Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 20


__ADS_3

Hari berganti hari kini tibalah saatnya pertemuan antara keluarga Icha dan Frans yang bertempat di rumah Icha untuk membahas acara resepsi yang akan di laksanakan. Tak lupa Icha juga mengundang Resti untuk datang ke rumahnya, hingga sore pun tiba orang tua Frans sudah sampai di kediamannya, mereka saling berkenalan satu sama lain.


"Hallo besan, perkenalkan saya Catheline mamanya Frans, " Sambil berpelukan dengan mama Icha.


"Hallo juga mama Frans, perkenalkan saya Arshinta mamanya Icha , mari-mari silahkan duduk semuanya."


Setelah duduk di kursi yang disediakan, mereka mulai membicarakan rencananya, setelah pembahasan dilakukan kemudian mereka menikmati makan siang.


Sementara di sebuah restauran terlihat Diki sedang menunggu seseorang sambil sesekali mengecek ponselnya, tak lama datanglah wanita yang memakai dress berwarna hitam, ya wanita itu adalah Sherin. Dia sengaja mengiyakan ajakan dari Diki untuk makan siang bersama karena Diki mengatakan akan memberinya sesuatu.


"Hai Diki, sorry ya gue telat tadi ada urusan bentar."


"Oh oke santai, lo mau pesen apa?". Sejenak Sherin melihat menu dan memesannya, hingga tak berapa lama makanan yang di pesannya datang, mereka menikmati makanannya sambil mengobrol santai. Dalam hati Sherin ingin sekali segera pergi dari Diki, namun tentu saja setelah Diki memberikan sesuatu yang dia katakan sebelumnya. Bagi Sherin Diki memang tampan, namun tidak bisa mengalahkan ketampanan Devin dan Frans, selera Sherin memang tinggi. Kriteria Sherin memanglah harus laki-laki yang tampan dan tentu saja kaya.


"Emm Sher, lo tinggal di daerah mana?" Tanya Diki memecah keheningan.


"Gue tinggal di daerah X, Lo sendiri tinggal daerah mana?"


"Gue di daerah S, lumayan deket lah ya sama tempat tinggal gue."


"Ehehe iyaa, btw lo kerja dimana?"


"Gue ada usaha Sher, nerusin perusahaan papa."


"Wahh mangsa empuk nih," Batin Sherin.


"Oh gitu," Sahutnya kemudian.


"Nih Sher gue ada sesuatu buat lo," Devin memberikan paper bag ke Sherin.


"Aduh pake repot-repot bawain gue kayak gini lo, tapi thanks ya Diki."


"Sama-sama Sher, ini kan hadiah buat awal perkenalan kita."


"Boleh gue buka sekarang?"


"Boleh dong, buka aja."


Sherin membuka paper bag yang diberikan Diki, alangkah senang hatinya ketika melihat isinya. Diki memberinya sebuah tas merk terkenal dengan model terbaru yang pastinya limited edition,


"Waw,, thanks banget ya"


"Suka gak Sher?''


"Suka banget, sekali lagi thanks ya."


Mereka kembali melanjutkan obrolan dan tak terasa satu jam berlalu, Diki berpamitan ke Sherin untuk kembali ke kantor.


"Sorry banget Sher, gue musti balik kantor. Next time kita jalan yuk."


"Oke gapapa, ya ntar kabarin aja."


Diki beranjak menuju mobilnya dan kembali ke kantor, sementara Sherin masih enggan untuk beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Kini tak terasa sudah menuju H-1 untuk acara resepsi Icha dan Frans, di rumah Icha sudah ada beberapa orang wedding organizer yang sedang menghias ruang tamu rumah Icha. Papa Icha juga hari ini nampak sedang duduk santai dengan mama Icha di ruang tengah, sedangkan Icha sendiri sedang berada di taman belakang rumah bersama Frans.


"Sayang, aku gak nyangka banget bisa jadi suami kamu,"


"Loh memangnya kenapa?"


"Ya coba kamu inget-inget deh, dulu tuh kamu semasa SMA kan jadi primadona sekolah dideketin cowok juga susah, sementara aku cuma anak culun."


"Hahaha iya juga sih, aku juga gak nyangka loh kamu yang akhirnya jadi suami aku. Tapi nih ya aku itu dulu gak mau nerima cowok karen aku emang belum mau pacaran dulu takutnya nanti aku jadi gak fokus buat belajar." Jelas Icha.


