
Setelah kejadian mengerikan yang hampir merenggut nyawa Aira kini hubungan Aira dan Amar semakin renggang tidak ada komunikasi lagi di antara keduanya Aira telah menjalin hubungan Asmara dengan seorang pria yang bernama Rahmat dari desa R Hubungan mereka berjalan sekitar dua bulan Akhirnya di akhiri oleh Aira sendiri yang merasa hubungannya dengan Rahmat biasa-biasa saja. Aira tidak pernah bertemu dengar Fauzan lagi entah kemana Fauzan menghilang tanpa jejak.
"Sayang kamu masih marah ya sama aku, aku minta maaf ya" Aira hanya membaca pesan dari Amar tanpa berniat membalasnya. Dering ponsel Aira berbunyi bertanda ada panggilan masuk dari seseorang dilihatnya layar ponselnya tertera nama Amar. mereka pun terlibat pembicaraan yang panjang dan diakhiri dengan melanjutkan hubungan mereka yang sempat renggang
Aira sangat penasaran dengan sosok pria yang menyelamatkan nyawanya ia pun lambat Laun melupakan sosok penyelamat karena tak pernah lagi bertemu dengannya
Satu Tahun pun berlalu Aira yang kini telah menjalin kembali hubungan Asmara dengan Amar mereka selalu janjian untuk bertemu di pusat kabupaten kota hingga akhirnya kejadian yang tak seharusnya hadir pun terjadi Aira melepaskan keperawanan nya Amar pun berjanji akan bertanggung jawab kepada Aira. Tiga Minggu setelah melakukan hubungan terlarang dengan Amar kini dirinya merasa lebih cepat letih dan kepalanya terasa berat dan pusing
"kenapa dengan diriku akhir-akhir ini aku mudah lelah dan kepalaku terasa pusing" ucap Aira yang sedang memijit pelan kepalanya karena merasa pusing
Aira segera mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor desa ia harus membubuhkan tanda tangannya untuk memberikan izin kepada Kapal-kapal Nelayan yang beroperasi di wilayah perairan desa W.
...****************...
Ketika Aira berjalan menuju ke dalam kantor desa tanpa ia sadari ada sepasang mata sedang memandang penuh kekaguman ke arahnya dimata itu ada kerinduan yang begitu dalam setahun lamanya tidak pernah bertemu
"Aku bahkan tidak bisa mulai memberitahumu betapa aku merindukanmu."
"Merindukanmu adalah cara hatiku untuk mengingatkanku bahwa aku mencintaimu." Gumam Fauzan dalam hatinya menatap nanar ke Arah Aira yang tidak mengetahui keberadaannya
"itu dia sekertarisnya masih muda dan cantik" Ucap salah seorang pemuda yang juga sedang mengurus Izin operasi di wilayah perairan desa W
"Bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan dengannya" gumam Fauzan lagi
"apakah ada di antara kalian yang mengetahui namanya" Tanya Fauzan
semua pria yang ada disitu menatap Fauzan datar dan mengerutkan kening mereka merasa heran dengan Fauzan yang terlihat ingin mengetahui nama sekertaris desa W yang seorang gadis yang manis dan cantik
"Apakah kamu menyukainya bro" Tanya salah Satunya
"Ah itu....aku hanya ingin mengetahui namanya saja kami pernah bertemu di pusat kecamatan " ucap Fauzan setengah berbohong karena dia memang ingin mengetahui nama Sekertaris Desa W
"Bukan kah kau yang menolongnya ketika dia tenggelam waktu itu di pelabuhan" Tanya seorang yang lainnya yang mengenali Fauzan saat dia menyelamatkan Aira karena pria itu juga berada di sana
Fauzan hanya mengangguk mengiyakan, "Aku melihat cinta yang besar di matamu untuknya" Ucap pria tadi yang bernama Latif
"aku akan membantu mu berkenalan dengan gadis itu, jika kau punya waktu aku akan memperkenalkan dirimu dengan Bapak dan Ibu angkat ku yang ada di desa ini mungkin mereka bisa membantu kamu" ucap Latif menepuk Pelan pundak Fauzan
