
Setelah selesai melaksanakan sholat Ashar, Aira bergegas untuk berangkat ke taman kota
"Bu, Aira pamit dulu" Ucap Aira menyalami tangan Bu Mirna
"mau kemana Aira"
"ketemu teman sebentar Bu"
"Hati-hati ya, jangan pulang larut malam"
"ia Bu.... Assalamualaikum"
"waalaikum salam" balas Bu Mirna memandangi kepergian Aira
Kini Aira telah sampai di taman kota ada begitu banyak orang, ada yang hanya sendirian ada yang bersama pasangan mereka ada juga bersama keluarga kecil mereka ia mengedarkan pandangannya melihat setiap orang dan pandangannya terpaku pada seorang pria yang sangat ia rindukan ia berjalan perlahan agar pria itu tidak mengetahuinya ketika berada di belakang kekasihnya ia segera memeluk pria yang sangat ia rindukan
"Aira" ucap Amar ketika dia mengenali lengan yang melingkar di pinggangnya wanita yang sangat ia cintai tapi ia harus bisa memutuskan hubungannya karena sebuah perjanjian orangtuanya dan orang tua tunangannya
"Aira lepaskan ini ditempat ramai kita tidak bisa seperti ini" Ucap Amar hawatir bila Syifa datang dan mendapati Aira sedang memeluknya pasti akan terjadi keributan
"Biarkan sebentar seperti ini aku sangat merindukanmu, apakah kamu tidak merindukan aku" Ucap Aira mengeratkan pelukannya Amar hanya bisa pasrah sejujurnya Amar sangat merindukan Aira tapi dia harus bisa mengambil keputusan yang mungkin sangat menyakiti Aira
...****************...
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap mereka penuh kemarahan ia mengepalkan tangannya terlihat buku-buku yang menyembul keluar begitu jelas. wanita yang tak lain adalah Syifa tunangan Amar mereka akan melangsungkan pernikahan mereka setelah kembali dari kota. Syifa yang sudah dikuasai Amara dan cemburu. wanita mana saja pasti akan cemburu melihat calon suaminya berpelukan di tempat umum dengan wanita lain
Syifa seketika menarik rambut panjang Aira membuat Aira terpental ke belakang dan kini mereka saling bertatapan seketika Satu Tamparan Syifa layangkan ke pipi mulus Aira. Amar yang merasakan tangan Aira terlepas dari pinggangnya secara paksa setelah itu diapun mendengar suara tamparan yang sangat keras ketika dia berbalik Syifa ingin menampar Aira untuk yang kedua kalinya
"Syifa berhenti" Teriak Amar ketika Syifa ingin menampar Aira lagi, sementara Aira terlihat syok dan kebingungan tiba-tiba saja Rambutnya di tarik dan mendapatkan sebuah tamparan. "ach..." Aira meringis kesakitan memegang pipinya yang kini sudah memerah dan sedikit bengkak akibat kena tampar secara tiba-tiba, mereka menjadi bahan tontonan oleh orang-orang yang berada di tempat itu
__ADS_1
"Kenapa Bang biar aku hajar ini perempuan tidak tau diri, perempuan j*l*n* seenaknya saja peluk kamu bang" Syifa masih geram dan ingin menghajar Aira lagi
"Ra!" Panggil Amar tapi Aira diam saja tidak menggubris panggilannya ia begitu hawatir melihat keadaan Aira
"maafkan aku" ucap Amar lirih
mendengar permintaan maaf dari Amar Aira mengangkat wajahnya dan menatap kekasihnya "Apa maksud semua ini kenapa kamu minta maaf" Tanya Aira penasaran
"Bang siapa perempuan ini" Tanya Syifa menunjuk ke arah Aira, Ia penasaran karena melihat Amar yang merasa bersalah kepada perempuan tersebut
"Sebaiknya kita mencari tempat yang tidak terlalu ramai, kita menjadi pusat perhatian" Amar tidak menjawab pertanyaan Syifa malah ia mengajak Aira dan Syifa ke tempat yang lebih nyaman untuk menyelesaikan masalah mereka bertiga. Aira dan Syifa mengedarkan pandangannya ke sekeliling terlihat semua orang memandang ke arah mereka ada yang mencemooh dan berkata yang tidak-tidak kepada mereka bertiga
"Baiklah, Baiklah" ucap Aira dan Syifa secara bersamaan berjalan mengikuti Amar dari belakang mereka sudah seperti seorang suami bersama kedua Istrinya pikir orang-orang yang melihat mereka bertiga. Syifa mempercepat langkahnya agar ia bisa berjalan sejajar dengan Amar, Syifa merangkul lengan Amar ia menengok ke belakang memberikan tatapan sinis seakan-akan dia berkata bahwa Amar hanya milikku. Amar yang melihat tingkah Syifa hanya bisa menarik nafas kasar dia merasa bersalah dengan Aira
Aira yang melihat itu merasakan ada sesuatu yang Amar sembunyikan dari dirinya perasaan tak enak semenjak wanita yang bernama Syifa menarik dan menamparnya "Ada hubungan apa Amar dan wanita itu, apa mereka punya hubungan tertentu aku seperti pernah mendengar suaranya tapi dimana?" Begitu banyak pertanyaan yang berterbangan di dalam otak Aira yang membutuhkan kejelasan
...****************...
