MARRIED TO MAFIA (Smbil Aku Revisi Sedikit Ya)

MARRIED TO MAFIA (Smbil Aku Revisi Sedikit Ya)
(18) DANAU


__ADS_3

...HAPPY READING-!!❤️...


Selama di perjalanan, Rea hanya menatap ke arah depan dengan memasangkan wajah yang tertekuk.


"Lo kenapa sih, hm?" Tanya Nathan. Ia sudah tidak tahan melihat Rea yang seperti itu. Tidak, bukan karena tampangnya yang seram, namun, Rea malah terlihat sangat lucu dimata Nathan.


"Ga apa-apa!!" Ketus Rea, wajahnya tetap melihat ke arah depan.


Nathan terkekeh melihat wajah Rea.


"Yakin, ga apa-apa?" Goda Nathan


"He'em" Jawab Rea so'k cuek.


"Ya udah deh" Pada akhirnya, Nathan pun lebih memilih untuk diam.


Saat di tengah perjalanan, tiba-tiba saja Nathan memberhentikan mobilnya, tentu saja hal itu membuat Rea bingung. Namun Rea enggan untuk bertanya, Nathan keluar dari mobil. Rea memperhatikan gerak-gerik Nathan dari balik kaca mobil.


Rea melihat, Nathan masuk ke dalam minimarket seberang jalan.


"Ngapain dia?" Batin Rea bertanya-tanya.


Selang beberapa menit, Nathan kembali dengan kantung belanjaan di tangannya.


Nathan membawa kantung belanjaannya di kursi belakang, lalu mengambil satu kantung belanjaan yang terlihat ringan.


Lalu Nathan masuk ke dalam mobil. Ia memberikan kantung belanjaan tersebut kepada Rea.


"Apaan nih?" Tanya Rea, ia seraya melihat isi kantung tersebut.


"Narkoba" Jawab Nathan santai.


"Heh, yang bener!" Ketus Rea tak ingin dipermainkan.


"Buka aja, gue yakin, lo pasti suka" Ucap Nathan, ia kembali menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya.


Dengan rasa penasaran, Rea pun membuka kantung plastik tersebut.


"Lohh, ini kan cemilan kesukaan gue?" Batin Rea terkejut.


Nathan tersenyum miring. "Kenapa? Suka ga?" Tanya Nathan.


"Biasa aja" Jawab Rea, ia mengambil salah satu minuman kaleng dari kantung plastik tersebut.


"Btw, makasih ya" Ucap Rea, seraya mencoba membuka minuman kaleng itu.


"Sama-sama. Bisa bukanya ga?" Tanya Nathan, ia melihat Rea seperti kesulitan membukanya.


"Bisa" Jawab Rea. Sebetulnya kaleng itu sangat sulit untuk dibuka, bahkan jari tangan Rea sudah merah karenanya.


Nathan memberhentikan mobilnya, lalu ia menatap wajah Rea, kemudian ia merebut kaleng tersebut dari Rea.


Nathan membuka kaleng minuman tersebut dengan santai. "Kalo ga bisa, bilang aja" Ucap Nathan, ia mengembalikan kembali kaleng tersebut.


Pipi Rea memerah. Ia mengambil kaleng tersebut dari tangan Nathan.


"Harusnya gue ga bolos" Batin Rea sedikit menyesal.


Perjalanan pun kembali di lanjutkan oleh Nathan.


Sesekali Rea melihat Nathan mengangkat telepon. Sepertinya itu urusan kerjaan, kalau Nathan sibuk dengan kantor, mengapa Nathan harus mengajaknya jalan-jalan?


Rea melihat ramainya kota Jakarta dari balik kaca mobil. Seraya memakan beberapa cemilan yang di beli oleh Nathan. Perjalanan sedikit menyenangkan karena Nathan memutarkan lagu kesukaan mereka. Sebenarnya ini hanyalah kebetulan, mereka memiliki selera musik yang sama.


Selang 1 jam, perjalanan pun berakhir, Nathan segera memarkirkan mobilnya.


"Ayo turun" Ajak Nathan.


Rea termangu, ia tidak tahu saat ini sedang berada di mana.


"Turun hei" Ucap Nathan sekali lagi. Rea pun tersadar, lalu ia segera turun dari mobil Nathan.


