
Anggun menghubungi Aland dan memintanya untuk bertemu. Dengan senang hati Aland menerima permintaan Anggun.
Sesuai dengan waktu dan tempat yang telah disepakati, keduanya kini duduk di sebuah restoran mewah yang sudah dipilih oleh Aland.
Sebuah restoran italia kelas atas yang mengusung konsep mewah dan elegan pada setiap sudutnya. Anggun tampak takjub dengan dekorasi yang menampilkan gaya Italia klasik, lampu gantung kristal, furnitur mewah, serta penataan meja yang indah.
Mata Anggun melirik ke kiri ke kanan, ia melihat sekeliling seolah ada yang salah dengan tempat itu. Restoran sebesar dan semewah itu hanya ada mereka berdua saja dan 6 pelayan berdiri di sudut kasir yang siap dipanggil untuk melayani mereka.
"Aku menyewa seluruh tempat ini" ucap Aland yang paham dengan kebingungan Anggun.
"Menyewa? Kau tidak berencana untuk melakukan sesuatu padaku kan?" tanya Anggun sinis dengan tuduhannya.
"Hahaha, jika aku mau melakukannya mungkin aku sudah memilih hotel sebagai tempat pertemuan kita saat ini" balas Aland dengan tertawa kecil yang merasa gemas akan pertanyaan Anggun.
Anggun mengerutkan alis menatap tajam Aland dengan kesal, tatapan itu membuat Aland terdiam, seolah sudah takhluk dan tunduk dengan wanita itu.
Tidak ingin basa-basi dan berlama lagi, Anggun memberitahukan maksud dan tujuannya meminta Aland bertemu. Anggun mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan meletakkannya di atas meja.
Aland menaikkan alisnya, ia mengekpresikan kan dirinya yang tidak paham, apa yang akan Anggun lakukan dengan selembar kertas yang sekilas tertulis kata Kontrak didalamnya. Anggun memutar kertas itu dengan kasar menghadap ke arah Aland agar bisa membacanya dengan jelas.
"Ini adalah kesepakatan yang ingin kau tandatangani sebelum melakukan tes DNA" ucap Anggun sembari meletakkan sebuah bolpoin tepat disebelah lembaran kertas itu.
"Apa itu artinya kau secara tidak langsung mengakui jika aku pasti ayah biologisnya?" tanya Aland sembari meraih kertas perjanjian itu dan mulai membacanya.
Aland menaikkan alisnya membaca setiap baris yang tertulis dalam selembar kertas itu.
- Tidak menuntut hak asuh Marvel...
- Tidak ikut campur atas masa depan Marvel...
Serta masih banyak aturan-aturan yang Anggun tuangkan di dalamnya. Inti dari semua yang ia tulis hanyalah satu, Aland bisa memiliki status sebagai ayah biologisnya, namun tidak memiliki hak apapun atas diri dan masa depan putranya.
"Apa kau ingin membatasi hak ku sebagai seorang ayah?" tanya Aland yang baru saja membaca beberapa poin.
"Tes DNA itu, aku tidak membutuhkannya, karena meskipun nanti kau adalah ayahnya kau tidak punya hak akan hidup Marvel.
"Kenapa? Apa Marvel juga menyetujui hal ini?" tanya Aland dengan penuh keyakinan jika Marvel menginginkan hal yang berbeda.
Anggun mengepalkan tangannya, ia merasa gugup dengan pertanyaan itu. Sesungguhnya Anggun tidak memiliki niat membatasi Aland untuk bertemu ataupun membatasi hak nya sebagai sorang ayah, ia hanya takut jika Aland akan membawa Marvel pergi jauh darinya.
"Apa kau pernah tahu bagaimana perjuanganku mengandung, melahirkan dan membesarkannya seorang diri? Aku dan Marvel sudah terbiasa hidup tanpa sosok pria baik sebagai ayah ataupun suami. Tanpamu, kami bisa melanjutkan hidup" ucap Anggun.
"Apa kau pernah memberitahuku tentang kehamilanmu dan keberadaan anak itu?" balas tanya Aland.
