
Mamanya langsung menghampirinya..
"Ya ampun Cha kamu dari mana? ini udah jam 8 loh. Kamu biasanya kalau pulang telat kan ngabarin mama."
"Icha tadi abis check up dianterin sama Resti ma, sekalian makan."
"Besok lagi kabarin mama ya Cha, mama khawatir tau gak, apalagi sekarang kamu ini sudah bersuami terutama kamu harus ngasih kabar ke Frans."
"Ya ma, aku mau ke kamar dulu mandi gerah banget." Icha segera berlalu tanpa memperdulikan Frans yang sedari tadi melihatnya,
"Icha, kamu kok gak minta maaf sama suami kamu? Cha Icha.." Mama terus memanggil anaknya yang tidak menghiraukannya.
"Sebenarnya ada apa ini Frans? kamu lagi ada masalah sama Icha? kalau ada masalah sebaiknya kalian bicarakan dulu. Sana kamu susul istrimu." Papa menyahut
"Iya pa."
Frans yang seharian sudah sangat penat dengan langkah gontai menuju kamar, dia menunggu istrinya selesai mandi. Begitu keluar dari kamar mandi Icha masih saja diam terhadap Frans, dan itu semakin membuat Frans bingung
"Sayang maafin aku ya aku tadi sibuk banget jadi gak bisa ngaterin kamu check up."
"Sibuk apa? sibuk dinner sama Aria." Deggg Frans tidak menyangka kalau istrinya mengetahui hal ini, bukannya Frans ingin bermain belakang dengan Aria, namun Frans tidak ingin jika Icha bertambah emosian ketika tau Aria kini menggantikan asisten pribadinya,
"Kalau aku cerita yang sebenarnya pasti Icha bakalan marah lama nih," Batin Frans.
"Kenapa diem?" Icha yang sudah siap dengan berbagai ocehannya sudah tidak sabar lagi menunggu jawaban dari Frans. Karena sudah tidak tau lagi harus berkata apa akhirnya Frans memilih untuk jujur saja kepada istrinya..
"Sayang aku mau jujur, tapi dengan catatan kamu gak boleh marah-marah,"
"Ya kenapa?"
__ADS_1
"Janji dulu jangan marah,"
"Hemmm, iya kenapa Frans?"
"Sebenarnya Aria sekarang sedang menjadi asisten sementara aku, karena Hesti sedang cuti melahirkan." Duarrr... kepala Icha serasa mau meledak mendengar kata yang keluar dari mulut suaminya.
"HAH.... BAGAIMANA BISA??! KAMU MASIH SUKA KAN SAMA MANTAN KAMU ITU . IYA KAN FRANS??!. JAWAB AKU."
Frans sampai kaget mendengar suara Icha yang begitu keras, baru kali ini dia melihat istrinya semarah itu, tapi apa boleh buat kinerja Aria memang sama persis seperti Hesti. Dengan pelan Frans menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi, dia juga bercerita bahwa bukan dirinya yang meminta Aria untuk menjadi asistennya, namun karena rekomendasi dari karyawannya. Icha hanya bisa terdiam mendengar penjelasan dari Frans.
"Frans, tolong kamu ke lantai bawah dulu, aku mau nenangin pikiran. Nanti kalau aku udah baikan aku panggil kesini."
Frans hanya bisa pasrah mengikuti permintaan dari Icha, dia hanya tidak mau jika tetap di kamar mood Icha akan semakin buruk. Frans menuruni tangga dengan muka ditekuk,
"Loh kenapa Frans? Icha mana?" Tanya mama Icha.
"Ada apa sebenernya Frans? tadi mama papa denger Icha bicara ke kamu kenceng banget,"
Akhirnya Frans menceritakan juga ke mama Icha, setelah mendengarkan ceritanya mama Icha memberikan nasihat kepada Frans,
"Kamu harus lebih sabar lagi menghadapi Icha ya, kemungkinan Icha menjadi emosian karena hormon dari kehamilannya. Mama yakin kalau tidak sedang hamil Icha gak mungkin sampai segitunya ke kamu Frans, d
karena mama tau betul karakter Icha seperti apa. Udah kamu tenang aja, nanti biar mama bantu ngomong pelan-pelan ke Icha, Iya kan pa?"
