
...HAPPY READING-!!❤️...
Hari sudah menjelang malam, Rea dan Nathan bergegas untuk pulang.
Saat di perjalanan pulang, Rea tertidur di mobil, sementara Nathan sibuk menyetir. Nathan menatap ke arah Rea yang sudah tertidur dengan pulas. Ia pun mengulas senyum tipis.
"Tidur yang nyenyak ya, sayang" Ucap Nathan, ia mengusap rambut Rea dengan tangan kirinya. Kemudian ia kembali fokus menyetir.
Namun tak di sangka, jalanan sangat macet. Banyak sekali pengendara mobil dan motor yang melintas, sehingga membuat jalanan menjadi padat.
Nathan khawatir, ia takut jika Rea akan terbangun karena suara klakson kendaraan.
"Lama banget" Gumam Nathan, ia mulai kesal karena padatnya jalanan di malam hari ini.
Nathan pun berniat untuk menurunkan kaca mobil.
Tinnn tinnn..
Mobil belakang selalu memencet klakson, tentu saja hal itu membuat Nathan sangat risih.
Tinnn tinn..
Nathan sudah mulai geram dengan mobil belakang. Lalu ia pun turun dari mobil dan menghampiri mobil tersebut.
Tok tok tok..
Nathan mulai mengetuk kaca mobil, kaca mobil tersebut pun di turunkan.
"Woi, anda buta atau gimana?! jalanan di depan masih macet, tidak perlu tekan klakson terus menerus!! kalau calon istri saya terbangun, anda akan mati di tangan saya" Ucap Nathan dengan tatapan tajamnya, kemudian ia kembali ke mobilnya.
Sedangkan orang yang berada di dalam mobil hanya terdiam mencerna ucapan Nathan barusan.
Nathan menutup pintu mobilnya kembali dengan emosi yang masih menggebu-gebu.
Eunghhh..
Rea menggeliat di kursi mobilnya. Nathan segera melihat Rea.
"Tidur lagi, masih lama" Ucap Nathan melembut seraya mengelus rambut Rea.
Mata Rea mulai mengerjap. "Laper" Ujar Rea seraya memegang perutnya.
"Laper? Ya udah, gue cari tempat makan dulu ya" Jawab Nathan, Rea pun mengangguk.
Setelah di rasa kendaraan sudah mulai bisa melaju, Nathan pun mulai melajukannya.
Nathan menghentikan mobilnya di dekat stand pecel lele.
"Makan disini mau?" Tanya Nathan.
Rea mengangguk. "Yang penting gue bisa kenyang" Jawab Rea, lalu ia turun dari mobil Nathan.
Nathan pun ikut turun dari mobilnya, ia menyusul Rea.
Rea duduk di salah satu kursi, diikuti oleh Nathan.
"Lo mau apa?" Tanya Nathan.
"Ayam goreng aja deh pakai cah kangkung, minumnya es teh" Jawab Rea
"Udah malem, teh hangat saja ya?" Tawar Nathan
Rea menggeleng. "Ga mau, maunya es teh"
Nathan menghela nafas berat.
"Mas" Panggil Nathan seraya mengangkat tangan kanannya.
Mas-mas pecel lele pun berjalan ke arah mereka. "Ingin pesan apa?"
"Ayam gorengnya dua, cah kangkung satu, es teh satu dan teh hangatnya satu" Ucap Nathan.
"Baik, tunggu sebentar ya" Ucap mas-mas tersebut lalu berjalan pergi dari meja mereka.
"Lo beneran ga masalah kan, kalo kita makan disini?" Tanya Nathan hati-hati, pasalnya sedari tadi ia tidak menemukan restoran di dekat sini.
"Ya ga apa-apa lah, emangnya kenapa kalo makan disini? justru makan di tempat gini tuh biasanya enak-enak!" Ujar Rea tersenyum manis.
"Ga salah gue nerima perjodohan ini" Batin Nathan.
"Yaa, gue kira lo ga bakal suka makan di tempat kayak gini" Ucap Nathan
"Gue bukan tipikal cewe yang kayak gitu, ga usah di samain" Jawab Rea mulai malas.
Nathan tersenyum, lalu ia memajukan tubuhnya untuk mengusap rambut Rea.
"Apaan sih usap usap? Lo pikir gue lampu ajaib, hah?!!" Ketus Rea
"Iya, nanti di kepala lo bakal muncul jin yang bisa kabulkan tiga permintaan" Jawab Nathan melantur.
