
Disebuah Restoran hotel bintang 5, seorang gadis berparas cantik duduk seorang diri disudut meja. Ia terus menatap jam ditangannya, sesekali gadis meneguk jus yang sudah dipesan untuknya sembari menatap gemerlap kota malam melalui dinding kaca tepat disebelahnya duduk.
“Malam yang indah” ucapnya dengan senyum tipis.
Seperti yang ia katakan, malam ini langit memang tampak begitu cerah dengan taburan bintang yang berkelip-kelip begitu indah. Namun, dimalam yang indah ini hatinya merasa resah dan gelisah, karena pria yang sedang berjanji temu dengannya tak kunjung menampakan diri. Sudah hampir 1 jam wanita bernama Anggun itu menunggu di sana.
Anggun, sebuah nama yang begitu cantik nan indah, sangat cocok untuk gadis secantik dia. Ia adalah seorang gadis yang baru lulus SMA dan bekerja sebagai Model Catwalk, ia sedang berjuang untuk mengejar mimpi menjadi seorang pembawa berita. Wajah cantik alami, kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal membuatnya menjadi dambaan setiap mata pria yang melihatnya.
Malam semakin larut, Anggun mulai menyerah karena ia merasa sedikit sakit pada kepalanya. Anggun sudah tidak ingin lagi menunggu apalagi menghubungi pria yang sedari tadi tidak menjawab panggilannya. Anggun bangkit dari duduknya berniat untuk kembali pulang, tapi ada yang aneh dengan tubuhnya, ia tampak sempoyongan. Bersamaan dengan langkah pertamanya, ponsel Anggun berdering. Sebuah panggilan dari seorang pria yang sudah mengecewakannya malam ini.
“Alasan apalagi yang akan kau katakan kali ini Azka?” tanya Anggun setelah menjawab panggilan itu.
Tanpa mengucap sapa, Anggun langsung menanyakan pertanyaan yang tampaknya sudah bosan ia tanyakan kepada pria bernama Azka itu. Seorang pria yang sudah menjadi tambatan hatinya selama lebih dari 2 tahun. Belum sampai mendengar jawaban dari Azka, tubuh Anggun sudah jatuh dan ia pun tidak sadarkan diri.
Seorang pria yang tidak lain adalah Azka datang menghampiri Anggun dan membawa tubuh gadis itu ke sebuah kamar hotel yang sudah ia pesan. Azka ternyata sudah sedari tadi berada di sana, ia sudah memesan meja dan minuman untuk Anggun. Azka sengaja tidak menunjukkan diri setelah meletakkan sesuatu pada minuman yang ia pesan untuk Anggun. Azka merencanakan niat buruk yaitu menjual Anggun kepada pria hidung belang yang tidak lain adalah pimpinan tempatnya bekerja.
Pimpinan Azka sudah lama memiliki ketertarikan dengan Anggun kekasihnya. Ia menjanjikan Azka sebuah jabatan yang lebih tinggi dari posisinya sekarang asalkan mau menyerahkan Anggun kepada dirinya. Azka sangat tergiur dengan tawaran itu karena kebetulan dirinya memang tidak terlalu mencintai Anggun. Ia hanya memanfaatkan gadis itu untuk menyokong kebutuhan hidupnya. Azka hanya menyukai kecantikan dan uang yang Anggun dapatkan dengan susah payah.
Setelah Azka berhasil membawa Anggun ke kamar hotel, ia pergi menemui pimpinannya yang sudah menunggunya di parkiran mobil untuk memberikan kartu kunci kamar hotel Anggun. Saat Azka baru saja keluar dari lift di lobby hotel, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria. Keduanya menjatuhkan kartu kamar hotel itu bersamaan lalu saling tertukar.
Pria bernama Aland Garren Hamilton, seorang pewaris dari Hamilton Group sekaligus putra dari ketua Dixon Mafia itu meraih kartu kunci kamar yang salah saat bertabrakan dengan Azka. Didalam lift Aland baru memperhatikan kartu kuncinya dan melirik papan digital untuk menemukan di lantai berapa kamar itu berada, ia tidak menyadari jika itu sudah bukan kartu kunci miliknya.
Tujuan Aland pergi ke kamar hotel itu untuk menggantikan sang ayah menemui mitra bisnisnya. Saat memasuki kamar, Aland terkejut dengan kamar yang sudah acak-acakan tanpa melihat seorang pun. Aland hendak menghubungi sekertaris pribadinya, namun niat itu urung setelah mendengar teriakan erangan seorang wanita dari dalam kamar mandi.
Perlahan Aland melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk memeriksanya. Pintu kamar mandi yang tidak terkunci dan setengah terbuka itu perlahan Aland dorong hingga sepenuhnya terbuka. Dilihatnya Anggun yang sudah basah kuyup mendesah dan menatapnya dengan tatapan sensual. Melihat kehadiran Aland, Anggun langsung menarik tubuh pria itu, memeluk dan menciumnya dengan brutal.
“Sial…!” teriak Aland melepas tubuh Anggun yang basah kukup dan menjauhkannya dari tubuhnya.
__ADS_1
"Panas, dan aku sudah tidak bisa menahannya" ucap anggun dengan mendesah.
“Apa ayah selalu mendapatkan pelayanan seperti ini dari mitra bisnis ayah?” tanya Aland dalam hati dengan menatap Anggun penuh amarah.