"Iya Frans, yang penting kamu tidak aneh-aneh dan tidak mempermainkan hati Icha, selama itu masih kamu terapkan percayalah kita akan terus berusaha untuk kebaikan rumah tangga kalian."
"Makasih ma, pa,"
"Iya Frans, Oh iya kalau Icha masih belum mau tidur sama kamu , malam ini kamu tidur di kamar tamu dulu gimana? nyaman juga kok."
__ADS_1
"Iya ma, Frans langsung ke kamar ya."
"Iya Frans."
Sementara di suatu apartemen sambil menunggu Devin pulang dari kantor, Sherin asik ber chat ria dengan Diki, sebenarnya dia tadi enggan untuk memberikan nomornya namun ketika melihat jam tangan yang pakai Diki harganya sangat fantastis, dia mau memberikan nomornya, hanya materi yang diincarnya. Berbeda halnya dengan Devin, Sherin rela untuk berbagi apapun itu dengannya, karena dia memang memiliki perasaan cinta dan sayang ke Devin. Tak lama kemudian pintu terbuka, Sherin segera menyambut kedatangan orang yang kelak akan menjadi pasangan hidupnya
"Hai sayang, kok malem banget pulangnya?"
"Iya nih, kerjaan banyak banget.. kamu ngapain malem gini belum tidur?"
"Em nungguin kamu lah, buruan mandi sana," Elaknya, padahal dari tadi Sherin sibuk berkirim pesan dengan Diki.
"Okee," Devin segera menuju kamar mandi.
Devin sendiri sebenarnya adalah anak dari seorang pengusaha terkenal di kota tersebut, tapi saat mamanya meninggal papanya kemudian menikah lagi dengan perempuan yang tidak disukai Devin, pada akhirnya terjadilah percekcokan antara Devin dan papanya. Papanya kemudian memberikan pilihan pada Devin, kalau dia menyetujui pernikahannya maka dia akan mendapat semua warisan perusahaan dari papanya, tapi kalau dia tidak menyetujuinya maka Devin harus bersedia keluar dari rumah tersebut dan hanya akan diberikan 1 perusahaan dan sebuah unit apartemen yang murni warisan dari usaha yang didirikan mamanya. Dengan hati yang mantab Devin memilih untuk pergi dari rumah tersebut karena dia tau bahwa wanita yang dinikahi papanya hanya menginginkan harta papanya. Papa Devin memang terkenal dengan kekejamannya kalau ada orang yang tidak sesuai dengan kemauannya.
Hingga akhirnya Devin pelan-pelan belajar mengelola perusahaan mamanya dan sekarang sudah menjadi lumayan besar, setidaknya lebih dari cukup kalau hanya untuk kehidupannya dan Sherin, hanya saja Sherin masih ingin mendapatkan materi yang lebih. Itu semua karena kesalahan orang tuanya yang selalu memberikan kehidupan yang mewah terhadap Sherin, dan kini perusahaan orang tuanya sudah bangkrut.
Selesai mandi Devin langsung berbaring di kasur king size nya, dilihatnya dan dibelai rambut Sherin yang tengah tertidur pulas..
"Sher, kapan kamu akan berhenti dari sifat kamu yang buruk ini? aku tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Aku sangat berharap saat anak kita lahir kamu bisa berubah menjadi lebih baik." Cupp.. Devin mengecup kening Sherin.
Devin sebenarnya pernah melarang Icha agar berhenti merengek kepada papanya untuk menjodohkannya dengan Frans, karena Sherin hanya ingin hartanya saja. Namun bukan Sherin namanya kalau tidak keras kepala, semenjak keluarganya bangkrut dia hanya bisa mengandalkan uang dari Devin dan Frans, karena memang dia tidak mau bekerja. Tak lama kemudian Devin ikut tertidur di samping Sherin.
Pov Icha
Sampai jam 2 malam aku tidak bisa memejamkan mata, entah kenapa aku merasa ingin menyusul Frans yang tidur di kamar tamu. Sebenarnya aku merasa bersalah karena tadi sudah su'udzon dan membentak suamiku, Ku langkahkan kakiku menuju kamar tamu berharap pintunya tidak dikunci, dan benar saja Frans ternyata tidak mengunci pintu. Aku mendekati Frans dan kupegang tangannya yang sedang tertidur pulas. Setelah puas memandangi wajah suamiku, aku kemudian ikut tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Aku akan minta maaf besok," Batinku.
__ADS_1