Aland merasa jika keputusan Anggun tidaklah adil baginya. Selama ini Aland bukan lari dari tanggung jawab, namun ia benar-benar tidak tahu jika Anggun mengandung anaknya.
Mendengar hal itu membuat Anggun merasa miris, matanya mulai berkaca-kaca. Anggun ingin marah dan memaki Aland, tapi ia tidak tahu apakah dirinya memilki hak untuk melakukannya karena yang Anggun tahu, Aland melakukannya karena sudah membeli tubuhnya. Maka sudah menjadi tanggung jawab dirinya sendiri akan semua yang terjadi setelah itu.
__ADS_1
Aland mengangkat kertas itu dan memperlihatkan kepada Anggun bagaimana dia menyobeknya. "Aku akan menebus semuanya, kesalahanku di masa lalu dan juga kesalahanku karena membuatmu harus menanggung semuanya seorang diri, aku akan menebusnya" ucap Aland.
"Hah, apa kau akan menggunakan uangmu lagi?" tanya Anggun mengingat bagaimana Aland menggunakan uang untuk membeli wanita demi memuaskan nafsunya.
"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Aland tidak mengerti.
Kesalahpahaman masih terjadi diantara keduanya. Anggun masih tidak tahu jika Aland hanyalah korban salah kamar. Dia bukan orang yang melakukan transaksi dengan Azka.
Anggun memalingkan wajahnya, ia meraih jus miliknya lalu menyeruputnya dengan kasar untuk melepaskan emosinya.
"Sudah aku putuskan, setelah hasil tes DNA itu keluar, Aku ingin sepenuhnya mendapatkan hak ku sebagai ayah Marvel dan juga memenuhi kewajibanku sebagai suamimu" ucap Aland serius.
Byur........
Anggun menyemburkan minuman yang baru diteguknya. Ia tidak percaya jika Aland akan menuntut hak itu. "Apa kau sudah gila? " tanya Anggun.
Aland berdiri dari duduknya, ia mengeluarkan sapu tangan miliknya lalu menghampiri Anggun yang sibuk membersihkan tetesan jus dibajunya sambil menggerutu.
Tanpa banyak kata, Aland menahan tangan Anggun yang akan mengusap bibirnya yang basah. Aland tiba-tiba menyeka bibir Anggun dengan jarinya. Ia lalu membantu mengeringkan baju Anggun dengan sapu tangannya miliknya.
"Aku ingin kita menikah" lanjut ucap Aland spontan membuat Anggun batuk.
"Menikah?" batin Anggun sembari menatap tangan Aland mengeringkan bajunya.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal yang begitu sakral dengan semudah itu. Apa kau tahu apa yang membuat sepasang insan memutuskan untuk menikah?" tanya Anggun.
Aland memposisikan tubuhnya untuk mengimbangi Anggun yang masih duduk di kursi. Ia jongkok dengan satu lutut berlandas di lantai menopang tubuhnya. Aland memutar kursi Anggun untuk menghadap dirinya. Kedua mata mereka kini saling bertemu, Aland menatap lekat manik Anggun.
Aland lalu tersenyum, ia berdiri mendekatkan wajahnya pada wajah Anggun dan berbisik. "Kau sudah mencuri perhatianku dan milikku 7 tahun lalu, sejak saat itu kau juga sudah mencuri hatiku" bisik Aland dengan suara sensual.
Anggun bisa merasakan hembusan nafas Aland. Aland hendak melanjutkan aksinya menggigit telinga Anggun. Namun, mendengar Anggun yang tiba-tiba cegukan membuat Aland berhenti dan tersenyum, ia lalu mengakhirinya hanya dengan mengecup lembut telinga Anggun.
Anggun pun semakin cegukan, spontan ia mendorong tubuh Aland dan menutup mulutnya yang masih cegukan. Anggun bangkit dan pamit pergi meninggalkan Aland. Anggun merasa jika Aland terlalu bahaya untuk saat ini, membuatnya hampir tersihir dan takhluk.
