
KISAH INI HANYALAH KHAYALAN BELAKA, AKAN ADA ADEGAN - ADEGAN YANG MEMBUAT EMOSI DAN MENAMBAH TENSI, JADI MOHON TINGKAT KESABARANNYA DI TAMBAH YA GENGS 🌊❤️🌹
💐 HAPPY READING 💐
Setelah perdebatan panjang, kini di depan notaris, mereka semua menanda tangi surat penyerahan Vila, Rumah Utama serta tabungan Melvin sebanyak 9 Milyar pada Keith yang saat menjadi wali dari Astrid.
Dia begitu bahgia, karena berhasil memberikan hukuman yang sewajarnya untuk ke lima manusia ini.
“Oh ya, Apakah Anda tidak berniat untuk menjual Saham Anda yang hanya 20% itu?” Tanya Keith, memberikan penawaran untuk membeli saham itu.
Melvin menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban, lalu dia bangkit untuk membereskan barang - barangnya.
“Saya tidak akan menjual apa yang seharusnya menjadi hak aku! Perusahaan itu di bangun dengan susah payah oleh Papahku, sedangkan kalian seenaknya menganggti nama perusahaan itu tanpa seizin dariku, membuat aku yakin jika suatu saat nanti, saya akan merebutnya kembali.”
Melvin berucap dengan sungguh - sungguh, sedangkan berbeda dengan Keith yang malah tersenyum ketika melihat kepercayaan diri Melvin yang sangat ingin membuatnya tertawa.
“Anda tidak salah, kepercayaan diri yang tinggi memanglah sangat baik, tetapi jangan terlalu banyak berharap ya! Karena yang memimpin perusahaan itu adalah kakak aku Collin, yang bahkan kamu berada di nomor 2 dia di nomor 10.” Tungkas Keith, mengingatkan Melvin agar tidak terlalu percaya diri.
Lalu dia menoleh lagi ke arah Fred. “Melvin sekarang sudah miskin, apakah kamu masih ada di kubunya?” Tanya Keith pada Fred.
“Dia akan selalu berada di kubu sana, jika kekasihnya Citra adan di sana Tuan.” Jalen memberikan jawabannya, mewakili jawaban Fred yang tidak akan pernah mau meninggalkan Citra.
Jujur saja Fred terlihat mengepalkan tanganya, dia ingin sekali meninju wajah Jalen yang sudah membuat posisinya kini tidak aman.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Jalen menyadari tatapan Fred yang seperti memusuhinya, dia bahkan tersenyum karena tahu jika Fred itu adalah pria lemah yang tidak bisa melakukan apapun.
“Sudalah Jalen, jangan kamu ladenin pria seperti itu! Biarkan saja dia berada di kubu Melvin, jadi kalau kekasihnya hamil dia langsung bergegas untuk membuat pernyataan jika itu Bayinya Melvin, padahal dia adalah ayah dari bayi itu. Hahahha.” Tawa Keith dan Jalen pecah, ke dua pria itu benar - benar seperti menyiram bensin ke dalam sebuah kobaran
__ADS_1
Mereka bahkan tidak perduli jika mereka menyinggung seseorang yang jelas - jelasbalada di depan mereka
***
Sedangkan di sisi lain, Melvin yang sedang berada di dalam kamar, kini melihat ke arah sekeliling kamar itukejadian di hari akhir ketika dia bersama dengan Astrid.
Betapa dia tega memfitnah wanita itu sudah memasukan obat ke dalam minumannya, “harusnya hari itu aku tidak terbawa emosi.” Lirihnya pelan, lalu mulai mengambil koper - kopernya untuk menempati seluruh baju - bajunya dan juga barang - barangnya yang lain.
Tidak lama kemudian, Melvin keluar dengan memegang beberapa koper dan dokumen di tangannya. “Biar saya Bantu Tuan.” Fred mengambil alih koper - koper itu dari tangan Tuannya.
“Aduh, si yang paling cari muka di depan bosnya, padahal kedoknya ber selingkuh dengan pelakornya bosnya udah terbongkar.” Jalen kembali bersuara, yang membuat Keith ikut tertawa mendengarnya.
