Manisnya Madu Dibalas Pahitnya Empedu

Manisnya Madu Dibalas Pahitnya Empedu
Chapter 26


__ADS_3

Aira hanya tersenyum menanggapi ungkapan perasaan Fauzan dia bingung harus berkata apa dia bingung tentang perasaannya sendiri. Fauzan dapat melihat ketakutan dan kebingungan Dimata Aira


"aku tidak akan memaksakan dirimu untuk mencintai ku sekarang aku tau penghianatan yang kamu rasakan masih basah dan membekas. tapi percayalah aku sangat mencintaimu jauh sebelum aku berada di kepulauan Aru ini" Fauzan membingkai wajah Aira menatap intens ke mata Aira mengatakan ketulusan hatinya. Aira menatap intens ke netra Fauzan ia dapat melihat kejujuran dan ketulusan yang begitu dalam disana Aira tersenyum mengangguk mengiyakan


"Beri aku waktu Bang, luka ini masih basah aku ingin menenangkan diri ini"


"Baiklah, aku akan menunggumu sayang, aku ingin segera menjadikan kamu milik ku seutuhnya, jangan lupa minum vitaminnya.


"makasih bang untuk hari ini dan sudah mau mengerti Aira"


"jaga dirimu baik-baik esok aku langsung balik ke kampung" Fauzan mengecup dahi Aira dan m*l*m*t bibir Aira singkat. Aira tersenyum menatap punggung Fauzan yang semakin menghilang di balik pintu dan terdengar suara motor yang semakin menghilang dari pendengarannya


...****************...


"Jadi Gimana setelah tau Aira hamil apa kamu tetap ingin bersamanya?" Tanya Latif ketika motor yang dikendarainya sudah membelah Jalanan


"iya Tif aku akan melamarnya secepat mungkin aku akan menerima Aira apa adanya"


"Baiklah jika itu keputusan mu aku akan selalu mendukung niat baik mu Fauzan"


"makasih Latif kamu memang sahabat terbaik ku"


Tak terasa lima belas menit telah berlalu dan akhirnya mereka tiba juga di sebuah kamar kosan yang selalu di sewakan Latif ketika dia akan tiba di kota


"Ayo masuk Fauzan kita istirahat dulu subuh kita harus sudah kembali ke kampung dengan speed boat"


"Baiklah" ucap Fauzan. Fauzan dan Latif segera membersihkan diri kemudian beranjak pergi mengistirahatkan tubuh mereka terutama Fauzan yang sangat kelelahan akibat pukulan Bu Marni Latif yang belum tertidur dibuat terkejut dengan melihat tubuh Fauzan yang merah seperti bekas di pukul dengan benda kecil berbentuk panjang karena Fauzan tidur bertelanjang dada sehingga Latif dapat melihat dengan jelas "kenapa ada tanda seperti ini di tubuhnya apa dia di pukuli seseorang, ini seperti tanda bekas pukul menggunakan sapu lidi" Ucap Latif ketika melihat begitu banyak bekas sapu lidi. kadang Latif tersenyum menggelengkan kepala tat kala mendengar gumaman Fauzan yang menyebut nama Aira


"Begitu besar Cinta mu kepadanya kawan, semoga Tuhan meridhoi niat baik mu" Latif pun segera memejamkan matanya karena sehabis subuh mereka akan balik ke kampung W menggunakan speed boat. terdengar dengkuran halus dari keduanya bertanda bahwa keduanya telah terlelap

__ADS_1


Jika Fauzan dan Latif sudah terlelap Berbeda halnya dengan Aira yang masih terjaga sedang memegang Bros bunga mawar merah yang terbuat dari pita satin Aira memutar-mutarkan Bros tersebut dan tersenyum malu mengingat apa saja yang baru dilakukan bersama Fauzan. Suara keramat Fauzan selalu terngiang-ngiang dalam benaknya begitu juga dengan senjata sakti milik Fauzan yang ia lihat dan elus terlihat sangat perkasa Aira membayangkan jika senjata itu masuk ke dalam guanya pasti ia akan merasakan nikmat surga dunia yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. "ah kenapa selalu terngiang wajah tampan Fauzan ketika mengeluarkan suara keramatnya ia sangat gagah dan juga senjata saktinya" Aira tersipu malu menenggelamkan wajahnya di bantal ia malu pada dirinya sendiri namun ia tak munafik jika ia juga menikmati permainan singkat mereka walaupun belum menyatukan jiwa dan raga. Aira bisa melihat kepuasan di wajah Fauzan dan dirinya


"apa yang harus aku lakukan, tak mungkin aku membiarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah " Aira mengelus perutnya ketika ia sudah merubah posisi tidurnya menjadi terlentang


"Apa aku harus menerima tawaran Bang Fauzan namun aku takut dikecewakan lagi" Gumam Aira


"Ya Allah aku mohon petunjuk Mu" Batin Aira ia pun memutuskan untuk tidur dan Bros bunga mawar merah masih berada dalam genggamannya


...****************...