"Kalo salah satu permintaan itu gue minta buat nambahin permintaannya lagi jadi sepuluh, bakalan di kabulkan, ga?" Tanya Rea ikutan melantur.
Nathan mulai berpikir. "Kalo jin nya itu gue, pasti bakal gue kabulkan" Jawab Nathan.
__ADS_1
"Oh ya?? jadi sebenarnya lo itu jin dari lampu ajaib??" Tanya Rea dengan polos.
"Iya, khusus buat lo, kalo buat yang lain, gue ga mau jadi jin" Jawab Nathan.
"Kenapa khusus buat gue? kalo ada yang berhasil nemuin lampu ajaib lo gimana? masa lo ga mau kabulkan permintaan dari tuan lo yang nemuin lampunya" Ucap Rea bertanya-tanya.
"Karena.." Nathan menggantungkan ucapannya, ia mulai memegang kedua tangan Rea. Sontak hal itu membuat Rea terkejut bukan main.
"Karena lo adalah tuan gue sebenarnya, lo tuan rumah di hati gue" Ucap Nathan mulai menatapnya dengan serius.
Jantung Rea mulai berdetak tak karuan. "Ya tuhan, gue kenapa?!!" Batin Rea menjerit.
Mata mereka masih menatap satu sama lain tanpa berkedip sama sekali.
Lalu..
"Ini pesanannya"
Mereka pun langsung tersadar akan yang terjadi, tangan Rea yang tadi di pegang oleh Nathan, sudah di lepas kembali.
"Ck, ganggu aja!" Batin Nathan kesal.
"Makasih mas" Ucap Rea tersenyum tipis.
"Sama-sama" Jawab mas-mas itu, lalu pergi dari meja mereka.
"Ga usah senyum kayak gitu" Sahut Nathan memutar bola matanya malas.
"Kan biar sopan" Jawab Rea, lalu ia mengambil nasi miliknya.
"Ini air lemon buat apa?" Tanya Nathan menatap mangkuk kecil berisikan air dan lemon yang sudah di potong.
"Itu buat cuci tangan, lo kuno banget sih" Jawab Rea.
Mendengar itu, Nathan menjadi malu sendiri karena tidak tahu.
"G-gua tau, gue cuma ngetes lo aja, kali aja lo ga tau" Ucap Nathan mencari alasan.
"Terserah deh, gue laper" Jawab Rea, perutnya sudah tidak bisa di tahan lagi.
"Ya udah"
Rea dan Nathan pun mulai menyantap makanan mereka. Dengan bulan yang menjadi saksi pembicaraan mereka.
Malam semakin larut. Bahkan warung pecel lele sudah hampir tutup. Mereka baru saja selesai makan.
"Ayo pulang" Ajak Rea.
Nathan mengangguk, kemudian ia pergi untuk membayar.
"Lain kali kita makan di pecel lele lagi yu!" Ajak Rea
Nathan mengangguk. "anything for you" Jawab Nathan. Lalu Nathan pun mulai menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah Rea.
...----------------...
Akhirnya mereka pun sampai di rumah Rea dengan selamat.
Rea segera turun dari mobil diikuti oleh Nathan.
"Makasih ya udah ajak gue jalan" Ucap Rea dengan tulus, meskipun awalnya ia kesal dengan Nathan. Tapi ya sudahlah, ternyata seru juga.
"Iya, sana masuk, inget, besok jangan bolos lagi" Peringat Nathan.
"Iya" Jawab Rea malas.
"Gue masuk dulu ya, hati-hati di jalan" Ucap Rea.
Nathan mengangguk, kemudian Rea mulai berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Setelah di rasa Rea sudah masuk ke dalam rumah, Nathan pun mulai masuk ke dalam mobilnya.
"Gue jadi pengen cepet-cepet nikahin" Batin Nathan tidak sabar.
...----------------...
Saat pagi hari, Rea menjadi bersemangat untuk sekolah. Ia sudah bangun dari awal sebelum jam weker nya berbunyi.
Rea buru-buru pergi ke dapur untuk membuat roti panggang.
"Tumben bangun duluan, biasanya harus di bangunin dulu" Ucap Geisha berjalan menghampiri Rea.
Sontak Rea pun melihat ke belakang. "Ga usah bilang tumben, nanti Rea jadi males lagi buat bangun pagi" Jawab Rea malas.
"Hahaaa, iya dehh" Ucap Geisha terkekeh
"Ada apa ini?" Tanya Genta, ia baru saja datang.
