
Icha mengerjapkan mata, namun sepertinya ada yang aneh dengan aroma kamarnya pagi ini, setelah mengumpulkan nyawanya dia kaget karena Frans sudah berpakaian rapi duduk di sofa kamarnya. Frans pun tersenyum melihat ekspresi terkejut Icha,
"Ngapain lo pagi-pagi buta kesini?" Ucap Icha sembari menuju kamar mandi. Frans memberitahukan ke Icha bahwa hari ini akan mengajaknya ke Bali, tentu saja Icha terkejut. Ternyata diam-diam Frans sudah membeli tiket untuk mereka berdua.
"Eh mau ngapain ke Bali?"
"Ya bulan madu dong, hahaha"
"Eh em. Gak ah gue belum siap buat gituan."
"Siapa juga yang mau gituin lo, orang gue cuma kepengen liburan aja kok, udah buruan siap-siap. Keberangkatan pesawat jam 8."
Ingin rasanya Icha menolak namun terdengar pintu kamar di ketuk, ternyata mama Icha,,
"Cha, kok belum mandi? gak malu sama suamimu? Frans aja yang laki-laki sepagi ini udah rapi, wangi. Lah kamu malah masih amburadul kayak gitu."
"Mama ih, lagian Frans tuh nyebelin ma,"
"Nyebelin kenapa??"
Icha menceritakan tujuan Frans untuk mengajak Icha ke Bali tanpa diskusi terlebih dahulu.
"Yaudah Cha lagian kamu kan juga udah lama gak liburan ke mana-mana, selalu kerja kerja dan kerja. Buruan mandi, Sini mama bantuin packing pakaian kamu."
Icha bersungut menuju kamar mandi, dia gak bisa membayangkan bagaimana saat nanti satu kamar lagi dengan Frans di Bali. Di rumahnya saja satu kamar sudah membuat jantungnya berdebar gak karuan. Acara mandi sudah selesai, kini Icha memilih pakaian yang sekiranya nyaman dipakai untuk perjalanan nanti, dia memakai celana jeans yang dipadukan dengan kaos oblong, tak lupa dia memakai sneaker kesayangannya. Frans sungguh terpesona dan melongo dengan style Icha kali ini, dalam hatinya dia berkata,,
"Gila bini gue mau dipakein apa aja tetep cantik, "
Icha yang melihat Frans hanya diam saja pun menegurnya,
__ADS_1
"Woy ngapain lo bengong aja? ngelihatin gue? suka ya lo sama gue?"
"Hih apaan sih lo, udah kelar belom?"
"Ya lo lihat sendiri dong, gue udah siap gini."
Mama Icha yang melihat perdebatan mereka hanya tersenyum,
"Udah ah debatnya, yuk kita sarapan. Papa pasti udah nunggu dibawah." Mereka beranjak menuju meja makan, dan benar saja papa Icha sudah menunggu.
"Wah-wah, tumben anak papa pake celana jeans, pake ransel. Biasanya kan pake dress."
"Papa ih jangan gitu dong, Icha diajakin Frans ke Bali pa buat liburan."
"Em, maaf sebelumnya Frans, apa kamu sudah izin sama Sherin? papa cuma gak mau nantinya disaat kalian liburan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."
"Sudah paa, Sherin juga lagi pergi ke luar negeri sama temen-temennya kok."
Sementara itu Sherin dan Devin telah sampai di bandara untuk ke luar negeri, Sherin terlihat begitu bahagia karena dia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus dari Frans, hanya Devin yang bisa mengerti dirinya. Ditengah dirinya sedang menunggu untuk keberangkatan pesawat, dari arah pintu masuk terlihat Frans dan Icha yang sedang berjalan ke arah mereka. Sherin segera memakai masker dan topi jaketnya. Frans yang dari jauh sudah melihat Sherin pun tersenyum simpul, dia dengan sengaja duduk di belakangnya, dan diam-diam mengambil foto Sherin serta Devin. Icha yang melihat tingkah Frans hanya geleng kepala,
"Sungguh pasangan suami istri yang aneh." Batinnya.
Kini tibalah saat keberangkatan pesawat yang ditumpangi Icha dan Frans. Setelah beberapa jam di pesawat akhirnya mereka sampai di Bali. Icha tidak bisa menampik bahwa hari ini dia merasa bahagia bisa menginjakkan kakinya di Bali, sudah lama sebenarnya dia berencana untuk liburan, namun belum kesampaian. Mereka segera menuju vila yang sudah di booking Frans.
"Gimana sama vilanya? suka?" Tanya Frans.
"Iya Frans bagus banget, view nya langsung ke pantai."
"Gerah banget nih, gue renang dulu ya Cha, lo mau ikut?"
__ADS_1
"Eh hehe gak deh, lo aja yang renang."
Frans melepas bajunya, Icha yang melihat sontak terkejut sekaligus melongo, melihat perut Frans yang sixpack. Tentu saja Frans yang melihat Icha melongo pun menggodanya,
"Wah kayaknya ada yang mulai naksir sama gue nih,"
Icha salting dibuatnya,
"Kepedean lo, udah sana katanya mau renang."
Frans hanya tersenyum dan berlalu menuju kolam renang, dalam hati dia berkata
"Tinggal tunggu waktu Cha, lo bakal jadi milik gue. Dan akan gue buat lo gak bisa lepas dari gue."
Malam telah tiba, di sebuah kamar hotel Sherin dengan Devin tengah melakukan hal yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan. Sherin pun dengan senang hati melayani hasrat Devin.
"Sayang, udah ya aku laper banget nih." Kata Sherin.
"Oke, yuk kita cari makan," Setelah bersiap-siap akhirnya mereka keluar dari hotel dan menuju restoran. Ditengah mereka makan ponsel Sherin berbunyi,
1 Message From Mama
"Sher kamu lagi dimana? papa katanya kangen sama kamu, mau video call bisa?". Seketika wajah Sherin yang tadinya ceria menjadi sendu,
"Kenapa Sher? kok tiba-tiba murung?" Tanya Devin.
"Papa pengen video call Vin,"
"Yaudah lo video call, gue cari tempat lain buat duduk."
__ADS_1
"Gue gak sanggup lihat kondisi bokap gue Vin,"
Akhirnya dengan segala bujukan Devin, Sherin melakukan panggilan video dengan mama papanya, terlihat di layar ponsel keadaan papanya yang semakin kurus, banyak alat-alat medis yang terpasang di badannya. Selama ini Sherin hanya mengirim uang saja untuk pengobatan papanya, tidak sanggup jika harus melihat langsung keadaan papanya. Selesai dengan panggilannya, Devin kembali ke meja semula. Dia memeluk kekasihnya itu.