Frans.


"Hallo Frans, ini ya calonnya? wahh cantik banget. Pinter banget emang kalau cari istri." Sambut wanita paruh baya dengan style yang anggun dan elegan.


"Tante bisa aja, oh iya kenalin ini namanya Icha." Mereka pun berkenalan, sesaat kemudian Frans teringat akan sesuatu, dia pun berkata dengan tantenya agar rencana pernikahannya tidak sampai bocor ke orang tua Frans karena itu akan berakibat fatal, terlebih dengan Icha. Sambil tersenyum tante Frans pun berkata,


"Iya Frans, tapi kami juga harus janji sama tante, kalau kamu udah siap kamu tetep harus bilang sama orang tua kamu. Lagian sebenernya gak ada yang salah juga dengan poligami. Tapi ya setiap orang punya pandangannya masing-masing terhadap poligami. Buktinya tante juga dipoligami sama suami tapi syukur sampai sekarang masih langgeng." Sambil sesekali menatap pandangan dengan kosong karena mengingat kejadian dulu kala. Tante Frans juga mengatakan bahwa dirinya tidak membenarkan Frans yang tidak meminta restu kepada orang tuanya dan Frans juga tidak dapat menampik perkataan tantenya karena memang benar adanya.

__ADS_1


"Terus istri kamu bagaimana?" Tante Frans membuyarkan lamunannya.


Frans menceritakan kejadian semalam, waktu pulang dari kantor ternyata Sherin sudah berada di kamar, tanpa basa basi Frans mengutarakan niatnya untuk berpoligami, awalnya Sherin sangat marah namun karena Frans punya bukti perselingkuhannya dengan Devin, akhirnya Sherin menyetujui asalkan dia tetap mendapatkan separuh dari harta Frans, dan Frans menyetujuinya.


"Masak iya Sherin selingkuh Frans?" Tante Frans sangat terkejut, karena setahunya Sherin adalah wanita yang santun dan setia.


"Iya tan, Devin adalah teman aku sewaktu kuliah dan ternyata dia mantan Sherin." Frans menyahut. Namun tantenya malah memberikan opsi agar Frans menceraikan Sherin saja,


"Untuk dalam waktu dekat ini belum bisa tan, ayah Sherin sedang sakit keras. Kalau beliau tau semua ini pasti akan semakin drop." Jelas Frans dengan sendu. Setelah mengobrol banyak akhirnya tante Frans mengajak Icha untuk segera mencoba gaunnya.


Acara fitting baju selesai sudah, kini mereka menuju cafe Hijau mengambil mobil Icha. Setelah masuk ke mobilnya sendiri Icha menghela nafas, dia berpikir Frans adalah cowok brengsek yang suka bergonta ganti istri muda, namun nyatanya ada masalah di dalam keluarganya yang cukup rumit. Icha berpikir, kalaupun suatu saat orang tua Frans tau tentang hubungan mereka dan meminta Icha untuk pergi dari kehidupan Frans, dia akan menerima itu semua. Sekarang yang bisa dilakukannya hanyalah pasrah akan keadaan. Hari ini Icha merasa sangat lelah, dia memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya dirumah terlihat mamanya sedang menyiram tanaman di taman depan rumah, dia pun menyapa mamanya.


"Loh tumben anak mama ini jam segini udah pulang?" Sahut mama Icha sambil mematikan kran air.


"Iya deh, lagian sebentar lagi kan anak mama mau dipinang sama orang." Kata mama Icha tiba-tiba. Degg... Icha gak mampu untuk berkata-kata lagi, dipeluk erat mamanya yang sangat dia sayangi, mereka menangis dalam pelukan. Mama Icha bingung melihat anaknya yang mendadak menangis, sambil mengelus rambut Icha dia berkata,


"Cha, kenapa kamu gak jujur sama mama??"


"Ma, maafin Icha." Hanya kata maaf yang bisa Icha ucapkan. Setelah Icha menghentikan tangisnya mama Icha menceritakan bahwa sebenarnya dia ada di kantor saat saat Icha dan Resti ada di dalam ruangan papanya, siang itu entah kenapa tiba-tiba terlintas dalam pikiran mamanya untuk mengantarkan makan siang ke kantor. Namun saat akan mengetuk pintu terdengar Icha dan papanya sedang berbicara dengan suara yang lumayan keras, mama Icha jelas shock mendengar itu semua. Jantungnya pun terasa sakit, mama Icha sempat terjatuh dan untungnya ada salah satu karyawan kantor yang melihatnya. Karyawan itu menolong mama Icha dan membawa ke rumah sakit. Setelah diperiksa dokter karyawan itu di larang untuk memberitahu keadaannya kepada suami dan anaknya, dan malam itu juga mama Icha meminta untuk dipulangkan saja. Icha yang mendengar cerita mamanya tidak habis pikir, bagaimana bisa rahasia yang dia simpan ternyata diketahui oleh mamanya.


"Mama udah tau arah pembicaraanmu tadi malem Cha. Apa kamu sudah yakin Cha?" Mama Icha bertanya demikian karena ingin memastikan bahwa anaknya benar-benar ikhlas menjalani semua ini. Icha hanya mengatakan bahwa itu adalah jalan satu-satunya karena hutang papanya sangat banyak.

__ADS_1


"Kamu sudah siap dengan segala konsekuensi yang nantinya kamu tanggung?" Mama Icha memastikan sekali lagi bahwa Icha benar-benar serius.


"Insya'allah sudah ma." Kini Icha duduk dengan memandangi taman yang ada di depannya.


"Sekali lagi maafin mama papa sayang.." Sambil menangis karena Icha yang harus menjadi korbannya, sungguh Icha tidak tega melihat mamanya menangis seperti itu.


"Mama papa gak salah kok, mungkin ini memang sudah jalan hidup Icha seperti ini, tapi sebenarnya Frans itu baik lo ma." Kata Icha untuk menenangkan mamanya.


"Baik gimana Cha? "


Icha menceritakan semua yang sebenarnya terjadi, mama Icha tidak bisa berkomentar apa-apa dia hanya bisa mendo'akan agar anaknya dalam keadaan baik dan bahagia kelak.


"Masuk yuk Cha, mama udah buatin pudding kesukaan kamu loh. Pudding mangga yang seger banget." Mereka pun masuk ke dalam rumah.


Sementara di salah satu kamar hotel Sherin sedang menyenderkan kepalanya di bahu Devin,


"Sayang, gimana dong Frans ngancem kalau ga dikasih izin buat poligami." Sherin mencurahkan keluh kesahnya terhadap kekasihnya itu.


"Yaudah sih biarin aja," Kata Devin santai.


"Biarin aja gimana maksud kamu? aku ini istrinya lo." Sahut Sherin dengan menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Tapi lo juga berhubungan badan sama gue. Lo juga selingkuh. Lo lupa??! Lo lupa tujuan awal menikah dengan Frans itu apa? Hah?? Atau jangan-jangan hati lo udah sepenuhnya buat Frans??! Apa lo mau perselingkuhan kita tersebar luas? Lagian lo sebagai istrinya juga ga pernah disentuh kan." Devin yang geram dengan rengekan Sherin pun marah.


__ADS_2