
Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, namun Frans kini telah sampai di rumah Icha untuk menjemputnya, pintu dibukakan oleh asisten rumah tangganya..
"Selamat pagi pak Frans, tumben pagi-pagi udah dateng hehe."
"Iya bi, Icha udah bangun?"
"Sepertinya belum pak,"
"Yaudah kalau gitu saya langsung ke kamar Icha ya bi."
"Iya silahkan pak."
Sesampai di depan kamar Frans mengetuk pintu, tok tok tok ... namun tidak ada sahutan, Frans iseng untuk membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Di ranjang Icha masih terlihat tidur dengan pulas, Frans mendekati Icha dilihatnya istri cantiknya itu. Bahkan saat tengah tidur pun Icha masih cantik, dikecupnya kening Icha berkali-kali. Icha yang merasa ada yang mengecup keningnya pun terbangun, seperti mimpi rasanya saat membuka mata ada sosok yang dari semalam dia rindukan, entah mengapa sejak kehamilannya Icha ingin selalu dekat dengan Frans.
"Loh Frans, kapan dateng?"
Tanpa menjawab pertanyaan Icha, Frans langsung meminta haknya kepada istrinya. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 6, terdengar pintu kamar di ketuk....
"Icha bangun, papa udah nungguin buat sarapan." Karena tidak ada sahutan, mama Icha memegang handle pintu dan membukanya, terlihat Frans dan Icha tengah tidur terlelap...
"Rupanya ada Frans," Gumannya sembari tersenyum. Mama Icha segera menuju ke ruang makan .
"Loh Icha belum bangun ma? Itu di depan ada mobil Frans kata bibi tadi jam 5 udah nyampe sini."
"Belum bangun pa, yaudah kita makan dulu. Biarin mereka saling melepas rindu."
"Iya ma, papa ikut seneng kalau Frans bisa membahagiakan anak kita."
Mereka pun memulai sarapan tanpa Icha.
Icha mengerjapkan matanya, dilihatnya wajah suaminya yang tampan, lalu beranjak membersihkan diri di kamar mandi. Karena sampai Icha selesai merias wajahnya Frans belum juga bangun, Icha membangunkan suaminya..
"Frans bangun, udah siang nih."
"Hoahemm iya Cha, jam berapa sih?"
"Udah jam 8 nih, kamu ga ngantor?"
"Enggak Cha, hari ini kan aku mau ngajak kamu ketemu sama orang tua aku." jujur Icha merasa sangat gugup saat nantinya bertemu dengan mertuanya.
"E itu Frans, orang tua kamu ga bakal membenci aku kan? aku takut banget." Frans mendekati Icha dan memegang tangannya ..
__ADS_1
"Cha kamu ini istri aku, kamu gak usah berpikiran yang aneh-aneh. Tunggu aku mau mandi dulu terus kita ke rumah orang tua aku."
Sementara Frans mandi, Icha sibuk memilih baju yang menurutnya pas dipakai untuk pertemuan hari ini, akhirnya dia memutuskan untuk memakai dress bawah lutut andalannya yang berwarna tosca. Tidak lama Frans pun selesai mandi..
"Wah cantik sekali istriku ini,"
"Kamu ih jangan gitu, jadi malu."
"Kamu beneran cantik lo. Oh iya kapan ada jadwal untuk periksa kandungan lagi?"
"Minggu depan, kenapa?"
"Kok kenapa sih? ya aku mau ikut dong, aku juga kepengen tau perkembangan calon anak kita ini. Udah siap?? yuk berangkat."
Mereka segera berpamitan dengan mama Icha,
"Pada mau kemana ini??"
"Mau ke tempat orang tuanya Frans ma, Icha jalan dulu ma "
"Iya sayang hati-hati."
Selama perjalanan Icha merasa tidak tenang hatinya , dia takut jika orang tua Frans tidak menyukainya. Mendadak perjalanan terasa begitu cepat, kini sampailah mereka di halaman rumah orang tua Frans, semakin Dag dig dug rasa hati Icha. Frans menggenggam erat tangan istrinya dengan harapan Icha menjadi lebih tenang. Tok tok tok...
"Den Frans, ini istrinya ya? wah cantik sekali."
