
...HAPPY READING-!!❤️...
Di hari yang cerah ini, sekolah Rea sedang mengadakan acara kerja bakti sosial. Seluruh peserta didik wajib mengikutinya, termasuk Rea.
Dengan sangat tidak bersemangat, Rea melakukan kerja bakti berupa menyapu halaman, dan menanam tanaman.
Saat ini Rea sedang menanam tanaman di belakang sekolah bersama dengan Vania dan Geo.
"Ini kapan selesainya?" Tanya Rea. Ia sudah mulai mengeluh karena mengerjakan hal ini. Ia tidak biasa melakukan hal seperti ini. Biasanya, ia di rumah hanya santai dengan bermain handphone di kamarnya.
"Kerjakan saja, Rea" Jawab Vania. Ia sudah lelah mendengar ocehan Rea yang tidak tahu akan berlanjut sampai kapan.
"Aku capek, Vania" Tidak tahu sudah ke berapa kalinya Rea berkata seperti itu. Bahkan telinga Vania sudah hampir patah mendengarnya.
"Istirahat dulu saja, Rea, biar bagianmu, aku yang kerjakan sementara" Sahut Geo. Jangan di tanya, Geo juga sudah lelah mendengar ocehan Rea.
"Wuih, serius?" Mata Rea langsung berbinar-binar mendengarnya.
Geo mengangguk. "Tapi sementara saja lho ya, setelah itu lanjutkan kembali" Peringat Geo.
"Oke siap, terimakasih Damian" Ucap Rea dengan senyuman tipisnya. Ah, Geo sangat perhatian.
"Ya"
"Jangan gitu, Geo, nanti anak ini jadi kebiasaan" Ucap Vania memperingatkan.
"Ga apa-apa, aku capek dengar ocehan temanmu terus" Jawab Geo dengan jujur. Lebih baik ia lelah karena pekerjaan, daripada lelah karena ocehan Rea.
Vania menghembuskan nafas berat. "Habis ini, tidak usah bantu dia lagi" Ucap Vania
Geo mengangguk.
Rea pun mulai menggeser posisi, lalu Geo mulai mengerjakan pekerjaan yang seharusnya di kerjakan oleh Rea.
"Semangat Damian, aku mau ke kantin dulu, hehe" Ucap Rea dengan cengengesan.
"Aku nitip es teh botol" Sahut Vania.
"Oke siap, Damian ingin menitip pesanan, tidak?" Tawar Rea. Kasihan juga jika Geo bekerja menggantikannya namun tidak mendapatkan apa-apa.
"Sama kan saja pesanan ku dengan Vania" Ucap Geo seraya mengelap keringatnya.
"Oke deh" Jawab Rea. Kemudian ia segera pergi menuju kantin.
Selang beberapa menit, sudah hampir semua tanaman tertata dengan rapih. Hal itu membuat Geo merasa bangga.
Namun, ada yang janggal..
Mengapa Rea belum kembali??
"Van, Rea masih belum kesini?" Tanya Geo. Meskipun ini di area sekolah, ia tetap saja khawatir dengan Rea.
"Belum nih, kemana ya dia?" Jawab Vania. Ia juga ikut bingung karena Rea tak kunjung datang.
__ADS_1
"Coba kamu susul dia" Saran Vania.
"Kamu saja, aku malas jalan" Ucap Geo
"Ck, kamu hanya tinggal mencarinya di kantin, cepat cari" Jawab Vania dengan raut wajah kesal.
Geo menghela nafas berat. "Ya sudah, aku pergi cari dulu, kalau Rea sudah kembali, hubungi aku" Ucap Geo dengan pasrah.
"Oke siap" Jawab Vania. Ia mengacungkan kedua ibu jarinya.
Setelah itu, Geo pun pergi menuju kantin untuk mencari keberadaan Rea.
Sesampainya di kantin, Geo menoleh ke arah kanan dan kiri, namun ia tidak menemukan keberadaan Rea.
"Kamu lihat, Rea?" Tanya Geo kepada salah satu siswa yang sedang memesan minuman.
Siswa tersebut menggeleng. Kemudian Geo terus mencari Rea.
"Apa mungkin di toilet?" Batin Geo
Tanpa banyak basa-basi, Geo segera berlari menuju toilet.
Setelah berada di toilet, ia mengecek satu-satu pintu toilet. Namun hasilnya nihil, tidak ada Rea di dalamnya.
"Dimana dia?" Gumam Geo. Hatinya sudah bercampur aduk. Ia khawatir, gelisah, ia takut Rea terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan
Geo pun berniat untuk kembali ke belakang sekolah. Mungkin saja Rea sudah kembali.
Namun saat ia berada di belakang sekolah, Rea belum juga kelihatan batang hidungnya. Geo celingak-celinguk mencari keberadaan Rea. Tidak ada.