"Emang kamu dulu diharuskan untuk menjadi juara sama orang tua kamu?"


"Ya gak juga, cuma aku nya yang kepengen buat mama papa aku bangga, karena setelah kedua kakakku meninggal cuma aku satu-satunya harapan keluarga."


"Loh kamu bukannya anak tunggal?" Tanya Frans yang heran karena Icha belum pernah memberi tahu nya tentang saudaranya.


"Jadi gini ceritanya....


Flashback


Suatu hari Icha bersama Dengan kedua orang tua dan kedua kakaknya, Jose dan Jhon, berlibur ke desa kakeknya. Di masa itu keluarga Icha paling senang kalau sudah waktunya liburan ke desa, karen di desa mereka bisa menikmati pemandangan yang asri, apalagi di belakang rumah kakeknya ada sungai yang biasanya di gunakan anak-anak untuk bermain air. Jose dan Jhon adalah anak yang digadang orang tua Icha untuk meneruskan perusahaan mereka karena kedua kakaknya laki-laki, sedangkan untuk Icha orang tuanya sudah mempersiapkan tabungan yang kelak bisa dipergunakan untuk Icha supaya bisa memilih akan mendirikan usaha yang Icha minati. Namun takdir berkata lain, saat itu Icha sedang bermain dengan neneknya di depan rumah, sedangkan kedua kakak kembarnya sedang bermain di sungai belakang rumah bersama dengan anak-anak desa. Cuaca yang mulanya cerah mendadak mendung dan langsung disusul dengan hujan yang sangat lebat, pohong-pohon tertiup angin kesana kemari, guntur menggelegar dan hal yang tidak biasa pun terjadi, air sungai dengan cepat menuju permukaan karena tanggul dari desa atas jebol akibat dari hujan yang turun sangat deras. Kakek dan papa Icha kala itu langsung menuju sungai untuk mencari Jose dan Jhon, namun saat tiba di sungai kedua kakak Icha beserta 2 temannya sudah tidak ada, tentu saja hal itu membuat mereka khawatir. Tak berselang lama hujan berhenti begitu saja, bahkan gerimis pun tidak. Papa Icha dan kakek yang sedari tadi berdiri di tepi sungai segera menyusuri sungai, hingga datanglah beberapa warga yang niatnya ingin melihat air sungai yang meluap ikut mencari keberadaan anak-anak yang hilang di sungai. Hingga menjelang malam merek belum juga ditemukan, keluarga Icha sangat terpukul atas hilangnya Jose dan Jhon.


"Pa, gimana anak-anak kita hikss..."


"Sabar ma, kita harus tetap berusaha dan berdo'a untuk mereka. Papa sudah memanggil tim SAR untuk mencari mereka ma."


Icha yang saat itu masih TK hanya bisa terdiam ketika mendengar kedua kakaknya hilang, dia tidak tau lagi kelak siapa yang akan menjaganya kalau kakaknya tidak ditemukan. Saat itu kedua kakaknya masih duduk di bangku kelas 6 SD, keduanya sangat antusias saat memilih sekolah untuk melanjutkan ke SMP.


Esok pun tiba, petugas tim SAR juga sudah siap untuk menyusuri sungai,


"Insya'allah bu, kami akan berusaha semaksimal mungkin,"


Penduduk desa pun ikut serta membantu pencarian, sore pun tiba dari jauh terlihat tim SAR membawa 4 kantong jenazah, mama Icha dan nenek ambruk seketika. 1 jam telah berlalu kini mereka sudah siuman, namun mama Icha menangis dan meraung ketika melihat jenazah ke dua anaknya sudah disucikan dan terbaring di ruang tamu, mama Icha sungguh tidak menyangka liburan kali ini malah membawanya ke duka yang mendalam.


"Ma, dengerin papa. Mungkin ini sudah takdir Jose dan Jhon, papa juga sangat terpukul atas kepergian mereka, kita hanya bisa mendo'akan mereka ma. Lihatlah Icha ma, dia masih butuh kita." Begitu mendengar nama Icha, mamanya langsung beranjak berdiri mencari Icha.


"Icha, Icha kamu dimana sayang?? Icha kamu jangan tinggalin mama."


