
Kini pagi telah tiba, Icha tengah sibuk mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya, kali ini dia hanya memasak yang simple saja omelet dan nugget. Setelah sarapan sudah siap Icha lalu memanggil suaminya yang sedang bersiap di kamar.
"Frans, udah selesai belum? sarapannya udah siap." Kata Icha sambil menghampiri Frans.
"Iya ini bentar lagi, kamu tuh udah dibilangin untuk manggil aku sayang apa susahnya sih?"
Frans sedikit kesal karena hingga kini Icha rupanya masih enggan untuk memanggilnya sayang, dan entah mengapa pagi ini Frans sangat sensitif sekali rasanya hanya ingin uring-uring an. Icha yang tidak menginginkan perdebatan di pagi hari pun segera mendekati suaminya dan meminta maaf.
"Iya sayang, maafin aku. Udah yuk kita makan." Sambil menggandeng tangan Frans.
Sesampainya di meja makan mereka makan dalam hening, tidak ada pembicaraan sepatah kata pun. Tak lama Frans telah menghabiskan sarapannya dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
"Aku berangkat dulu, kamu jaga diri di rumah jangan lupa minum vitamin." Kata Frans sambil mengelus perut Icha.
"Iya, kamu juga hati-hati ya." Sahut Icha.
__ADS_1
Cup....
Satu kecupan mendarat di kening Icha. Setelah kepergian suaminya, Icha kemudian membereskan meja makan dan mencucinya, tak lupa dia juga memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci. Sungguh baru kali ini dia merasakan betapa repot nya menjadi ibu rumah tangga, karena sebelumnya ada bibi yang mengerjakan pekerjaan rumahnya. Namun saat ini Icha lebih memilih untuk mengerjakannya sendiri dulu, kemungkinan jika bayinya sudah lahir dia akan meminta Frans untuk mencarikan asisten rumah tangga.
Sementara itu Frans kini telah sampai di kantornya, saat dia membuka pintu ruangannya ternyata Aria sudah duduk di sofa dan mengulas senyum yang manis untuk menyambut pujaan hatinya. Hari ini Aria memakai rok mini berwarna merah maroon, entahlah apa tujuannya dia memakai pakaian yang seksi di kantor.
"Apakah kamu tidak mempunyai rok yang sopan?" Cecar Frans sambil duduk di kursinya.
Aria tidak menjawab pertanyaan Frans, melainkan berjalan mendekati Frans dan berdiri di belakangnya. Hari ini Aria ingin sekali memikat Frans dengan tampilannya yang seksi.
Frans adalah lelaki normal pada umumnya yang jika melihat wanita berpakaian seperti itu pasti akan goyah imannya, namun tidak lama dia teringat akan Icha. Seketika Frans berkata pada Aria agar menjauh dengannya dan menjaga jarak dengannya. Aria dibuat kesal oleh sikap Frans yang masih saja menolaknya.
"Frans, buka mata kamu, apa kurangnya aku dibanding dengan istrimu itu?" Kata Aria dengan berjalan gontai menuju sofa.
"Tidak ada yang kurang dari kamu. Yang harus kamu ingat, kita disini adalah sebagai bos dan karyawan, tidak lebih dari itu. Jadi aku mohon kamu menjaga sikap selama masih mau bekerja disini, sekarang kembali ke meja kamu dan kerjakan apa yang menjadi tugas kamu." Frans berkata dengan dingin.
__ADS_1
Aria kembali dikejutkan dengan kalimat yang terlontar dari mulut Frans, dia tidak menyangka akan mendapatkan kalimat itu, karena yang dia tau Frans adalah laki-laki yang tidak pernah berkata kasar terhadap perempuan, dengan kata lain Frans sangat menghargai wanita. Aria kembali menyesal karena dulu memilih untuk meninggalkan Frans.
POV SHERIN
Hari ini Devin berpamitan akan pergi ke Surabaya selama 4 hari karena ada urusan kerja, tentu saja aku sangat bahagia karena aku bisa dengan leluasa bertemu dengan Diki, si mesin ATM pribadiku, dan tentu saja sebelum perutku semakin membesar aku harus bisa memeras hartanya.
Setelah mengantar Devin ke bandara aku pun menghubungi Diki dan mengajaknya untuk bertemu di cafe. Aku sangat bersemangat hari ini, setelah merias wajahku aku pun langsung tancap gas menuju cafe. Sesampai di cafe terlihat Diki sudah duduk dengan tenang di meja paling ujung.
"Hai, udah lama nunggunya? maaf ya aku ada urusan tadi" Kataku basa basi.
"Belum kok, santai aja. Oh iya buruan kamu mesen." Diki sambil menyodorkan buku menu.
Beberapa menit kemudian makanan pun datang, aku dan Diki menikmati makanan. Hingga makanan sudah tak tersisa Diki mengatakan padaku bahwa dia harus pergi karena ada meeting, karena aku belum mendapatkan apa-apa aku terpaksa harus mengulur waktu agar Diki mau memberikan sesuatu kepadaku tanpa harus aku memintanya.
"Kamu lagi sibuk banget ya? aku sebenernya lagi sedih banget, pengen ngobrol sama kamu." Ucapku sambil menampakkan muka yang sedih, dan dugaanku tentu saja tepat, Diki pun akhirnya membatalkan meeting nya dan menemaniku ngobrol. Diki juga mengusulkan agar kita pergi ke mall saja untuk menghilangkan kesedihanku, memang itulah tujuanku yang sebenarnya.
__ADS_1
POV END.