
...HAPPY READING-!!❤️...
Rea berputar-putar di depan cermin. Ia melihat betapa cantiknya ia mengenakan gaun pengantin di tambah aksesoris mahkota di atasnya.
Nathan terpesona melihat kecantikan Rea. Wajah Rea yang hanya di olesi make up setipis mungkin membuat Rea cantik natural. Rea memang sudah cantik tanpa menggunakan make up, namun dirinya selalu merasa kurang jika tidak menggunakan make up.
"Kamu sudah yakin dengan pilihan gaun kamu?" Tanya Fella
Rea mengangguk. "Rea sudah suka dengan gaunnya" Jawab Rea.
"Baiklah, kalau begitu ganti bajunya, gaunnya akan di persiapkan untuk acara pernikahan kamu" Ujar Fella yang di anggukan oleh Rea.
Rea pun pergi ke ruang ganti untuk berganti baju.
"Bunda" Panggil Nathan.
Fella pun menoleh ke sumber suara. "Kenapa?" Tanya Fella.
"Untuk prewedding.. bagusnya gimana?"
Fella terdiam, ia berpikir sejenak..
"Kamu ingin membeli gaun lagi untuk prewedding?" Tanya Fella.
"Pernikahan itu sakral, sekali seumur hidup, dan Nathan mau, di rumah Nathan harus ada foto Nathan dengan pasangan Nathan dengan pakaian yang berbeda-beda" Jawab Nathan
Fella mengangguk. "Bunda ngerti, tapi kalau cari sekarang, kasihan Rea, dia pasti kecapekan, bagaimana kalau carinya dua hari sebelum foto prewedding?" Usul Fella.
"Ya sudah, Nathan ikutin saran bunda aja" Jawab Nathan
Setelah itu Nathan pun berganti pakaian seperti semula.
Selang beberapa menit..
"Laper" Cicit Rea
"Ayo cari makan" Ajak Nathan
"Ayo-"
"Mau makan sama abang?" Ajak Genta yang tiba-tiba saja datang.
"Ma-"
"Rea ingin makan dengan saya" Potong Nathan
"Rea inginnya makan dengan saya" Sahut Genta menajamkan tatapannya.
"Dengan saya" Jawab Nathan tak mau kalah.
__ADS_1
"Saya"
"Dengan saya"
"Saya"
"Saya"
"Sudah!!!! Biar Rea makan sendiri saja!!" Putus Rea kemudian melenggang pergi dari sana.
"Gara-gara anda, adik saja jadi pergi" Ucap Genta kesal.
"Yang pertama kali ajakin Rea makan siapa? saya kan? kenapa jadi saya yang di salahkan?" Jawab Nathan
Genta melenggang pergi tanpa sepatah kata apapun lagi.
"Huffttt, untung saja dia abangnya calon istri saya, kalau tidak, sudah saya bunuh habis-habisan" Gumam Nathan dengan geram.
Nathan pun melenggang pergi dari sana menyusul Rea.
...----------------...
"Kita mau makan dimana?" Tanya Genta seraya berjalan mengikuti langkah Rea.
"Tadi Rea liat ada warteg didekat sini, sepertinya Rea akan makan di warteg itu saja" Jawab Rea dengan celingak-celinguk mencari keberadaan warteg yang ia temui tadi.
Dan benar saja, warteg berada di ujung seberang jalan.
"Ya sudah, ayo" Jawab Genta menggandeng tangan Rea.
"Tunggu saya!!" Teriak Nathan dengan nafas yang tersengal-sengal.
Sontak, Rea dan Genta pun menoleh secara bersamaan ke arah belakang.
"Anda ngapain ikutin saya?!" Tanya Genta dengan kesal.
"Saya tidak ikutin anda, saya hanya ikutin calon istri saya" Jawab Nathan dengan menajamkan tatapannya.
"Terserah" Ucap Genta, akhirnya ia pasrah dengan Nathan.
"Sudah-sudah, tidak usah berkelahi, aku hanya ingin makan" Sahut Rea, ia melerai keduanya, setelah itu ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan keduanya.
Sedangkan keduanya saling menajamkan tatapannya satu sama lain.
Setelah itu Genta dan Nathan pun mengikuti Rea yang sedang berjalan menuju warteg.
Sesampainya di warteg..
"Rea, kamu yakin ingin makan disini? lebih baik kamu makan di restoran dengan saya" Ucap Nathan. Sejujurnya Nathan ingin sekali menghabiskan banyak waktu bersamanya dibandingkan bersama kakak kandungnya.
__ADS_1
"Stttt, diam" Jawab Rea dengan sedikit risih.
Nathan pun terdiam dengan ucapan Rea.
"Mbak, saya mau pesan telor dadarnya satu, ditambah sayur sopnya ya, minumannya es teh" Ucap Rea seraya melihat-lihat makanan yang sudah terpajang dibalik etalase.
"Kalau saya pesan ayam goreng, ditambah sayur sop"
Rea menoleh ke sumber suara. Ternyata itu adalah Genta.
"Saya samain dengan dia ya" Ucap Nathan seraya menunjuk Rea.
"Baik, kalau begitu saya ambilkan dulu" Jawab mba warteg tersebut.
Rea pun duduk di ikuti oleh Genta dan Nathan. Mereka duduk di kanan kiri Rea.
Rea sedang fokus menatap mba warteg yang sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
"Mas-masnya ingin minum apa?"
"Saya es teh saja" Jawab Genta
"Saya juga" Sahut Nathan
"Oke siap"
Setelah pesanan mereka siap..
"Monggo dimakan" Ucap mba warteg
Rea mengangguk seraya menampilkan senyum manisnya dengan sopan.
"Makasih" Jawab Genta dengan tersenyum tipis.
"Sama-sama"
Setelah itu, mereka pun mulai menyantap makanannya.
"Ini hanya sebuah telur dadar, namun mengapa rasanya sangat enak?!" Batin Nathan dengan kagum. Sepertinya telur dadar dengan campuran sayur sop, akan menjadi makanan favoritnya.
"Kenapa? enak ya? sudah aku bilang, makanan yang berada di pinggir jalan itu enak, apalagi di warteg, itu lebih nikmat di bandingkan makanan yang berada di restoran" Ucap Rea seraya memakan makanannya.
"Ga, rasanya biasa aja" Jawab Nathan. Ia berusaha untuk tetap terlihat cool dimata Rea.
"Halah, tidak usah berbohong, aku tahu itu" Ucap Rea dengan menahan tawanya.
"Tidak usah sok tahu" Jawab Nathan
"Hahaa, baiklah, nikmatilah makananmu" Ucap Rea dengan terkekeh geli.
__ADS_1
Sementara Genta hanya diam saja melihat interaksi Rea dengan Nathan. Sejujurnya Genta sangat sedih, ia tidak ingin di tinggal menikah oleh Rea. Namun apa boleh buat, semua sudah hampir terjadi.