Icha yang mendengar teriakan mamanya keluar dari kamar neneknya,


"Icha sayang, kamu harus janji sama mama jangan tinggalin mama, kamu jangan tinggalin mama seperti Jose dan Jhon. Hiskkk..." Sambil memeluk Icha dengan erat, seolah takut kehilangan Icha.


Tujuh hari sudah keluarga Icha berada di desa, kini sudah waktunya mereka untuk kembali ke kota. Nenek mendekati mama Icha dan berkata...


"Jangan kamu trauma untuk kesini lagi ya nduk, kamu harus tetap ke sini kelak. Karena ibu dan bapak pasti akan sangat merindukan kalian, lagipun makam Jose dan Jhon juga ada disini."


"I iya bu, insya'allah kami setiap liburan tetap akan ke sini, kami pamit dulu pak, bu"


"Hati-hati nduk. Le nyetirnya jangan ngebut ya. Icha sini nenek cium dulu."


Akhirnya setelah kejadian itu mama dan papa Icha over protect terhadapnya, hingga saat ini.


End.

__ADS_1


Frans menghela nafas saat mendengarkan istrinya bercerita panjang lebar, dia kini bisa mengerti kenapa kalau Icha pulang diatas jam 8 malam pasti orang tuanya akan sangat khawatir. Frans mengusap rambut Icha seraya berkata,


"Udah sayang jangan sedih lagi ya, kita hanya bisa berdo'a untuk kedua kakakmu."


"Iya, yuk kita masuk."


"Ayok, tapi mukanya jangan sedih dong..Senyum duluu.."


"Udah ah ayok masuk."


Mereka memasuki rumah dan langsung menuju kamar. Icha memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sementara Frans terlihat sedang berbicara dengan orang tuanya via telepon.


Pagi pun tiba, waktu menunjukkan pukul 6, Icha sedang di make up di kamar, setelah selesai dia kemudian dibantu untuk mengenakan gaun pengantin. Gaun yang dikenakannya kali ini simple, berwana nude dan dengan hiasan di kepala Icha yang semakin membuatnya menawan. Dua jam berlalu, kini acara resepsi di mulai, kerabat dari keluarga Frans dan Icha sudah berdatangan namun ada yang membuat Icha terkejut adalah para pegawai kantor Frans dan juga toko kue nya turut hadir di acara tersebut..


"Frans, kamu yang ngundang mereka?""


"Hehe iya sayang, gapapa dong."


"Hishhh, pasti nanti Aria juga dateng, hari bahagia aku malah jadi bete gara-gara dia."


"Sayang buang rasa cemburu kamu ya, kamu gak mau kan kita marahan lagi karena Aria?"


"Hem yaudah iya."


Pucuk di cinta ulam pun tiba, Aria datang dengan dress berwarna hitam menghampiri Frans dan Icha.


"Wah selamat ya Frans," namun tidak seditpun melirik Icha.


"Thanks Ra."


"Sama-sama Frans... Eh ada Icha selamat ya Cha."


"Oke." Icha hanya menjawab sekenanya.


Karena mendapat jawaban yang tidak mengenakkan dari Icha akhirnya Aria bergabung dengan para staff kantor. Dia terlihat sesekali bercanda dengan mereka. Tak terasa waktu resepsi telah usai, para undangan sudah bubar, tinggallah Resti, keluarga Icha dan keluarga Frans yang masih berbincang di ruang tengah.


Disela perbincangan ponsel Resti berdering, lalu dia menuju luar rumah Icha,


"Desta, kamu beneran udah pulih???"


"Udah sayang, kamu lihat aku dong udah bisa jalan sendiri."


"Iya tapi aku takut kalau kamu keluar jauh-jauh nanti ada apa-apa aku yang disalahin lagi sama orang tua kamu."


"Aku udah izin kok sama mereka, tapi aku gak boleh bawa motor sendiri untuk saat ini."


"Terus kamu kesini naik apa??"


"Taksi online, eh udah selesai acara temen kamu?"


"Udah kok, yuk masuk aku kenalin ke mereka."


Resti dan Desta memasuki rumah, setelah sampai Resti memperkenalkan Desta kepada orang yang ada di sana,

__ADS_1


"Maaf semuanya, kenalin ini Desta pacar aku,"


"Cieee bau-baunya ada yang mau sold out nihh," Goda Frans...


__ADS_2