Geo menggeleng. "Aku sudah cari ke seluruh penjuru sekolah, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Rea" Ucap Geo. Geo terlihat sangat lemas sekali.
"Kamu istirahat dulu saja, biar aku yang mencari Rea" Ujar Vania. Ia kasihan kepada Geo karena Geo terlihat sangat kelelahan.
Geo menggeleng. "Tidak usah, aku saja yang cari" Cegah Geo.
"Geo, bisakah kamu menurut sedikit saja, kepadaku?" Ucap Vania. Geo sangat keras kepala.
"Aku kuat mencari Rea, lagipula aku ini lelaki, bukannya sudah seharusnya?" Jawab Geo.
"Terserah mu saja, tapi jika kamu sudah lelah, jangan lupa beristirahat sejenak" Ujar Vania. Vania pergi meninggalkan Geo sendirian.
Sementara Geo kembali pergi mencari keberadaan Rea.
Sudah hampir 2 jam mereka mencari keberadaan Rea, namun Rea belum juga ketemu.
"Rea sudah ketemu?" Tanya Geo sembari mengelap keringatnya yang sedari tadi bercucuran.
Vania menggeleng. "Kamu istirahat dulu saja, wajahmu sudah mulai pucat" Ucap Vania. Bibir Geo sudah mulai terlihat pucat. Sorot matanya pun sudah seperti melemah.
"Nggak, aku masih harus cari Rea," Jawab Geo dengan penuh keyakinan.
"Aku nggak bisa biarin kamu lemas seperti ini, Geo" Ucap Vania seraya memegang kedua pipi Geo.
__ADS_1
"Percaya sama aku, aku nggak apa-apa" Jawab Geo dengan tersenyum tipis.
Vania pun akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan Geo untuk mencari Rea.
Mereka terus mencari sampai akhirnya sudah waktunya pulang.
"Geo, pulang saja yuk? Mungkin saja Rea pulang duluan" Ajak Vania. Vania masih khawatir dengan kondisi Geo yang sangat tidak memungkinkan.
Pada akhirnya Geo pasrah dan berniat untuk pulang bersama Vania. Namun saat ingin keluar gerbang, Vania di hampiri oleh seorang lelaki berusia 26 tahun dengan tubuh yang tegap dan jas abu-abu yang di pegang olehnya.
"Kamu temannya Rea?" Tanya lelaki itu.
Vania menatap lelaki tersebut dari atas hingga bawah. Ternyata lelaki tersebut adalah Nathan, calon suami Rea.
"Iya, kenapa, ya?" Jawab Vania kembali bertanya.
"Apa kamu lihat Rea?" Tanya Nathan. Yang Nathan tahu, Rea selalu keluar kelas bersama temannya, Vania.
"Nggak lihat, dari tadi kita sudah cari-cari Rea, tapi tidak ketemu, aku pikir, Rea sudah pulang" Jawab Vania. Ia makin kebingungan.
Nathan terkejut. Ia mulai mengira-ngira. Apakah gadis itu bolos? Tapi tidak mungkin Rea membolos.
"Sudah di telepon?" Tanya Nathan. Ia menjadi khawatir.
"Handphonenya mati" Sahut Geo.
"Sebentar, saya coba telepon mamanya," Ucap Nathan. Lalu Nathan buru-buru membuka handphone dan mencari nomor Geisha. Kemudian Nathan menekannya.
Telepon Nathan pun di angkat oleh Geisha.
"Halo?"
"Halo Tan, Rea sudah di rumah?"
"Rea? Belum tuh, memangnya Rea kenapa? Bukannya kamu lagi jemput Rea?"
"Ooo gitu ya Tan, ya sudah kalau gitu, Nathan matikan ya"
"Eh, jawab dulu, Rea kenapa??"
Tuttt..
Nathan buru-buru mematikan panggilannya secara sepihak, ia tidak mau Geisha menjadi khawatir seperti dirinya.
"Gimana, om?" Tanya Vania. Ia sembari menggigit bibirnya karena khawatir.
"Ekhem" Nathan berdeham, ia tidak mau di panggil om, apalagi oleh teman calon istrinya.
"Emmm, jadi gimana, kak?" Ucap Vania. Habisnya ia bingung ingin memanggil Nathan dengan sebutan apa.
Nathan menggeleng. "Jadi, Rea hilang?" Tanya Nathan dengan nada bicara yang serius.
Geo dan Vania pun mengangguk.
__ADS_1
"YA CARI, DONG" Ucap Nathan. Ia sudah mulai marah karena hilangnya Rea.
Lalu mereka bertiga pun masuk kembali ke dalam sekolah dan mulai mencari Rea dengan sangat teliti.