Madu 25 Hari

Madu 25 Hari
Episode 24


__ADS_3

Siang ini udara di Jakarta sangatlah terasa begitu panas, ditambah dengan polusi dari kendaraan lalu lalang yang membuat keadaan menjadi bertambah semrawut. Sama seperti halnya mama Icha yang kini sedang terjebak macet di jalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk yang ternyata dari asisten rumah tangganya, begitu membaca pesannya mama Icha pun terlihat gusar karena ingin sekali untuk segera sampai di rumah karena merasa tidak enak kalau tamunya harus menunggunya terlalu lama, namun karena jalanan juga lagi macet alhasil dia hanya bisa bersabar menunggu sampai mobil bisa jalan dengan lancar. Setelah kira-kira 3 jam akhirnya mobil bisa berjalan dengan lancar, degup jantung mama Icha semakin tidak karuan ketika memasuki halaman rumah sudah terparkir sebuah sepeda motor butut dengan warna merah putih, tidak biasa mama Icha merasakan seperti ini apalagi tamunya adalah seorang yang ingin menjadi sopirnya. Mama Icha buru-buru keluar dari mobil dan berjalan tergesa menuju rumah, saat sampai di ruang tamu terlihat 2 pemuda dengan penampilan sederhana tengah sibuk dengan ponselnya masing-masing, mama Icha menarik napas pelan lalu menghampiri kedua pemuda tersebut.


"Assalamu'allaikum... " Sapanya sambil mengulurkan tangan.


"Wa'allaikum salam," Ucap kedua pemuda tersebut bersamaan.


Namun salah satu dari kedua pemuda tersebut memiliki paras yang hampir sama dengan suaminya, Degg.... mama Icha berpikir apakah pemuda itu adalah anaknya yang dulu hanyut, namun dia langsung menepis pikiran itu karena kedua anaknya sudah meninggal. Tiba-tiba mama Icha teringat sesuatu, bukankah dia waktu itu tidak sempat untuk melihat jenazah anaknya? Ya mama Icha ingat akan hal itu. Karena terlalu lama bengong akhirnya kedua pemuda tersebut membuyarkan lamunannya,


"Ibu gak papa kan?" Tanya pemuda yang mirip dengan suaminya.


Mama Icha gelagapan dan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum, kemudian duduk di kursi yang bersebrangan dengan tamunya.


"Oh iya, nama kalian siapa? terus diantara kalian mana yang akan menjadi supir sementara untuk saya?" Tanya mama Icha sambil menyesap teh.

__ADS_1


"Perkenalkan bu, saya Joko dan ini teman saya yang akan melamar menjadi sopir ibu namanya Joni." Kata pemuda yang bernama Joko.


Setelah membicarakan semuanya akhirnya Joni diterima oleh mama Icha, dan Joko sendiri adalah seorang sopir dari kompleks sebelah. Cukup lama mereka mengobrol kedua pemuda tersebut kini berpamitan dan untuk Joni akan mulai bekerja besok.


Sementara itu Frans tengah mengendarai mobilnya untuk pulang ke apartemennya, entah kenapa hari ini banyak sekali masalah di kantornya, apalagi setelah mendapat laporan bahwa keuangan perusahaan dalam beberapa hari ini bisa menurun drastis, dan tidak sedikit pula yang tiba-tiba membatalkan kerja sama.


"Huh, ujian apalagi ini Tuhan,," Keluh Frans.


Dan kini Frans sudah sampai di parkiran, dia melangkah dengan gontai, sesampai di apartemen terlihat Icha sedang tertidur di sofa dengan tv yang masih menyala. Frans tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu damai, dia pun mendekatinya dan mencium kening istrinya dan mengelus perutnya, karena merasa ada yang mengelus perutnya Icha pun menggeliat dan membuka matanya.


"Baru aja kok, udah makan belum?" Tanya Frans sambil melepas jasnya.


"Udah kok, aku siapin air dulu ya buat mandi kamu." Sambil menuju kamar mandi.

__ADS_1


Frans mengiyakan, dia segera meletakkan pakaian kotor di tempatnya lalu menuju kamar mandi. Istrinya sudah menyiapkan air dan menambahkan minyak esensial di bak untuk berendam, sepertinya Icha mengerti kalau suaminya saat ini sedang butuh relaksasi. Setelah menyiapkan air untuk suaminya Icha kemudian menyiapkan pakaian untuk Frans dan juga membuatkan kopi. Tadi pagi memang Icha menyempatkan diri untuk bertanya kepada mamanya akan tugas seorang istri, dan kini dia sedang menerapkannya. Selang beberapa saat Frans menyelesaikan ritual mandinya lalu menghampiri Icha yang sedang duduk di balkon.


"Lagi ngapain sayang? kok kayak lagi memikirkan sesuatu?" Tanya Frans sembari mengambil cemilan.


"Gak papa kok, cuma lagi kangen aja pengen ke toko." Sahut Icha, sedangkan Frans hanya manggut-manggut mendengar jawaban Icha.


Frans terdiam sejenak, lalu berkata kepada Icha.


"Sayang, kalau suatu saat kantor aku ada masalah, aku pasti akan jarang banget pulang tepat waktu. Kamu gapapa kan?" Frans berkata dengan hati-hati.


Icha sudah mengira ada hal yang tidak beres di kantor Frans hanya dengan melihat mimik muka dan sikap Frans.


"Iya Frans, mending kamu jujur sekarang dari pada kamu pendem sendiri, apapun yang kamu hadapi percayalah kamu tidak sendirian, ada aku istri kamu." Kata Icha sambil memegang tangan suaminya.

__ADS_1


Frans lalu menceritakan apa yang terjadi di kantornya, Icha pun dengan lembut mengatakan kepada suaminya bahwa semua masalah pasti akan teratasi, terlebih Icha sendiri juga masih ada usaha dan Frans sendiri juga masih ada usaha yang lain jadi tidak perlu mengkhawatirkan tentang perekonomian mereka berdua. Namun ternyata bukan itu yang membuat Frans khawatir, tapi papa Frans yang sudah mengetahui masalah dikantornya mengatakan bahwa jika Frans tidak bisa mengatasi masalah tersebut maka posisi Frans akan digantikan oleh Deni, keponakan papa Frans yang kini menjabat sebagai ketua bendahara sekaligus sekertaris di perusahaan tersebut. Papa Frans yakin bahwa Deni bisa menyelesaikan semuanya, Frans pun tidak bisa menampik hal itu karena Deni memang anak yang jenius. Icha pun hanya bisa menghela napas dan berdo'a agar suaminya bisa mengatasi semua permasalahannya.


__ADS_2