
Memasuki hari kedua dari hari yang Marvel janjikan kepada mamanya, Meski sudah malam, Marvel terlihat masih sibuk di kamarnya. Usai menyelesaikan begitu banyak tugas sebagai Elang, kini ia masih harus menyelesaikan misinya untuk Anggun sang mama tercinta. Ia terlihat tidak bisa menahan lelah hingga akhirnya ketiduran.
Anggun pergi ke kamar Marvel untuk mengantarkan susu hangat, namun sayang Marvel sudah tidur. Anggun merasa sedih melihat putranya yang sampai harus tidur di meja depan layar komputer dan menjadikan papan keyboard sebagai bantal.
Anggun menghampiri Marvel, ia menggendong tubuh mungil putranya untuk tidur di atas tempat tidur. Usai membaringkan Marvel ke tempat tidur, Anggun mulai merapikan meja Marvel. Anggun terkejut saat akan mematikan komputer Marvel, ia melihat halaman situs yang masih aktif.
"Marvel?" batin Anggun lalu ia memandang putranya yang tertidur pulas.
Keesokan hari, Marvel yang sudah berpakaian rapi bergegas untuk pergi sarapan bersama mamanya. Makan bersama mamanya adalah hal yang sangat ia sukai, namun pagi ini Anggun menunjukkan sikapnya yang tidak biasa. Anggun hanya diam saja selama makan. Tidak seperti biasanya yang selalu banyak bicara dengan menayangkan beberapa hal kepada putranya disela-sela waktu makannya.
Melihat sikap Anggun, Marvel hanya bisa diam. Ia tidak berani bertanya meskipun sudah tahu jika saat ini mamanya pasti sedang marah kepadanya. Marvel tetap menghabiskan makanannya meskipun dalam suana yang hening hingga keduanya menyelesaikan sarapannya.
"Marvel, mama ingin bicara sebentar" ucap Anggun usai merapikan meja makan.
Marvel mulai merasa takut, sikap Anggun yang terlihat tampak serius dan tidak biasa itu membuat Marvel bertambah gugup. Marvel perlahan berjalan menghampiri Anggun yang kini sudah duduk menunggunya diruang tamu.
"Ada apa ma?" tanya Marvel lirih. Ia tidak bisa menutupi rasa cemas yang menggerogoti hatinya.
"Duduk sayang" perintah Anggun menepuk sofa meminta Marvel duduk disebelahnya.
"Marvel, mama ingin bertanya dan mama harap Marvel jujur kepada mama. Bukannya Marvel tahu jika mama tidak suka dibohongi kan, apa lagi dibohongi putra mama sendiri" ucap Anggun seolah memberi ancaman halus kepada putranya untuk tidak berbohong.
Marvel sudah menduga apa yang ingin mamanya tanyakan, bahkan ia sangat yakin dan tahu apa yang membuat mamanya marah saat ini. Marvel ingat jika semalam ia sedang sibuk di meja komputernya, namun saat ia terbangun di pagi hari sudah berada di tempat tidur dan semua pekerjaan yang ia tinggalkan di meja sudah rapi. Dengan begitu, artinya mamanya pasti sudah melihat apa yang ia kerjakan saat membereskan mejanya.
"Maafkan Marvel ma" ucap Marvel menunduk.
"Apa Marvel tahu apa yang membuat mama marah?" tanya Anggun.
__ADS_1
"Marvel sudah membohongi mama, Marvel tidak mendengarkan perintah mama, Marvel tidak menghapus video yang mama minta tapi justru membuatnya semakin tersebar luas" ucap Marvel mengaku.
"Marvel, kenapa tega berbohong kepada mama?" tanya Anggun.
"Itu karena Marvel sayang mama. Mama juga berbohong kepada Marvel. Mama sangat ingin kembali menjadi model kan ma? kenapa mama menolak kesempatan ini?" tanya Marvel.
Marvel terus mengatakan apa yang ingin ia sampaikan, bulir-bulir air matanya mulai jatuh membasahi kedua pipinya.
Marvel kembali melanjutkan ucapannya. "Apa karena Marvel? Marvel tahu jika sebenarnya Marvel adalah penghalang untuk Mama. Karena demi melahirkan Marvel mama melepaskan impian mama kan ma?" lanjut tanyanya.
