MARRIED TO MAFIA (Smbil Aku Revisi Sedikit Ya)

MARRIED TO MAFIA (Smbil Aku Revisi Sedikit Ya)
(24) SIAPA YANG MELAKUKAN INI?


__ADS_3

...HAPPY READING❤️...


Hari sudah sangat sore, namun Rea tak kunjung ditemukan.


"Om, aku sama Geo pulang dulu ya, maaf tidak bisa ikut bantu cari Rea" Ucap Vania. Sejak tadi, ia sangat memperhatikan Geo. Geo terlihat sangat lelah, bibirnya sudah sangat pucat.


"Ekhem" Dehaman Nathan membuat Vania langsung meralat panggilannya.


"Maksudnya Kak" Ucap Vania.


"Van, aku ga apa-apa kok" Sahut Geo dengan nada lemas.


"Ga apa-apa gimana, kamu kelihatan lemas sekali!" Ketus Vania.


Geo pun hanya bisa pasrah.


"Ya sudah, saya bisa cari Rea sendiri" Ucap Nathan.


"Terimakasih, Kak" Jawab Vania dengan senyumannya. Kemudian Vania menarik Geo untuk keluar dari pekarangan sekolah.


Nathan pun pergi mencari Rea kembali. Seluruh tempat sudah ia cari, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan Rea.


Sepertinya ada satu tempat yang belum ia datangi..


"Toilet?" Gumam Nathan. Tanpa banyak basa-basi, ia pun pergi ke toilet sekolah. Toilet yang belum ia datangi hanya ada sat, yaitu toilet yang sudah di beri selembar kertas bertuliskan 'Sedang dalam masa perbaikan'.


Nathan meratapi pintu toilet, lalu tanpa banyak basa-basi lagi, ia mendobrak pintu toilet tersebut.


Brakkk..


"REA?!!!!!" Betapa terkejutnya Nathan, ketika ia mendapati Rea yang sedang terbaring lemas dengan keadaan wajah yang terdapat beberapa bercak darah.


Nathan pun buru-buru menggendong Rea ala bridal style.


"Apa yang terjadi denganmu, sayang" Batin Nathan dengan khawatir sembari menggendongnya menuju ke mobil.


Setelah sampai di mobil, dengan cepat, Nathan menaruh Rea duduk di kursi depan. Setelah itu, ia menutup pintu mobil dan masuk ke dalam pintu sebelah kanan.


Nathan menatapi wajah Rea yang terlihat sangat pucat.


"Ada apa denganmu? Sebentar lagi kita akan menikah, apakah akan baik-baik saja?" Batin Nathan dengan sangat khawatir.


Dengan cepat, Nathan mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan yang penuh menuju rumah sakit.


...----------------...


Rumah sakit tampak ramai dengan pasien-pasien yang berada didalamnya.


Nathan berteriak meminta pertolongan kepada para suster dan dokter, namun tak ada yang menggubrisnya.


"RUMAH SAKIT MACAM APA INI?!! CALON ISTRI SAYA SEDANG SAKIT!!!!"


Tiba-tiba datanglah seorang dokter bersama para suster membawakan brankar untuk Rea.


Dengan cepat, Nathan langsung menaruh Rea di atas ranjang tersebut.

__ADS_1


"Cepat!" Titah Nathan. Keringatnya sangat bercucuran. Ia panik, ia takut sesuatu hal terjadi kepada Rea.


Semuanya mengangguk, setelah itu, dengan cepat mereka membawa Rea untuk di periksa.


...----------------...


"Gimana?" Tanya Nathan dengan to the point.


"Hanya memiliki beberapa luka ringan, tidak perlu khawatir" Jawab dokter Herman.


"Lalu kenapa calon istri saya masih belum membuka matanya?!!" Tanya Nathan dengan nada ketus.


"Itu hal wajar, sebentar lagi pasti akan sadar" Jawab dokter Herman dengan tersenyum tipis.


Nathan menghela nafas berat. "Baiklah.."


"Kalau gitu saya akan pergi dulu, kalau butuh apa-apa, bisa pencet bel yang di sebelah sini" Ucap dokter Herman.


Nathan mengangguk. Tatapannya melihat kearah Rea yang sedang terbaring lemah.