“Eh kalian bisa diam tidak sih?! Laki - laki mulutnya lemes banget?!” Tegur Sheila, yang merasa jengah mendengar singgungan - singgungan yang di berikan Keith dan juga Jalen.
“Husthhh, si Pelakor yang asli komplain.” Balas Keith, yang membuat wajah Sheila memerah menahan amarah.
Paramita dan Sheila mendekat ke arah Melvin, “Nak, Mamah tidak mau meninggalkan rumah itu Nak, please ambil lagi rumahnya ya, masa kamu tega dengan Mamah?!” Paramita kembali mengemis pada Melvin, agar tidak memberikan rumah mereka pada si gadis murah han seperti Astrid.
Melvin menghela nafasnya, dia sudah muak mendengar kalimat Mamahnya. “Sudahlah Mah, lagian semua ini juga salah kalian! Siapa yang membagikan uang yang seharusnya menjadi milik Astrid? Kalau Mamah amanah memberikan uang itu, semua ini tidak akan pernah terjadi Mah.” Balasnya, yang terlihat sudah sangat lelah dengan masalah ini.
Entah ini karma atau apa, karena setelah perceraiannya dengan Astrid, semua kejahatan Mamah dan Adiknya semua perlahan mulai terbuka. Hidupnya jadi hancur seperti tidak tersisa.
Belum lagi dia mendapatkan kenyataan atas perselingkuhan Fred asisten kepercayaannya dengan seorang wanita yang selama ini dia bela dan sanjung di depan Astrid.
Membuatnya masih terus berpikir apakah semua itu benar atau tidak, dia masih perlu mencari banyak bukti lagi, untuk menentukan apakah mereka bersalah atau tidaknya.
Tetapi untuk saat ini, dia tentu saja akan menjauhi dua orang itu, dan kembali membuat bisnisnya sendiri, agar dia tidak terlalu bergantung dengan sahamnya yang hanya 20% itu.
__ADS_1
Dan untuk sekarang dia hanya akan tinggal di apartemannya, sedangkan Mamahnya dan Sheila dia akan membelikan sebuah rumah baru yang lebih kecil dan cukup untuk mereka berdua.
“Kakak, terus kalau kita pindah dari rumah itu, aku dan mamah akan tinggal di mana?” Tanya Sheila yang bingung dengan tempat tinggal yang akan mereka tinggalin.
“Aku akan memberikan rumah yang jauh lebih kecil dari itu, yang penting layak untuk kalian tinggalin.” Jawab Melvin, yang sebenarnya menjadi jawaban yang paling tidak ingin mereka dengar.
Sheila menangis, memohon kepada kakaknya. “Kak, bisa tidak kita belum rumah yang lebih bagus, atau setidaknya sama gitu, aku malu kak sama teman - temanku.”
“Rumah kecil kamu malu? Juald diiri kamu tidak malu?” Tanya Melvin, langsung mengulti adiknya itu.
Dan karena tidak mau perpanjang masalah dan berlama - lama di Vila yang sudah bukan lagi miliknya, Melvin langsung bergegas berjalan keluar. “Lebih baik kalian cepat memberesekan barang - barang kalian! Sebelum pria dua bermulut lemes itu melemparkan barang - barang kalian keluar!” Melvin kembali mengingatkan mereka untuk bergerak cepat, agar mereka tidak terlalu banyak menyesali apa yang sudah sudah terjadi karena ulah mereka sendiri.
Dengan langkah kerterpaksaannya, Paramita, Sheila, Citra dan Fred langsung melangkahkan kaki mereka keluar dari Vila yang sudah menjadi milik Astrid itu mengikuti Melvin yang sudah pergi lebih dulu mungkin mencarikan rumah baru untuk mereka tempati.
“Bye - bye, selamat bermiskin ria.” Seru Keith, melambangkan tangannya pada orang miskin baru yang sebentar lagi akan menjadi gembel di jalanan.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*