Setelah merasa suasana hatinya lebih baik Aira memutuskan untuk kembali ke desa W dua hari dia menenangkan hatinya melupakan penghianatan yang dilakukan Amar kepada nya dan memantapkan hatinya untuk menerima Cinta Fauzan


"Assalamualaikum Bu Aira pamit ya" Aira menyalami dan mencium punggung tangan Bu Mirna


"waalaikum salam hati-hati ya, sampaikan salam ibu kepada kedua orang tua mu Aira dan jangan lupa sampaikan salam ibu untuk nak Fauzan ibu minta maaf atas perlakuan ibu kepadanya" Bu Mirna merasa bersalah kepada Fauzan wanita paruh baya itu ingin meminta maaf kepada Fauzan pada esok harinya namun Fauzan sudah pergi dari semalam


"Aira dia pria yang baik penyayang dan bertanggung jawab Sepertinya dia mencintaimu terimalah dia" Aira hanya tersenyum menggangguk mengiyakan Aira mencium pipi kiri dan kanan wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri memeluk dengan penuh kasih sayang setelah itu Aira harus pamit yang terakhir kali


"Aira jalan ya Bu" Bu Mirna mengangguk mengiyakan Aira sudah pulang ke kampung kini wanita paruh baya itu akan hidup sendirian lagi di rumahnya


Kini Aira sudah berada di kampung halamannya Ia berjalan menyusuri pantai mungkin saja ia bisa bertemu dengan Fauzan seperti waktu itu namun sepertinya kali ini keberuntungan tidak berpihak kepada nya.


"Mungkin saja bang Fauzan sudah melaut, aku rindu padanya" batin Aira memandangi ke arah Laut yang terlihat beberapa kapal/motor laut sudah berkurang


Aira memutuskan berkunjung ke rumah Bu Ratna mungkin saja ia bisa mengetahui keberadaan Fauzan dengan jelas dan ia tak perlu lagi menerka-nerka dimana Fauzan berada


"Assalamualaikum bi Ratna" Aira


"waalaikum salam, eh Aira mari masuk" Aira mengikuti Bu Ratna masuk ke dalam rumah

__ADS_1


"Duduk dulu Bi Buatkan minum"


"tidak usah bi, aku hanya mampir sebentar dan" Aira malu untuk melanjutkan kata-katanya. Bi Ratna tersenyum melihat tingkah Aira yang ingin menanyakan keberadaan Fauzan


"Ini nak Fauzan titip buat kamu" Bi Ratna memberikan sebuah amplop. Aira mengulurkan tangannya mengambil amplop tersebut " Apa ini Bi" tanya Aira


"Buka saja mungkin ada petunjuk atau pesan di dalamnya" Aira membuka pelan amplop tersebut terlihat ada sebuah surat di dalamnya Aira memejamkan matanya sebentar ia takut jika isinya mengecewakan dirinya


"apa sebenarnya isi surat ini, aku takut jika bang Fauzan meninggalkan aku lagi" batin Aira dan menutup kembali amplop tersebut


"kenapa di tutup Aira" Tanya Bi Ratna ketika melihat Aira menutup kembali amplopnya


Bersambung..........


...****************...


Hay para readers semuanya πŸ€—πŸ€—


semoga kalian sehat-sehat ya.....


Author akan usahain untuk update tiap hari tapi waktunya tidak menentu mengingat Author juga punya tugas yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja di kehidupan nyataπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜”


Oleh karena itu mohon dukung karya perdana Author ya πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜ŠπŸ˜Š


Jangan lupa tinggalkan jejak like, Comen,Vote dan Kasih bintang 5 Yach agar karya perdana Author lebih bersinar πŸŒŸπŸŒŸπŸŒŸπŸŒŸπŸŒŸπŸ‘ŒπŸ₯°πŸ₯°


Jangan lupa untuk menambahkan novel ini ke rak novel Favorit kalian Agar tidak ketinggalan kisah serunya dan selalu mendapatkan notifikasi part selanjutnya


Terimakasih semuanya πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2