Dokter Herman pun pergi meninggalkan Nathan yang sedang memikirkan sesuatu hal.


"Siapa yang lakuin ini?" Tanya Nathan bergumam.


Nathan mengusap rambut Rea dengan penuh sayang.


"Siapapun yang ngelakuin itu, akan saya kasih pelajaran" Ucap Nathan dengan tersenyum miring.


Selang beberapa menit, Rea pun tersadar.


Perlahan, Rea membuka matanya. Ia melihat ke arah sekeliling.


Rea tersenyum tipis menatapnya.


Nathan pun terbangun dari tidurnya. Saat melihat Rea telah sadar, dengan cepat ia berjalan ke arah Rea.


"Akhirnya kamu bangun juga" Ucap Nathan dengan lega.


"Ada yang sakit?" Tanya Nathan.


"Pusing" Jawab Rea seraya memegang kepalanya.


"Siapa yang melakukan ini?"


Rea terdiam, ia mulai mengingat kejadian yang menimpanya.


"Denia.." Lirih Rea.


"Denia?" Tanya Nathan. Nama yang sangat asing. Siapa orang itu?


"Tidak, bukan siapa-siapa"


"Rea, saya mohon, beritahu saya" Ucap Nathan. Ia ingin sekali menghabisi orang yang telah melukai calon istrinya.


"Aku lapar"

__ADS_1


"Rea, jangan mengganti topik pembicaraan, saya sedang serius" Jawab Nathan. Apa yang dipikirkan oleh Rea?


"Aku lapar" Ucap Rea bersikeras. Ia tidak ingin membahas hal itu.


"Oke fine, saya ambil makanan dulu, tunggu disini" Ujar Nathan. Nathan mulai pergi keluar dari ruangan.


"Kalo kamu tidak ingin beritahu saya, biarkan saya mencari tahu sendiri"


...----------------...


"Suapin" Ucap Rea sambil mengerucutkan bibirnya.


"Makan sendiri" Jawab Nathan.


"Jahat!" Ketus Rea. Lalu ia mengambil sendok agar ia memakannya sendiri.


Pintu ruangan terbuka, menunjukkan sosok dua wanita paruh baya, dan satu pria yang masih terlihat muda.


"Mama, Abang" Ucap Rea dengan sedikit terkejut melihat kedatangan Geisha dan Genta.


Geisha dan Genta berjalan menghampiri Rea. "Kok kamu bisa seperti ini?" Tanya Geisha dengan nada khawatir.


"Rea juga nggak tahu" Jawab Rea.


"Nathan" Panggil Fella. Tatapan mata Fella mengisyaratkan agar Nathan menjelaskan semuanya.


"Nathan hanya jemput Rea, lalu kata teman-temannya, Rea menghilang" Ucap Nathan.


"Adik Abang nggak kenapa-napa, kan?" Tanya Genta sembari mengusap rambut Rea yang sedang berbaring di brankar.


"Nggak apa-apa, kok" Jawab Rea dengan tersenyum tipis.


Nathan menatap ke arah Rea. "Tadi Rea bilang, dia pusing" Adu Nathan dengan terkekeh kecil.


"Tuh kan" Genta mulai menajamkan tatapannya kepada Rea.


"Nggak usah ngadu deh" Rea sangat kesal kepada Nathan yang memberitahukan hal itu kepada Genta.


"Kenyataan" Jawab Nathan santai.


"Sekarang kan sudah ada Tante, Genta dan Bunda, kalau gitu saya pergi dulu" Ucap Nathan pamit.


"Mau kemana, Than?" Tanya Fella.


"Kantor, ada meeting dadakan" Jawab Nathan.


"Hati-hati ya" Peringat Geisha.


Nathan mengangguk. "Saya permisi dulu".


"Cepat sembuh, sayang" Ucap Nathan seraya mengecup kening Rea singkat.


Rea hanya terdiam dengan perasaan yang menggebu-gebu.


"Saya pergi dulu" Ucap Nathan lalu keluar dari ruangan.

__ADS_1


Semuanya mengangguk.


"Saya harus cepat-cepat mencari tahu siapa pelakunya" .


__ADS_2