Setelah turun, matanya mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Banyak pepohonan, seperti sebuah taman.

__ADS_1


"Ayo masuk" Ajak Nathan, ia mulai menggandeng tangan Rea tanpa persetujuan darinya.


Rea hanya diam saja mengikuti Nathan.


Saat sudah mulai masuk, Rea melihat seperti sebuah danau. Sangat indah. Danau yang tampak jernih, sangat memanjakan matanya.


"Mau coba naik perahu ga?" Tawar Nathan seraya menunjuk ke arah kumpulan perahu untuk di sewakan.


Dengan sangat antusias, Rea pun mengangguk.


"Sini" Nathan pun kembali menggandeng tangan Rea. Mereka pergi menuju ke tempat sewa perahu di pojok sana.


Selang beberapa waktu, perahu pun berhasil mereka sewa. Mereka menyewa sebuah perahu kecil berwarna biru muda.


"Hati-hati naik nya" Peringat Nathan, ia seraya memegang tangan Rea agar Rea tidak terjatuh.


Rea pun berhasil naik ke atas perahu.


"Jalanin" Ucap Nathan


"Gimana cara jalaninnya?" Tanya Rea, sejujurnya ia tidak pernah menaiki perahu seperti ini.


Nathan terkekeh atas pertanyaan Rea, kemudian ia memberikan satu dayung untuk Rea.


"Nih, tinggal di dayung aja, lo dayung yang kanan, gue yang kiri" Ujar Nathan, Rea pun mengangguk.


Akhirnya perahu berhasil mereka jalankan dengan baik.


"Ke kiri, Rea" Titah Nathan dari belakang.


Rea mengangguk, ia mencoba mengendalikan perahu tersebut karena sedari tadi mereka hanya bergerak lurus.


Selang beberapa menit, mereka pun selesai mendayung.


"Gimana? Asik ga?" Tanya Nathan dengan senyuman tipisnya.


Rea mengangguk. "Lain kali kita kesini lagi ya!!" Jawab Rea dengan bersemangat.


"Mau sepeda-sepedaan ga?" Tanya Nathan


"Emangnya ada sepeda?" Jawab Rea balik bertanya.


"Ada, tuh" Ucap Nathan menunjuk tempat sewa sepeda dengan dagunya. Disana terdapat berbagai jenis sepeda. Ada sepeda gunung, sepeda untuk dua orang, sepeda yang ada keranjang dan sepeda yang tidak ada keranjang.


"Mau mau!!" Seru Rea, kemudian Rea sudah terlebih dulu berjalan menuju tempat sewa sepeda.


Nathan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian Nathan pun mengikuti Rea.


Setelah itu, sepeda pun berhasil mereka sewa.


Mereka menyewa sepeda yang bisa di kayuh oleh dua orang.


Rea mengayuh di depan, dan Nathan mengayuh di belakang. Sangat romantis bukan?


"Woi om, kayuh yang lebih cepet dong! berat tau!!" Ketus Rea.


"Gue bukan om-om" Jawab Nathan malas.


"Terserah, pokoknya kayuh yang cepet!!" Ucap Rea, ia lelah sekali.


"Yakin, mau yang lebih cepet?" Tanya Nathan dengan menampilkan senyum miringnya.


"Iyaaa"


"Oke" Kemudian, Nathan pun mulai mengayuhnya dengan kecepatan maksimal. Hal itu sontak membuat Rea terkejut bukan main. Kaki yang awalnya berada di pedal, ia naikkan ke atas besi sepeda. Sepeda tersebut melaju sangat cepat sehingga Rea tak perlu lagi mengayuhnya.


"OM NATHAN!! JANGAN CEPET-CEPET IH!!!" Teriak Rea dengan rasa takut.


Nathan terkekeh. Kemudian ia pelan kan kecepatannya.


"Tadi katanya minta di cepetin, udah di cepetin kok malah takut?" Goda Nathan


"Ishh!! Iyaa iyaaa gue salah!!! Ayo istirahat dulu!!" Ucap Rea, jantungnya masih berdebar-debar.

__ADS_1


"Oke" Jawab Nathan santai, kemudian mereka pun menghentikan sepedanya di dekat danau.


