Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 13


__ADS_3

Pov Resti


Hari ini adalah jadwal aku untuk bertemu seseorang yang sedang berasa di rumah sakit, sudah sering aku selalu bolak balik Indonesia-Singapura hanya untuk memastikan keadaan orang yang aku sayangi baik-baik saja. Sepagi ini aku sudah berada di bandara, hingga waktu keberangkatan pesawat pun tiba. Sampai di Singapura aku langsung memanggil taksi untuk mengantarku rumah sakit, sampai di sana aku langsung menuju salah satu ruang VIP. Di dalam ruangan itu ada laki-laki yang sedang koma selama 2 tahun lamanya, Desta namanya. Dia adalah kekasihku, bahkan Icha yang sudah lama menjadi sahabatku tidak mengetahui hal ini, Desta sendiri mengalami kecelakaan motor saat akan menjemput aku merayakan anniversary mereka. Aku sangat terpukul saat itu, bahkan orang tua Desta sampai saat ini masih menyalahkanku, mereka menganggap kecelakaan Desta karena salahku. Sampai saat ini aku juga sedikit banyak membantu biaya pengobatan Desta karena aku sendiri mengetahui bagaimana kondisi perekonomian orang tua Desta, bahkan aku juga yang memutuskan untuk memindahkan Desta ke rumah sakit Singapura, tentu saja dengan persetujuan orang tuanya, dengan catatan Desta bisa kembali bersama mereka. Ku pegang tangannya dan aku selalu mengajak ngobrol Desta meskipun dia tidak menjawabnya.


"Desta, kamu kapan bangun?? aku udah kangen banget sama keceriaan kamu, aku kangen kamu ajak makan mie ayam di taman. Kamu juga harus tau ya, ayah ibumu merindukanmu kembali ke rumah. Kamu cepet bangun ya," Hiksss... Aku tak kuasa untuk menahan air mataku. Namun tiba-tiba tangan Desta bergerak, aku segera memanggil dokter, dalam hati aku sangat berharap kabar baik akan ku terima hari ini.


Pov End.


Sementara itu di tempat lain Icha tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, dia sudah mulai fokus lagi dengan pekerjaannya. Sudah hampir 2 minggu Frans belum juga mendatanginya, bahkan tidak juga memberikan kabar. Sebenarnya Icha sangat merindukan sosok Frans yang selama beberapa hari yang lalu selalu bersamanya. Pagi itu Icha bangun dari tidurnya, dia mengambil ponselnya dengan harapan Frans menghubunginya, namun nihil. Dia pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap ke toko kuenya. Seperti biasa papa mamanya sudah menunggu di meja makan.


"Pagi sayang, " Sapa mamanya


"Pagi ma, wah tumben pagi-pagi masak banyak banget, ada acara apa ma?"


"Hehe gak ada sayang, cuma pengen aja, duduk buruan makan."


"Frans gimana Cha? kok sampai hari ini belum kesini?" Papa Icha menyahut, tentu saja pertanyaan itu membuat Icha tidak bisa menjawab, bahkan dia saja tidak mengetahui keberadaan suaminya itu dimana. Icha memilih untuk tidak menjawab pertanyaan papanya dan memilih untuk segera ke toko. Melihat hal itu mama Icha berusaha berbicara dengan suaminya,


"Pa, papa kan tau kalau mereka lagi ada masalah, jadi mama minta tolong untuk papa jangan terlalu ikut campur urusan mereka."


"Ya gimana ma, aku cuma kasian sama Icha, itu aja. Udah hampir 2 minggu gak ditengok sama suaminya."


"Kita tunggu aja kabar baiknya pa, udah yuk lanjut makan."


"Hem iya."


Icha berhenti saat berada di lampu merah, saat menengok ke samping tepatnya di sebuah mini market dia melihat seseorang yang dia kenal sedang duduk dengan seorang wanita. Ya dia Frans, suaminya. Namun wanita yang sedang bersamanya bukan Sherin. Hal itu membuat hati Icha semakin sakit, dia tidak menyangka kalau suaminya tega melakukan itu padanya. Icha lantas mengirim pesan ke Frans...

__ADS_1


"Frans, nanti siang aku mau kita ketemuan di cafe Hijau."


