
Disisi lain Frans sudah merencanakan sesuatu, bos yang terkenal dengan sikapnya yang dingin ini memang sedang tergila-gila pada Icha, apapun akan dia lakukan agar bisa menikahi Icha. Frans sudah merencanakan sesuatu, kantornya akan memesan kue dari toko Icha dan harus Icha sendiri yang mengantarkan ke kantor Frans.
Ding... ponsel Icha berbunyi,
1 Message From : Sinta
"Kak, ada pesanan kue dalam jumlah banyak. 100 pcs mini cake ke kantor Bagaskara Grub, dan kak Icha yang diminta untuk mengantar ke kantornya, sore ini pukul 3."
"Oke Sin. Nanti aku ngajak kamu ya" Balasnya. Selesai dengan makan siangnya, Icha langsung menuju toko kuenya. Jam baru menunjukkan pukul setengah 2 siang, pesanan sudah siap untuk diantarkan. Icha memilih berangkat lebih awal dari jam yang seharusnya karena khawatir nanti akan ada macet yang nantinya menyebabkan pelanggan menjadi menunggu lama.
Icha tancap gas menuju kantor Bagaskara Grub, dalam hati Icha sangat senang karena baru kali ini tokonya mendapat pesanan dari kantor yang sangat terkenal sampai di luar negeri. Sesampainya di kantor Bagaskara Grub Icha dan Sinta mengeluarkan box mini cake dari bagasi. Di lantai 2 nampak seorang laki-laki sedang memperhatikan kegiatan mereka, Frans sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Icha, dia sudah menyuruh resepsionis agar pesanan khusus untuknya diantar Icha ke ruangannya. Sesampainya di resepsionis Icha kaget karena diberitahu bahwa dirinya harus mengantarkan 1 cake untuk bos di kantor itu.
"Maaf kenapa harus saya yang mengantarkannya?" Sang resepsionis hanya menjawab bahwa itu adalah perintah dari bosnya, dan jika Icha nya gak mau maka pesanan akan di cancel. Icha benar-benar harus memiliki kesabaran ekstra kali ini, baru kali ini ada pelanggan yang banyak maunya. Alhasil daripada cake yang dipesan sebanyak itu dicancel lebih baik dia yang mengantarkan ke ruangan bos. Tok tok tok...
"Ya masuk." Terlihat seorang laki-laki yang duduk membelakangi pintu masuk.
"Maaf pak, ini pesanan cake bapak, saya permisi pak terima kasih atas pesanannya."
"Hei tunggu." Saat bos itu.memutar kursinya Icha terkejut bukan main karena bos di kantor itu adalah Frans, orang yang sengaja membuatnya kesal. Tanpa aba-aba Frans malah beranjak dari kursi dan perlahan mendekati Icha, tentu saja membuatnya salah tingkah.
"Hahaha, tenang dulu, apa kamu mau jadi istri saya." Frans secara lantang mempertanyakan hal itu kepada Icha, tanpa menjawab pertanyaan Frans, dia langsung berbalik badan dan membuka handle pintu, namun dengan cekatan Frans mencekal tangan Icha dan mendorongnya hingga ke tembok. Frans tiba-tiba mengecup kening Icha,
"Heh Lo itu ga punya sopan santun ya.! Lo kira gue cewek apaan?! lepasin gue"
Mendengar itu Frans hanya tersenyum simpul, bahkan terkesan memaksa Icha agar mau menikah dengannya.
''Ga sudi gue nikah sama orang kayak lo. Bos Gila." Icha sembari mendorong kuat badan Frans.
__ADS_1
"Hehe, lihat ini." Frans memperlihatkan video saat dirinya mencium kening Icha. Tentu saja Icha sangat marah, bagaimana tidak dia baru pertama kali dicium sama cowok dan yang menciumnya adalah orang yang sangat menjengkelkan bagi dirinya, bahkan tidak kenal Frans itu siapa.
"Kamu lihat ini???" Frans menunjukkan beberapa dokumen, disitu tertulis Frans adalah salah satu pemilik saham dari perusahaan papanya, Subroto Grub. Dan Icha tidak habis pikir kepemilikan saham Frans sebesar 80%, artinya saat ini papanya hanya memiliki saham 20% di perusahaannya sendiri.
"Kamu pasti mengerti tanpa harus saya jelaskan, dulu saya hanya memiliki saham 30% saja."
Frans juga menjelaskan bahwa akhir-akhir ini perusahaan papa Icha mengalami kemerosotan drastis, dan papa Icha juga memiliki hutang yang cukup besar ke Frans. "Bahkan kalau kamu berniat untuk membayar hutangnya dengan menjual semua tokomu, itu tidak akan menutup hutang papamu." Lanjut Frans sambil duduk di kursinya.
Icha benar-benar tidak habis pikir papanya diam saja selama ini padahal di kantornya sedang ada masalah sebesar itu.
"Bagaimana Icha? kalau kamu mau menikah dengan saya, sudah dapat dipastikan semua hutangnya di perusahaan saya akan saya anggap lunas, tapi ya saya tidak memaksa. Kamu pikirkan saja dulu."
