
Sesampainya di rumah Resti, Icha mengetuk pintu rumah dan dibukakan oleh Resti sendiri. Mereka langsung menuju ruang tengah untuk ngobrol. Resti sendiri adalah pemilik salah satu klub malam yang cukup terkenal di kota tersebut.
"Heii Cha, tumben gak bawa mobil? kemana-mana udah dianter suami nih, hahah"
"Ya hari ini doang Res, besok gue bawa mobil sendiri. Biar ga repot kalau mau kemana-mana."
"Iya sih bener juga, lagian kan tempat kerja kalian gak searah repot juga lah kalau cuma ngandelin dianterin."
"Maka dari itu, Res gue mau cerita nih"
"Cerita aja, biasanya juga langsung nyrocos lo."
Icha menceritakan tentang apa yang dirasakan saat bersama Frans, jantungnya berdebar-debar dan pasti gugup. Semua itu dirasakan saat selesai akad nikah. Resti yang mendengarkan cerita sahabatnya pun tak kuasa untuk menahan tawanya ..
"Hahahaah, eh itu namanya jatuh cinta Cha."
"Masa iya gue jatuh cinta sama Frans, ini gak boleh dibiarin. Kan gue sama dia cuma kawin kontrak Res, gue gak mau nantinya malah tambah sakit hati saat kontrak sudah habis."
"Lagian lo juga ngapain sih pake acara ngasih syarat kontrak-kontrak segala. Bingung sendiri kan lo. Lagian ya Cha, Frans itu udah ganteng, mapan ya wajar kalau lo jatuh cinta sama dia. Udah jangan bohongin diri lo sendiri, kalau cinta ya bilang cinta. Btw gimana malam pertamanya?"
"Malam pertama apaan? cuma tidur doang."
"Yaelah, gue kiraa...."
"Kira apaa??"
"Hehe gapapa, ke mall yukk pengen beli tas nih."
"Hem ayolah."
Setelah sampai di mall ternyata mereka berpapasan dengan Diki, ada yang berbeda dari Diki. Dia seperti tidak ingin menatap Icha.
__ADS_1
"Dikiii..." Panggil Icha
"Eh em, ada apa?" Icha sedikit bingung dengan Diki yang tiba-tiba bersikap dingin.
"Lo kenapa Diki? kok kayak gak mau ngobrol sama gue?"
"Selamat menempuh hidup baru ya.."
Glekk...Icha tidak menyangka kalau Diki mengetahui hal itu.
"Lo tau dari mana?"
"Dari nyokap lo, dia juga berpesan buat ga ngasih tau siapa-siapa. Udah ya Cha, gue mau balik."
Diki meninggalkan Icha yang masih bengong, hingga suara Resti mengagetkannya.
"Udah Cha, gak usah dipikirin. Sekarang lo harus mencoba berdamai sama keadaan lo yang sekarang. Mungkin Diki cuma Shock aja, besok juga udah kayak kemaren lagi." Icha pun mengiyakan perkataan sahabatnya itu. Mereka mengelilingi mall hingga tak terasa sudah jam 5 sore. Icha mengajak Resti untuk segera pulang, sesampai di rumah Icha terlihat mobil Frans sudah terparkir di halaman rumah.
"Cha, gue langsung balik ya, mau nyamperin nyokap di kantor. Next time gue mampir."
"Iya nyonya Frans, hahaha,,, dah ah byee Cha."
Saat membuka pintu rumah, mama Icha sudah berdiri di belakang pintu hingga mengagetkan Icha,
"Mama ih ngapain di belakang pintu, bikin kaget aja." Mama Icha menggandeng tangannya sembari berkata pelan,
"Ya ampun Cha, kamu itu gimana sih, suami udah sampai di rumah ee kamu nya malah baru pulang."
"Emang harus banget ya ma kalau Frans udah pulang aku udah ada dirumah? kan aku juga punya kesibukan sendiri."
"Iya mama tau kamu ada kerjaan, tapi kan biasanya kamu jam segini udah nyampe rumah juga. Udah sana samperin Frans dikamar."
__ADS_1
"Iya ma."
Sesampai di kamar Frans sudah menunjukkan raut muka yang masam, tentu saja hal itu membuat Icha sedikit heran.
"Muka lo kenapa ditekuk?"
"Ini udah jam berapa Cha?"
"Jam 6, kenapa emang?"
"Gue ini suami lo Cha, seharusnya gue pulang lo juga ada dirumah."
"Lo kok jadi ngatur gue sih?"
"Ya karena gue suami lo, minimal kalau mau pergi terus pulang terlambat kan bisa ngabarin. Lo itu sudah berkeluarga jangan seenaknya sendiri." Icha yang menyadari kesalahannya segera minta maaf ke Frans. Wajar saja jika Icha bersikap demikian, karena selama ini dia selalu seenak hati jika mau pulang terlambat.
"Em, Frans kan lo hari ini disuruh Sherin buat pulang ke rumah lo."
"Ya ini tadi niatnya mau pulang tapi dompet ketinggalan disini, mangkanya gue kesini dulu. Eh nyampe sini lo malah belom pulang. Yaudah gue balik dulu."
Sembari menuju pintu Frans memberikan kartu ke Icha.
"Loh buat apa?"
"Gue tau Cha lo bisa cari duit sendiri, tapi gue sebagai suami lo juga harus tetep nafkahin lo. Jangan sampai gue makin banyak dosa gara-gara gak nafkahin istri. Lo tenang aja, duit yang disini hasil dari usaha distro kok."
Icha tertegun dengan perkataan Frans,
"Ternyata Frans baik juga ya," Guman Icha, kemudian dia lanjut mandi dan makan malam. Jam baru menunjukkan pukul 8 malam, Icha memainkan ponselnya tidak lama terlihat pesan dari Frans
1 Message From Frans Gila
__ADS_1
"Lagi ngapain Cha?" Degg degg... hati Icha berdebar ketika membuka pesan dari Frans, entah kenapa sejak kemarin Icha selalu seperti itu terhadap Frans. Icha pun membalas pesan Frans dengan mengatakan dirinya sedang bermain ponsel. Lama mereka berkomunikasi via chat, tidak terasa sudah tengah malam,
"Tidur Cha udah malem," Tanpa membalas pesan Frans, Icha sudah langsung memejamkan matanya.