Tidak ada balasan dari Frans, Icha melanjutkan perjalanannya. Sampai di toko pegawainya yang melihat bosnya bermata sembab pun tidak berani untuk sekedar menyapanya, belum pernah sekalipun mereka melihat bosnya seperti itu. Icha langsung menuju kamar mandi dan membasuh mukanya. Sepanjang hari itu yang Icha lakukan hanya menanti balasan dari Frans, dia sudah bertekad untuk tetap ke cafe siang nanti. Waktu yang ditunggu pun tiba, dengan perasaan kacau Icha mendatangi cafe Hijau. Saat memasuki cafe Frans ternyata sudah berada di meja yang selalu dia duduki. Dari kejauhan melihat Icha datang tentu saja membuat Frans tersenyum, namun saat melihat istrinya dengan mata yang sembab senyum itu memudar.


"Cha, kamu kenapa?" Yang ditanya hanya diam saja.


"Cha, cerita dong sama aku, kalo kamu diem aja aku jadi bingung nih."


"Frans, jawab dengan jujur. Cewek mana lagi yang mau kamu jadikan istri?"


"Cewek mana Cha? aku gak ada cewek yang mau aku jadikan istri. Kenapa kamu ngomong gitu?"


"Aku tadi lihat kamu sama cewek di mini market."


Frans tersenyum, dia kini tau bahwa istri keduanya itu telah cemburu terhadapnya.


"Kenapa senyum? Gak lucu."


"Bohong."


"Serius Cha, aku gak bohong."


Hati Icha langsung plong mendengar penjelasan dari Frans.


"Terus kenapa udah hampir 2 minggu kamu gak ngasih kabar ke aku?"


"Ponsel aku sementara diambil sama mama Cha, aku diberi waktu 2 minggu untuk diharuskan memilih salah satu diantara kalian dan kalau aku sudah menentukan siapa yang aku pilih, aku harus segera menyelesaikan perceraian dengan satunya."

__ADS_1


"Apa gak bisa kamu ngabarin aku pakai hp asisten mungkin."


"Udah lah Cha, aku gak mau terus-terusan debat sama kamu. Mending sekarang kita pesen makan yang banyak, tuh lihat badan kamu kurusan semenjak aku tinggal." Memang semenjak kejadian itu Icha jarang makan, padahal dia termasuk orang yang paling suka makan.


"Terus kamu milih siapa?"


"Hehehe rahasia dong, udah ayo buruan pesen makan. Jangan mikirin yang aneh-aneh. Aku akan kasih jawaban 2 hari lagi."


Mereka lalu memesan makan dan melahap habis makanan yang mereka pesan.


"Aneh, kenapa aku jadi doyan makan ya siang ini." Batin Icha.


Selepas bertemu dengan Icha Frans kembali ke kantor dengan perasaan yang berbunga-bunga, sudah sekian hari dia menahan rindunya agar dia bisa fokus untuk mengurus perceraiannya dengan Sherin, belum lagi dengan papanya Sherin yang bertambah drop karena mendengar kabar itu. Selama 2 hari Frans berada di rumah sakit untuk memberikan penjelasan dengan pelan kepada mertuanya dan menyampaikan tujuannya untuk bercerai dengan Sherin.


Pov Frans.


Sore itu aku melajukan mobilku ke rumah sakit, setelah itu aku menuju ruang rawat papa Sherin. Ku lihat mama mertua sedang duduk termenung di kursi luar kamar,


"Sore ma." Sapaku


"Eh sore Frans, loh gak sama Sherin?" Sahutnya yang terlihat setengah terkejut karena kedatanganku.


"Enggak ma. Kok diluar ma?"


"Hehe iya Frans, di dalem agak bosen. Jadi mama di luar"


"Ma, aku mau bilang sesuatu. Tapi sebelumnya Frans minta maaf kalau nantinya akan membuat mama kaget."

__ADS_1


"Kenapa Frans? Bilang aja."


Aku pun menceritakan semua yang sedang terjadi antara aku dan Sherin. Kini wajah mama mertuaku mendadak bertambah pucat ketika aku menyampaikan niatku untuk menceraikan Sherin.


__ADS_2