"Jelas dong bi, istri siapa dulu, hehehe,"
"Aden ini biasa saja, Itu sudah ditunggu ibu sama bapak di ruang tamu."
"Oke bi,"
Mereka berdua menuju ruang tamu, tatapan mata Icha dan mamanya bertemu. Mertuanya mendadak berdiri..
"Lah ini kan Icha pemilik toko kue langganan mama, kamu pasti inget dong sama saya."
"Hehe tentu saja Icha ingat, kan tante langganan di toko Icha."
"Ya ampun saya gak nyangka loh kalau yang dimaksud Frans itu kamu, aduh kalau mantu mama yang ini mah mama setuju banget pa. Eh iya sampai lupa, kenalin Cha ini papa Frans,"
Icha sedikit gugup ketika bersalaman dengan papa Frans, karena dari raut mukanya yang terkesan dingin. Melihat menantunya gugup papa Frans kemudian berkata...
__ADS_1
"Hei menantu, jangan takut gitu dong, papa ini meskipun mukanya judes tapi sebenarnya orang yang paling baik di keluarga ini, iya kan ma."
"Ah papa ini bisa aja. Iya Cha jangan takut sama papa. Yuk sini duduk,"
Icha dan Frans ikut bergabung bersama orang tuanya,
"Jadi gimana ma? mama setuju kan sama hubungan kita?"
"Ya setuju-setuju aja Frans kalau sama anak mandiri ini mah, iya kan pa?"
"Iya ma, meskipun papa belum mengenal Icha namun sepertinya mempunyai kepribadian yang baik. Papa juga setuju."
"Oh iya Frans, kamu jangan sampai lupa untuk tiap bulannya mengirim uang ke Sherin untuk biaya berobat papanya, meskipun kalian sudah berpisah kita harus tetep bantuin mereka, apalagi mereka dulu juga pernah membantu membangkitkan perusahaan papa yang hampir bangkrut." Kata mama Frans.
"Iya ma."
Mereka melanjutkan obrolannya, membahas kapan akan dilaksanakan resepsi pernikahannya. Hingga akhirnya mereka menyetujui bahwa resepsi akan dilangsungkan di rumah Frans saja dengan mengundang kerabat dekat. Plong rasa hati Icha ketika pikiran buruknya terhadap orang tua Frans ternyata salah besar, mereka begitu senang menerima kehadiran Icha di keluarganya. Mereka juga bertukar cerita pada masa awal mula membangun usaha masing-masing, hingga suara ketukan pintu terdengar dan bibi membuka pintu,
"Siapa bi yang datang?" Tanya mama Frans.
"Itu ada mbak Aria bu,"
"Oh suruh langsung masuk aja."
"Baik bu."
Seorang wanita blasteran dengan rok sepaha berwarna merah maroon datang dengan senyum yang sangat menawan,
"Hei Aria, balik dari Amerika kapan kamu?"
"Baru kemarin tan, hai om"
"Hai Aria, sini duduk."
Namun tanpa disangka Aria langsung memeluk Frans, tentu saja hal itu membuat mood Icha menjadi jelek. Frans buru-buru melepas pelukan Aria karena mengingat ada hati Icha yang harus dijaga.
"Kenalin Aria, ini Icha istriku." Tatapannya yang semula menyenangkan menjadi dingin ketika mengetahui bahwa Icha adalah istri Frans, mantan pacarnya dulu. Mereka menjalani hubungan selama 3 tahun, namun karena Aria harus ke Amerika untuk meneruskan sekolahnya Frans memutuskan untuk menyudahi hubungannya.
Aria memperkenalkan dirinya ke Icha,
"Oh, hai salam kenal. Aria, mantan pacar Frans. Iya kan Frans?" Mama Frans yang melihat kecanggungan itu segera menyahutnya..
__ADS_1
"Ah Aria, jangan gitu dong. Lagian kan sekarang status kalian sudah menjadi teman, jadi berbaik-baiklah ke Icha ya, karena menantuku ini juga nantinya akan menjadi teman kamu, sama seperti Frans."
Glekk, Aria menjadi kebingungan sendiri untuk menanggapi pembicaraan mama Frans.