"Baiklah, aku ingin berkenalan dengan bapak dan ibu angkat mu sore ini" ucap Fauzan antusias
Latif mengangguk mengiyakan mereka berdua berkenalan dan bertukar nomor handphone. Fauzan dan Latif sudah mendapatkan Surat Izin operasinya begitu juga dengan yang lainnya mereka memutuskan untuk kembali ke motor laut mereka masing-masing untuk menyerahkan surat Izin yang mereka dapatkan kepada Kep Mereka masing-masing
Aira yang merasa tidak enak badan meminta Izin untuk pulang lebih awal setelah selesai membubuhkan tanda tangannya di atas surat izin operasional yang di berikan kepada Kapal-kapal/ Motor laut para Nelayan
__ADS_1
"Ah aku merasa lemas sekali, padahal tadi pagi sudah sarapan ada apa dengan diriku" Ucapnya lirih pada dirinya sendiri
Aira mencoba menelpon Amar untuk memberi tahukan keadaannya dan dia saat ini sangat merindukan kekasihnya itu
Tut Tut Tut
Bunyi panggilan yang sudah tersambung tapi sang pemilik tidak mengangkatnya
"Kenapa Amar tidak mengangkat telepon dari ku, sebenarnya dia kemana dan apa yang dia lakukan" Aira begitu kesal sudah berulang kali melakukan panggilan tapi Amar tidak mengangkatnya Aira mencoba sekali lagi tapi panggilannya langsung di reject
"kenapa dia mereject panggilan telpon ku" Aira merasa bingung selama ini Amar tidak seperti ini
Amar hanya menatap sendu handphone yang ada di genggamannya
"Maafkan Aku Aira, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi aku harus menikah dengan wanita pilihan kedua orang tuaku" Gumaman Amar dalam hati
...****************...
Fauzan dan Latif janjian akan bersilaturahmi ke rumah bapak dan ibu angkatnya Latif. kini mereka berdua sedang berjalan menyusuri pantai dengan pasir putih yang bertaburan dari kejauhan tampak seorang gadis sedang duduk di bawah pohon sambil termenung menatap ke lautan bebas terlihat dia begitu sedih
"Fauzan bukan kah itu nona sekertaris" Ucap Latif ketika melihat seorang gadis yang ia kenal sebagai sekretaris desa ini
"Hem...."Fauzan hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut yang ia ketahui bahwa dia adalah seorang sekertaris desa
Mereka berdua berjalan mendekat ke arah dimana Aira sedang duduk sambil termenung entah apa yang dipikirkan gadis itu sehingga dia tidak menyadari ada dua orang pria yang sudah berada di sampingnya
"Assalamualaikum, selamat sore nona" Latif
"waalaikum salam" balas Aira tanpa menoleh ke arah asal suara karena dia berfikir itu salam dari beberapa orang yang berlalu lalang karena banyaknya kapal/motor laut yang ada di perairan desanya sehingga banyaknya pemuda dan juga bapak-bapak
"Kenapa nona duduk sendirian disini?"Tanya Latif
"Aku hanya ingin mencari angin saja" ucap Aira masih mengarahkan pandangannya ke arah lautan luas
"Jika ada orang yang mengajak kamu berbicara seharusnya kamu melihat ke arah orang tersebut bukan melihat ke tempat lain itu tidak sopan" Cecar Fauzan merasa jengah melihat gadis tersebut berbicara dengan lawan bicaranya tanpa melihat wajah lawan bicaranya tapi malah melihat ke tempat lain
Aira merasa Familiar dengan suara itu seperti dia pernah mendengar suara seseorang yang pernah ia temui tapi Aira lupa dimana dan siapa pemilik suara tersebut dia pun mengangkat wajahnya
Deg
