
Tak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai di apartemen, suasananya masih sama seperti saat pertama kali Icha diajak oleh Frans ke apartemen. Frans merebahkan dirinya di kasur, sementara Icha masih sibuk mengeluarkan baju-baju dari koper dan menyusunnya di almari, Frans memperhatikan istrinya yang terlihat sangat telaten menata baju-baju, dia merasa beruntung memiliki istri yang cantik, pekerja keras, dan pastinya mandiri. Saat tengah sibuk memperhatikan Icha, ponselnya tiba-tiba berdering terlihat nama Aria yang tengah memanggilnya, Frans mengabaikan panggilan itu. satu kali dua kali ponsel Frans terus berbunyi, Icha yang penasaran akhirnya menghampiri Frans dan melihat siapa yang menghubunginya,
"Kenapa gak diangkat?" Tanya Icha dengan nada ketus ketika melihat ternyata Aria yang menghubungi suaminya.
"Udah biarin aja, kalau memang ada urusan kerja nanti dia juga pasti akan mengirim pesan ke aku." Sahut Frans sedikit kikuk, saat mengetahui ekspresi Icha yang masih saja menunjukkan bahwa dirinya belum sepenuhnya menyukai Aria. Frans pun memaklumi hal itu, melihat Icha hanya diam saja Frans pun menggenggam tangan Icha dan berkata,
"Sayang, aku ada sesuatu buat kamu."
"Apa?" Sahut Icha yang masih saja cuek, dia sebenarnya sudah rela jika Aria lah yang kini menjadi asisten pribadi suaminya, namun yang membuatnya kesal adalah kenapa musti menghubungi suaminya diluar jam kerja. Entahlah apakah ini efek dari kehamilannya atau memang kini Icha yang benar-benar mencintai suaminya sehingga dia tidak rela jika ada wanita yang mendekati suaminya. Icha sudah mengerti akan tujuan Aria yang sebenarnya hanya ingin mendapatkan Frans kembali.
Frans melepaskan tangan Icha lalu berjalan menuju meja, mengambil tasnya dan mengeluarkan kotak berwarna merah.
__ADS_1
"Ini sayang, buat kamu," Sambil menyerahkan kotak itu, Icha menerima dan membukanya. Betapa terkejutnya saat melihat isinya, cincin dengan batu permata yang sangat indah, bahkan selama ini meskipun dia orang yang berpunya belum pernah membelinya, bukan karena tidak mampu namun Icha bukan tipikal orang yang suka mengoleksi perhiasan. Uang yang didapatnya hanya disimpan di ATM.
"Frans, bukankah ini terlalu berlebihan? ini kan mahal banget" Tanya Icha.
"Gak sayang, ini adalah bukti bahwa aku akan memberikan apapun yang aku punya untuk orang yang aku sayang. Sini aku pakaikan ya."
Frans meraih tangan Icha dan menyematkan cincin di jari Icha, sementara Icha tersenyum bahagia akan perlakuan suaminya itu. Icha sangat bersyukur karena memiliki suami yang menyayanginya dan selalu memberikan perhatian yang lebih terhadapnya.
"Res, aku mau bilang sesuatu sama kamu," Sambil memegang tangan Resti.
"Iya kenapa Des?" Sahut Resti, entah mengapa sejak tadi sore hati Resti terasa begitu gundah.
__ADS_1
Desta pun menyampaikan niatnya untuk bekerja di Bali. Resti terkejut akan apa yang dikatakan Desta, karena beberapa waktu ini Desta dimintanya untuk ikut mengurus club miliknya dan tentu saja Desta juga mendapatkan gaji dari Resti. Tapi kini kekasihnya itu memilih untuk bekerja di Bali yang gajinya jauh lebih besar, Resti hanya terdiam.
"Sayang, dengerin aku. Aku melakukan semua ini agar kita cepat menikah." Desta kemudian berbicara setelah Resti tidak merespon ucapannya.
"Untuk pernikahan kan bisa dari uangku, untuk rumah aku juga udah ada rumah Desta. Kita bisa mengembangkan bisnis club aku, dan kita juga bisa membangun bisnis lain. Kamu mau cari apa lagi??" Resti berkata dengan frustasi.
Karena jujur Resti tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya seperti saat kecelakaan dulu, dia ingin selalu melihat Desta baik-baik saja. Ya bisa dibilang Resti terlalu bucin terhadap Desta.
"Sayang itu semua adalah milik kamu, bukan punyaku, aku ingin memiliki sesuatu yang nantinya bisa aku berikan ke kamu. Aku tau kamu adalah wanita pintar dan aku yakin kamu paham apa yang aku maksud." Kata Desta dengan suara sedikit parau.
Selama ini Desta menganggap dirinya terlalu banyak merepotkan Resti, sehingga dia ingin membahagiakan Resti dengan hasil jerih payahnya sendiri. Setelah Desta menyampaikan niatnya suasana menjadi hening, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1