"Marvel !" teriak Anggun mendengar hal itu. "Bagaimana bisa Marvel berpikiran sepeti itu kepada mama. Mama sangat menyayangi Marvel" ucap Anggun dengan nada marah tapi ia berusaha untuk mengontrol emosinya kembali.
"Apa mama benar-benar sangat menyayangi Marvel dan peduli dengan Marvel?" tanya Marvel.
"Kenapa Marvel bertanya seperti itu? Ada apa dengan Marvel? disini Mama yang seharusnya marah dengan Marvel" ucap Anggun.
"Tapi kenapa mama berbohong kepada Marvel soal papa ma?" tanya Marvel lirih. "Apa mama tidak merasa egois kepada Marvel? Bahkan mama juga berbohong kepada Marvel untuk hal yang jauh lebih penting dari apa yang sudah membuat mama marah" ucap Marvel dengan menangis.
"Apa maksud Marvel?" tanya Anggun.
"Papa masih hidup kan ma?" tanya Marvel. "Kenapa mama berbohong dengan mengatakan jika Papa sudah meninggal, kenapa Ma?" lanjut tanya Marvel.
"Marvel, bagaimana Marvel bisa tahu? Apa Damian yang sudah mengatakannya kepadamu?" tanya Anggun.
"Lihatlah ma, dari pertanyaan mama sudah membuktikan jika itu benar" sahut Marvel.
Ucapan Marvel seketika membuat sekujur tubuh Anggun menjadi lemas. Anggun tidak sadar jika Marvel sudah mengetahui hal itu dari 3 tahun lalu. Saat itu Anggun pulang ke rumah dengan kondisi mabuk. Tepat didepan putranya saat itu Anggun terus mengumpat dan terus membicarakan pria yang tidak lain adalah ayah kandung Marvel.
__ADS_1
"Dimana kau? Dimana kau pria sialan! Apa kau tahu jika aku mengandung dan melahirkan anak dari bibit yang kau tinggalkan? Apa kau tahu jika anak kita sangat tampan dan juga jenius. Tunggu, kita? Bukan, Marvel bukan anakmu, dia adalah anakku, aku yang membesarkannya."
Itulah ocehan Anggun yang saat itu sedang mabuk. Dibawah pengaruh alkohol, ia mengatakan hal itu kepada Marvel yang ia pikir saat itu adalah Aland, si pria misterius yang menodainya.
Marvel bangkit dari duduknya. "Apa papa orang jahat yang sudah menyakiti mama lalu meninggalkan kita? Jika benar papa orang sepeti itu, maka Marvel akan berhenti mencarinya dan akan membalaskan dendam mama" ucap Marvel.
"Marvel, kau tidak mengerti sayang" sahut Anggun.
Anggun duduk tersipu di lantai "Mama bahkan juga tidak tahu siapa dan bagaimana kondisi papamu" ucap Anggun lirih. "Aku yakin pria itu pasti sedang bersenang-senang menikmati tubuh para wanita dengan uangnya" lanjut ucap Anggun dalam hati.
"Bagaimana jika Marvel bisa menemukan papa?" sahut tanya Marvel.
"Marvel?" tanya Anggun tidak percaya dengan apa yang diucapkan putranya itu.
"Marvel berjanji akan menemukan papa. Jika ternyata papa adalah orang yang jahat, maka Marvel akan tidak akan pernah menerimanya seumur hidup Marvel. Tapi...." Marvel menghentikan ucapannya.
"Tapi jika papa adalah orang baik dan semua ini hanya kesalahpahaman, Marvel mau mama menerima papa dalam keluarga kita" lanjut tegas Marvel.
Anggun sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia menggigit bibirnya yang bergetar dan air mata itu pun mulai jatuh. Pernyataan Marvel seperti membuka luka hati Anggun kembali. Bagaimana mungkin ia memiliki hak untuk memilih menerima atau menolak kehadiran pria itu, sementara cinta satu malam yang terjadi tidak didasari oleh perasaan cinta diantara keduanya.
Meskipun marah, namun Anggun juga merasa bersalah kepada putranya karena menutupi kebenaran tentang papanya. Kebenaran yang sudah menjadi hak Marvel untuk tahu.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***