.
.
.
Anggun kembali pulang ia menghampiri Marvel yang sibuk dengan komputernya di dalam kamar. Anggun langsung memeluk tubuh kecil putranya dengan erat.
"Mama sudah pulang" sapa Marvel merasakan dekapan Anggun.
"Sayang, boleh mama tanya sesuatu?" tanya Anggun.
Marvel mengangguk, ia melepaskan tangan mamanya dan memposisikan dirinya menghadap Anggun. "Boleh, apa itu ma?" tanya Marvel.
__ADS_1
"Jika saja, jika saja papa Marvel datang dan meminta tinggal bersama Marvel, bagaimana perasaan Marvel" tanyanya.
"Selama mama juga selalu bersama Marvel, Marvel tidak keberatan ma" sahut Marvel.
Anggun kembali memeluk tubuh putranya dan menitihkan air matanya. "Maafkan mama ya sayang, tidak seharusnya mama menempatkan Marvel pada pilihan ini. Maafkan mama sayang" ucap Anggun meminta maaf.
"Ma.." panggil Marvel.
Marvel memandang wajah Anggun, ia mengusap air mata yang membasahi kedua pipi mamanya itu. "Ma, kenapa mama minta maaf? Bagi Marvel, asal mama bahagia Marvel juga bahagia ma. Selama mama tidak pernah meninggalkan Marvel, Marvel akan menuruti semua keinginan dan permintaan mama" ucap Marvel lalu memeluk Anggun dengan manja.
"Terima kasih sayang. Mama sangat menyayangi Marvel dan mama tidak akan pernah meninggalkan Marvel" ucap Anggun membalas pelukan putranya.
.
.
.
Di kediaman Hamilton, sebuah jamuan pesta makan malam keluarga yang disiapkan untuk menjamu keluarga Agatha.
Aaron menyinggung tentang perkembangan hubungan Aland dan Agatha. "Ayah rasa kalian tidak perlu lagi bertunangan, tapi langsung saja menikah" saran Aaron
"Taun Aaron tidak perlu terburu-buru. Aland sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya, saya masih bisa menunggu" ucap Agatha ingin mencuri empati ayah Aland.
Tantu saja dalam hati Agatha ia sangat ingin segera menikah dengan Aland. Tapi sayang, rencana Agatha untuk menarik empati justru menjadi lubang dan bumerang bagi dirinya karena berlagak sabar.
"Ayah, aku ingin menikah" ucap Aland
Aaron menyambut hal itu dengan senyum bahagia. "Sebuah keputusan yang tepat Aland" ucapnya sembari menepuk bahu Aland.
"Aku akan menikah, namun bukan dengan Agatha. Melainkan dengan wanita pilihanku" lanjut ucap Aland.
"Aland, apa yang kau katakan disaat kita sedang dalam jamuan makan bersama kedua orang Agatha" bentak Aaron.
Aland berdiri dan mengucapkan maaf, ia membungkuk kepada kedua orang tua Agatha yang sama terkejutnya seperti Aaron. "Maaf, saya harus meninggalkan perjamuan ini" ucapnya.
"Ayah, aku sudah menentukan wanita yang akan menjadi istriku, dan ayah tidak pelu khawatir karena kali ini aku sungguh-sungguh. Bahkan aku menjamin akan memberimu cucu sekaligus" ucap Aland lalu pamit pergi.
"Aland! Aland!" panggil Aaron.
Aaron spontan bingung karena dirinya harus menghadapi keluarga Agatha seorang diri, sementara Aland main pergi begitu saja setelah mengumumkan berita yang membuat Agatha pucat. Dalam hati, Agatha sangat marah namun ia masih berusaha menjaga sikapnya didepan kedua orang tuanya dan juga didepan Aaron.
Berbeda dengan orang tua Agatha, keduanya langsung menunjukkan rasa kekecewaannya akan sikap Aland. Mereka menekan Aaron untuk segera memberi keputusan karena tidak terima jika putrinya di permainkan.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***.