Jantungnya berdetak begitu cepat ketika netranya bertemu dengan netra Fauzan yang berwarna hitam pekat "sepertinya aku pernah melihat wajahnya tapi dimana dan tatapan matanya seakan menusuk ke jantung ku" Aira segera mengalihkan wajahnya ke tempat lain. Aira berdiri tapi tiba-tiba dia merasa kepalanya berat dan pusing "kepala ku pusing sekali" Aira memegang kepalanya
"Nona kamu tidak apa-apa?" Tanya Latif Khawatir melihat Aira yang sepertinya tidak baik-baik saja
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja maaf aku harus pulang ke rumah" Aira berjalan dengan langkah gontai baru tiga langkah tiba-tiba dia hampir terhuyung ke atas pasir namun sebelum dia jatuh ada tangan kekar yang menangkapnya "Makasih" ucap Aira tanpa melihat siapa yang sudah menolongnya "Lain kali hati-hati lah karena aku tak selalu berada disisi kamu" Aira yang mendengar kata-kata tersebut merasa bahwa dia pernah mendengar seseorang berkata seperti itu namun dia lupa mungkin karena selama ini Amar selalu memenuhi hati dan pikirannya
Fauzan dan Latif melanjutkan perjalanan mereka karena rumah yang mereka tuju tinggal beberapa langkah lagi dan baru berjalan dua langkah terdengar bunyi seseorang yang terjatuh. Fauzan yang mendengar itu segera berbalik dan berlari ke asal suara Fauzan sangat terkejut melihat siapa yang terjatuh dan sudah tidak sadarkan diri dia adalah Aira, Fauzan pun menggendong dan membawa Aira ke rumah bapak dan ibu angkat Latif
"Assalamualaikum" ucap Latif
"waalaikum salam" Bu Ratna
"loh inikan nak Aira, kenapa sampai dia pingsan" Tanya Bu Ratna yang melihat Aira yang di gendong sama seorang pria yang belum dia kenal
"Jadi Namanya Aira?nama yang indah" Fauzan bermonolog dengan senyum yang hampir tidak terlihat
"sebaiknya kalian masuk dulu" Bu Ratna memberi jalan ke pada dua pria tersebut agar mereka bisa masuk ke dalam rumahnya
Fauzan membaringkan Aira ke atas tikar yang sudah di gelar oleh Bu Ratna
"Olesi minyak kayu putih di hidungnya agar dia cepat sadar" ucap Bu Ratna sambil memberikan minyak kayu putih kepada Fauzan. Fauzan mengulurkan tangannya dan menerima minyak kayu putih tersebut dan mengolesi di hidung Aira beberapa menit kemudian Aira sudah sadar dari pingsannya
ketika Aira membuka matanya orang pertama yang dia lihat adalah Fauzan. Fauzan pun tersenyum melihat Aira yang menatap dirinya tak berkedip "Dia" Aira bermonolog mengingat siapa pria yang ada di depannya
"Air liur mu hampir menetes" ucap Fauzan menjahili Aira
Aira seketika mengangkat tangannya untuk menghapus Air liurnya "Tidak ada kok" ucapnya bingung karena tidak ad bekas Air liurnya. Fauzan terkekeh melihat tingkah Aira yang terlihat lucu dan menggemaskan di matanya
"Makasih banyak ya karena ini yang kedua kalinya kamu menolong ku" ucap Aira dia sudah mengingatkan tentang sosok pria yang menolongnya ketika ia tenggelam
"Namaku Ai..."
Bersambung.........
...****************...
Hay para readers semuanya π€π€
semoga kalian sehat-sehat ya.....
Author akan usahain untuk update tiap hari tapi waktunya tidak menentu mengingat Author juga punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di kehidupan nyataππππ
Oleh karena itu mohon dukung karya perdana Author ya ππππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like, Comen,Vote dan Kasih bintang 5 Yach agar karya perdana Author lebih bersinar πππππππ₯°π₯°
Jangan lupa untuk menambahkan novel ini ke rak novel Favorit kalian Agar tidak ketinggalan kisah serunya dan selalu mendapatkan notifikasi part selanjutnya
__ADS_1
Terimakasih semuanya ππππ