Rea mulai berjalan menuju ke pinggir danau. Sedangkan Nathan, ia pergi menuju mobilnya untuk mengambil beberapa cemilan yang tadi ia beli.


"Lah, si om Nathan kemana?" Batin Rea bertanya-tanya. Rea celingak-celinguk mencari keberadaan Nathan, namun ia tidak menemukannya.


"Ya udahlah, palingan juga ke toilet" Batin Rea.


Ia memotret danau dengan kamera handphonenya.


"Bagus juga" Gumam Rea, ia tersenyum menatap hasil gambarnya.


Tiba-tiba pundak Rea di tepuk oleh seseorang, sontak ia pun melihat kebelakang.


"Ngagetin tau ga!!" Ketus Rea, ternyata orang itu adalah Nathan.


Nathan tersenyum, lalu ia memberikan plastik berisikan cemilan yang tadi ia ambil.


"Wuih, tau aja kalo gue lagi mau ngemil" Ucap Rea, ia buru-buru mengambilnya.


Nathan pun duduk di sebelah Rea. "Harusnya tadi di bawa" Ujar Nathan.


Rea mengangguk. "Mau minum?" Tawar Rea, ia memberikan satu botol minuman rasa jeruk kepada Nathan.


"Makasih" Jawab Nathan, ia mengambil minuman tersebut dari tangan Rea.


"Ga usah makasih, ini kan lo yang beli"


"Ucapan makasih itu penting, ga peduli tentang apapun, tapi sayangnya, orang-orang selalu menyepelekan hal itu" Jawab Nathan, matanya melihat kepada danau di depannya. Ia pun seraya membuka tutup botol tersebut lalu meminumnya. Rea hanya diam saja menatap Nathan.


"Sejahat-jahatnya gue, gue ga akan lupa tiga kata ini. Maaf, tolong, terima kasih" Lanjut Nathan. Rea menjadi tertampar mendengar penuturan Nathan.


"Rea, gue pengen, lo jadi orang yang baik, gue pengen, elo jadi orang yang ngerti tentang sopan santun" Ujar Nathan, kini, ia mulai menatap wajah Rea dengan sangat lekat.


"Lo tau kenapa?" Tanya Nathan, Rea menggeleng sebagai jawabannya.


"Agar kelak, anak gue bisa jadi orang yang baik, bisa jadi orang yang ngerti tentang sopan santun. Anak gue harus lebih baik dari gue" Lanjut Nathan. Rea tertegun mendengarnya.


"Lo pengen cepet-cepet punya anak ya?" Ceplos Rea.


Nathan terkekeh geli mendengarnya. "Kalo masalah anak, itu tergantung yang di atas. Gue ga bakal maksa untuk cepet punya anak" Jawab Nathan.


"Gue mau nanya satu hal boleh?" Tanya Rea dengan serius.


"Apa?"


"Jadi.. setiap pernikahan, pasti akan ada malam pertama.. emmm gue.." Rea menggantungkan ucapannya, sejujurnya ia sangat malu menanyakan tentang ini.


Nathan terkekeh. "Gue tau pertanyaan lo, gue ga bakal maksa lo untuk malam pertama, because.. lo masih bocil, harusnya lo belajar yang bener, jadi gue ga bakal ngapa-ngapain lo, lo ga usah takut" Ujar Nathan.


"Apa sih!! gue udah besar ya!" Ketus Rea.


"Terus mentang-mentang lo udah besar, lo mau hamil di saat lo masih sekolah? gue ga mau ya, anak gue jadi bego gara-gara lo" Jawab Nathan kesal.


"Engga-engga, ya kali gue mau hamil pas gue masih sekolah, gue ga mau ya!" Jawab Rea


"Lo harus jadi anak pinter" Ucap Nathan, ia mengacak rambut Rea dengan gemas.


"Ihh berantakan nih jadinya!!!" Ketus Rea kesal, ia merapikan rambutnya yang di acak oleh Nathan.


"Hahaa, lo lucu" Ucap Nathan tertawa kecil.


/Blushh..


Pipi Rea di buat merah karenanya.


"Apa sih!!!" Rea menjadi malu mendengarnya.


"Pipi lo merah tuh" Goda Nathan seraya mencubit pipi Rea yang memerah.


"Nathan" Jerit Rea kesal


"Hahahahahaaa"

__ADS_1


__ADS_2