"Bang dari tadi kamu minta maaf terus kepadanya siapa sih dia, pacar kamu ya?" Tanya Syifa ketus ia jengkel melihat calon suaminya memohon-mohon untuk dimaafkan oleh wanita lain
"Aira kenalkan ini Syifa calon Istri ku, aku ingin hubungan kita sampai disini saja maafkan aku Aira" Air mata Aira menetes begitu saja tanpa menunggu perintah lagi dari sang empunya ketika mendengar penuturan Amar, kakinya terasa lemas tenaganya hilang entah kemana, kepalanya pusing pandangannya seketika kabur ia merasakan tangan kekar yang Familiar menopang tubuhnya hingga akhirnya ia tak sadarkan diri
Amar yang ingin membantu tapi di cegat oleh Syifa "Udah lah bang itu ada kekasihnya yang akan menolongnya"
Sebelum Aira tak sadarkan diri ada tangan kekar yang menopang tubuhnya dari belakang "Tolong sampaikan permintaan maaf ku kepada Aira, Jaga dia baik-baik" Pria tersebut hanya mengangguk mengiyakan ia pun menggendong Aira dan berjalan keluar dari taman kota tersebut. Amar hanya menatap sendu kepada pria yang telah membawa pergi Aira "Aku seperti pernah melihatnya tapi dimana entahlah aku lupa" Gumam Fauzan dalam hatinya mengenal sosok pria yang membawa Aira pergi seperti tak asing baginya
"kamu tuh kenapa bang dari tadi aku perhatiin kamu tuh minta maaf terus kepada si Aira, seperti ada perasaan bersalah terhadap gadis itu, apa jangan-jangan kamu telah menyentuhnya" Ucap Syifa curiga dengan sikap Amar
Deg
__ADS_1
Jantung Amar berdetak karena apa yang di katakan Syifa ada benarnya ia dan Aira pernah tidur bersama Aira telah menyerahkan kehormatannya kepada diri dan ia berjanji akan bertanggung jawab terhadap diri Aira namun takdir berkata lain
"Bang kamu kok diam aja sih, aku tuh tidak mau ya jika suatu hari Aira datang meminta pertanggungjawaban atas anak yang ia kandung"
"kami berdua hanya tidur semalam apa Aira bisa segera hamil semoga saja tidak dan semoga ada pria yang mau menerima dia apa adanya" Gumam Amar dalam hati berbagai kemungkinan yang ia takutkan
"Bang kamu kenapa sih aku ngomong dari tadi kamu hanya diam saja"
"jangan berbicara sembarangan Syifa" Ucap Amar dan melangkah pergi meninggalkan Calon Istrinya
Bersambung........
Siapakah dia yang menolong Aira???
...****************...
Hay para readers semuanya π€π€
semoga kalian sehat-sehat ya.....
Author akan usahain untuk update tiap hari tapi waktunya tidak menentu mengingat Author juga punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di kehidupan nyataππππ
Oleh karena itu mohon dukung karya perdana Author ya ππππππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like, Comen,Vote dan Kasih bintang 5 Yach agar karya perdana Author lebih bersinar πππππππ₯°π₯°
Jangan lupa untuk menambahkan novel ini ke rak novel Favorit kalian Agar tidak ketinggalan kisah serunya dan selalu mendapatkan notifikasi part selanjutnya
Terimakasih semuanya ππππ
__ADS_1