"Ini, tumben banget adek kamu bangun pagi" Jawab Geisha
"Tuh kan, tumben lagi" Sahut Rea kesal.
"Hahaa, iya-yaa, ada apa ini, kok bisa bangun pagi gini?" Tanya Genta dengan penasaran.
__ADS_1
"Ada dehh!! kepo banget abang" Jawab Rea bercanda.
"Kan abang cuma penasaran, sayang" Ucap Genta
"Udah-udah, kalian duduk aja, Rea akan membuatkan roti panggang yang paling enak khusus untuk bang Genta dan mama" Titah Rea.
"Oke deh" Jawab Genta, lalu ia pun duduk.
"Bikin yang enak ya, Rea" Sahut Geisha
"Siap" Jawab Rea mengacungkan jempolnya.
...----------------...
Pagi ini masi pukul 06:30. Dengan semangat, Rea masuk ke dalam kelasnya.
"PAGI GUYS!!!" Sapa Rea dengan hati yang gembira. Di sana sudah ada Vania tentunya.
"Pagi, lo kenapa kemaren ga masuk? chat gue ga di bales" Ucap Vania dengan malas.
Rea pun berjalan menuju tempat duduknya di samping Vania.
"Yaa sorry, gue kemaren lagi males banget buat sekolah" Jawab Rea dengan cengengesan.
"Males? Lo tau ga sih?!! kemaren gue pusing banget denger ocehan bu Surti!!" Ucap Vania kesal.
"Yaa itu sih derita lo" Jawab Rea mengejek.
"Awas lo, gue ga akan kasih contekan matematika lagi ke elo" Ancam Vania.
"E-ehh ututututuuu bestie gue ngambek ni yee" Bujuk Rea seraya mencubit pipi Vania.
"Lepasin!!" Ketus Vania, ia sudah terlanjur kesal dengan Rea.
"Yaah, lo mah ngambekan, gue kan cuma bercanda, Vania sayang" Ucap Rea. Ia sangat panik, jika Vania benar-benar tidak ingin memberinya contekan matematika lagi, bagaimana nasibnya nanti?!
"Ya" Jawab Vania cuek.
"Jangan cuek-cuek lah sayang" Ucap Rea memegang dagu Vania.
"Apa sih, geli anjir" Jawab Vania agak jijik dengan perlakuan Rea.
"Hahahaaa, gue juga ikutan geli" Ucap Rea tertawa.
...----------------...
Jam istirahat telah tiba. Biasanya Rea dan Vania akan pergi ke kantin bersama, namun kali ini tidak. Mereka lebih memilih untuk makan di kelas saja karena mereka membawa bekal.
"Lo bawa apa, Van?" Tanya Rea seraya membuka kotak bekalnya.
"Gue bawa ikan goreng kesukaan gue, kalo lo apa?"
"Gue bawa roti panggang buatan gue" Jawab Rea, ia menunjukkan roti panggang buatannya.
"Bagi satu lah"
"Ambil ambil, gue sengaja bawa banyak, soalnya gue tau, lo pasti bakalan minta" Ucap Rea
"Hehee tau ajaa"
"Wuih, lagi pada makan apa nih??" Tanya Geo yang tiba-tiba saja datang ntah darimana.
"Njir, ngagetin aja lo" Ucap Rea mengusap-usap dadanya.
"Hehee sorry" Jawab Geo cengengesan.
"Kita lagi makan roti" Sahut Vania.
"Bagi dong!!" Ucap Geo kepada Vania.
"Ini rotinya Rea, minta aja sono sama dia" Jawab Vania menunjuk Rea dengan dagunya.
"Aza, gue bagi rotinya" Ucap Geo dengan melembutkan suaranya.
"Dih, siape lo" Jawab Rea malas.
"Gue kan temen lo juga Za" Ucap Geo memelas.
"Idih najis banget" Jawab Rea.
"Ayolahh, Azalia" Ucap Geo semakin memelas.
"Ya udah nih ambil" Jawab Rea pasrah.
Dengan semangat, Geo pun mengambilnya.
"Rejeki anak sholeh" Ucap Geo, lalu ia menggigit rotinya.
"Emmm enak banget" Gumam Geo.
"Iya lah buatan siapa dulu gitu loh" Ucap Rea dengan percaya diri.
"Iya deh iyaa buatan lo" Jawab Geo malas.
__ADS_1
"Nah tu tau" Ucap Rea tersenyum.
Sementara Vania hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka berdua.