Tanpa berkata apapun Icha langsung keluar dari ruangan itu tanpa permisi, lalu mengajak Sinta untuk segera kembali ke toko. Dalam perjalanan Icha gak fokus dalam mengemudi, pikirannya kalut, dengan hutang papanya yang mencapai ratusan milyar kepada Frans. Sampai di toko Icha mengambil ponselnya untuk menghubungi papanya.
"Halo Cha, ada apa?" Terdengar suara papanya.
"Icha ini udah di perjalanan ke kantor papa, jangan pergi kemana-mana ya pa," Tut... Icha mematikan telepon secara sepihak. Kini sesak di dada yang dirasakan Icha. Dalam perjalanan menuju kantor papanya tidak terasa air matanya menetes, sedih itu pasti. Apalagi kalau sampai mamanya tau masalah ini, bisa dipastikan penyakit jantungnya kambuh, mungkin ini sebabnya papanya selalu diam karena tidak ingin istrinya jatuh sakit. Sesampainya di kantor Icha langsung menuju ruangan papanya. tok tok tok...
Icha langsung memeluk papanya,
"Kenapa Cha?? ada masalah apa kamu?" Papa Icha heran karena tidak biasanya anaknya sepeti itu, Icha masih menangis dan tidak menjawab pertanyaan papanya.
"Icha yang seharusnya nanya gitu ke papa, kenapa papa ga cerita kalau perusahaan papa lagi ada masalah, apalagi papa juga punya hutang sama Frans, dan jalan satu-satunya papa bebas dari hutang itu adalah dengan membiarkan Icha menikah dengan Frans."
Papa Icha melepaskan pelukannya, sungguh saat ini dia merasa bingung harus menjelaskan dari mana, rahasia yang dia simpan selama ini dengan rapat malah sudah diketahui oleh anaknya sendiri. Bukan apa dia hanya takut kalau istrinya shock jika tau akan masalah di kantornya yang nantinya malah membuat penyakit jantungnya kambuh. Dia hanya tidak ingin istri tercintanya menderita.
"K kamu tau Cha? Sayang maafin papa, papa cuma gak mau kamu dan mama kepikiran, dan kamu jangan aneh-aneh Cha. Pak Frans itu sudah punya istri." Ya tentu saja papa Icha tidak akan ridho jika anaknya akan dijadikan istri ke dua. Papa Icha juga sudah pasrah dan mau tidak mau hari ini juga harus jujur terhadap anaknya sendiri.
__ADS_1
"Hah, jadi Frans udah punya istri pa??" Icha juga tak kalah kaget dengan pernyataan papanya.
"Iya Cha, papa juga sebenarnya bukan hanya berhutang uang pada Frans." Pak Broto menjelaskan bahwa dirinya juga berhutang budi kepada Frans, karena bulan kemarin saat perusahaan bangkrut hanya Frans yang berani menyuntikkan dana di perusahaannya.
''Jujur papa juga bingung Cha, kayaknya papa mau jual aja perusahaan ini biar hutangnya lunas." Pak Broto sebenarnya sudah lelah dengan mengurus kantornya karena beberapa kali hampir mengalami kebangkrutan, yang nasib baiknya ada Frans yang selalu menjadi pahlawan untuk kantornya.
"Terus nanti apa kata oma pa kalau tau perusahaannya dijual, papa kan tau sendiri ini perusahaan warisan dari oma."
Suasana mendadak hening, pilihan satu-satunya hanya dengan Icha menikah dengan Frans, tapi apakah Icha bisa menjadi istri ke dua dan apakah istri pertamanya mau menerima Icha sebagai istri kedua dari suaminya? itulah yang sedang dipikirkan Icha.
Disaat pikiran Icha sedang kalut ponselnya berbunyi,
1 Message From : Frans Gila
"Gimana? udah dipikirkan belum? kalau kamu mau besok aku tunggu di cafe Hijau pada saat jam makan siang,
Bye Icha."
Malam semakin larut, Icha masih belum bisa memejamkan mata. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Resti..
tut tut...
"Hallo Cha, kenapa? tumben malem-malem nelpon." Suara Resti terdengar serak, kemungkinan baru bangun tidur.
Icha menceritakan semua yang terjadi,
"Aduh berat juga ya masalahnya, tapi emang kamu udah siap dengan segala konsekuensi menjadi istri ke dua? kamu bisa dianggap pelakor lah, perusak rumah tangga orang, jujur gue sebagai sahabat lo keberatan Cha. Tapi gue juga ga bisa membantu banyak." Resti sendiri juga bingung mendengar apa yang sedang dialami oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Maka dari itu Res, gue bingung." Icha tak kalah putus asa.
"Lo pikir-pikir dulu deh Cha, tapi kalo ternyata lo memutuskan untuk tetap menjadi istri ke dua ya gue cuma bisa berdo'a aja Cha yang terbaik buat lo, sorry ya Cha gue kali ini ga bisa bantuin lo apa-apa." Tak lama mereka menyelesaikan obrolannya dan mematikan sambungan telepon. Icha menghela napas, mungkin ini sudah menjadi jalannya, belum lagi nanti mamanya pasti shock karena akan menjadi istri dari laki laki yang sudah beristri.