Aland mengira jika Anggun adalah wanita yang disiapkan oleh mitra bisnis ayahnya sebagai penghibur sebelum mencapai kesepakatan bisnis. Aland pun marah, karena itu artinya ayahnya selalu mendapatkan pelayanan seperti ini dan pantas saja selalu memilih kamar hotel untuk melangsungkan kesepakatan itu. Aland semakin marah karena ia merasa jika wanita dihadapannya saat ini terlalu sangat muda untuk melayani pria seusia ayahnya.
Anggun yang sudah merasakan haus dekapan karena obat perangsang itu kembali menggoda Aland. Ia keluar dari kamar mandi menghampiri Aland yang sudah hendak meninggalkan kamar hotel. Anggun segera menghadang Aland dengan berdiri didepan pintu. Ia semakin menggoda Aland dengan membuka pakaiannya. Alan menatap lekat manik mata Anggun, wajah cantik dengan tubuhnya yang seksi dan basah itu membuat jiwa lelaki Aland mulai tergoda.
“Baiklah jika itu maumu, jangan pernah menyesalinya” ucap Aland dengan senyum penuh arti.
Aland lalu meraih tubuh Angun dan membawanya ke atas ranjang. Ia menjatuhkan tubuh gadis itu lalu mengukuhnya. Keduanya pun akhirnya memadu kasih melalui cinta satu malam. Aland sempat terkejut saat darah membasahi bedcover, ia tidak menyangka jika dirinya telah menodai gadis yang masih virgin.
“Sial, apa dia masih virgin? Ayah, apa kau tidak keterlaluan?” gerutu Aland.
Aland merasa tidak seharusnya dirinya merenggut kesucian gadis itu, tapi semua sudah terlambat. Aland kembali melanjutkan aktivitasnya karena ia juga tidak bisa menolak kenikmatan yang sudah diberikan oleh wanita yang tidak ia kenal itu.
Anggun segara bangkit dan meraih bajunya yang sudah tercecer dilantai. “Anggun, kau pasti sudah gila” umpatnya pada diri sendiri.
Anggun terpaksa memakai baju yang masih basah itu lalu meraih ponselnya. Ia segara menghubungi Azka, karena yang ia ingat terkahir dirinya memilki janji dengan Azka bahkan berbicara dengannya lewat telepon sebelum akhirnya tidak sadar dan bangun dikamar hotel.
“Hello, Azka….” Panggil Anggun dengan suara bergetar dalam panggilan telepon dengan Azka.
“Dasar wanita tidak berguna!” teriak Azka memaki Anggun.
"Apa maksudmu? Kau ada dimana sekarang? Aku…” ucap Anggun, belum sampai ia menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Azka.
“Apa kau bodoh? Apa susahnya hanya dengan menyelesaikan satu malam dengan pria itu? Hanya dengan satu malam itu saja kau sudah akan mendapatkan jaminan hidup yang lebih baik dari sekarang dan aku juga sudah pasti akan mendapatkan jabatan itu sekarang. Tapi gara-gara kau semuanya kacau dan berantakan!” teriak Azka.
__ADS_1
Azka berpikir jika Anggun meninggalkan kamar hotel, pimpinan Azka mengatakan jika dia tidak menemukan sosok Anggun di sana, hanya ada pria tua dan pengawalnya yang menghajarnya begitu saja. Azka tidak menyadari jika kunci kartu kamar hotel yang ia berikan kepada pimpinannya telah tertukar dengan kunci kamar Aland.
“Jadi, kau ingin menjualku pada pria itu?” tanya Anggun menatap Aland yang masih terbaring di ranjang.
Anggun mengira jika Aland adalah pria yang dimaksud Azka. Pria yang sudah menghabiskan satu malam dengannya dan merenggut kesuciannya itu adalah pria yang telah membelinya. Anggun tidak tahu jika Aland adalah pria korban salah kamar.
“Kenapa kau tega kepadaku?” tanya Anggun.
“Percuma saja aku berbicara denganmu, karena mulai hari ini kita putus” ucap Azka dengan suara lantang ditelepon.
“Azka apa kau sudah gila? Bagaiman kau bisa mengatakan hal itu setelah apa yang sudah aku berikan kepadamu selama ini bahkan setelah apa yang sudah kau lakukan kepadaku saat ini. Apa ini balasanmu?” tanya Anggun dengan menangis.
“Jangan menghubungiku lagi karena aku akan menikah dengan wanita kaya yang bisa menjamin hidupku” ucap Azka lalu mematikan panggilannya ditelepon.
“Azka… tapi… Azka!!!” panggil Anggun.
Tut, tut, tut….
“Dasar laki-laki bajingan, Azka Sialan….!!!” Umpat Anggun dengan menangis setelah mendengar Azka mematikan ponselnya. Ia melempar ponsel miliknya hingga hancur terburai dilantai.
Anggun yang masih dalam kondisi marah atas penghianatan Azka yang telah tega menjual dirinya, perlahan mencoba berdiri dengan kaki yang gemetar. Ia memungut pakaian Aland dilantai lalu melepas pakaian basah yang sudah ia kenakan berganti dengan pakaian Aland. Anggun menatap penuh amarah pada Aland yang masih lelap tidur dengan tengkurap, ia terlihat sangat membenci pria yang ia pikir telah membeli dirinya itu.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued***