
Pukulan Aland tidak hanya mengejutkan Anggun, tapi juga membuat semua staf yang ada di perusahaan Agatha menjadi terdiam. Mereka semua bungkam seolah tak percaya jika Aland, CEO Hamilton Group memukul orang di depan umum.
"Tuan Aland, anda baik-baik saja?" tanya Grey menghampiri Aland.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulnya?" potong Anggun bertanya kepada Aland.
"Kenapa kau malah bertanya daripada mengucapkan terima kasih?" balas tanya Aland.
"Apa ?" sahut Anggun mengerutkan keningnya.
Aland mendekati Anggun, ia menatap lekat mata Anggun yang juga memandang dirinya. Tatapan Aland lalu beralih ke tangan Anggun yang masih mengepal. "Apa kau pikir tangan kecilmu ini bisa memukulnya?" tanya Aland meraih tangan Anggun, dengan lembut ia membuka kepalan tangan itu.
"Aku tidak pernah memintamu untuk melakukannya, jadi kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk pria seperti dia. Dan juga, jangan lagi ikut campur urusanku karena kita bukan siapa-siapa" ucap Anggun kepada Aland.
Anggun memang benar, saat ini mereka memang tidak memiliki hubungan apapun. Namun, mendengar kata itu membuat Aland merasa seperti telah menyakiti hatinya disaat ia meyakini jika Anggun adalah wanita yang ia cari.
Anggun menghampiri Dony yang masih kesakitan. "Dony, aku masih menghargai kamu karena mengingat kebaikanmu dulu. Jadi aku mohon jangan pernah mencariku lagi atau mengusik keluargaku" ucap Anggun lalu pergi meninggalkannya dan juga Aland.
"Tuan" ucap Grey melihat Anggun yang akan pergi.
Grey sudah akan mengejar Anggun, tapi Aland memberi kode menahan langkah Grey untuk membiarkan Anggun pergi. "Biarkan dia pergi, tidak perlu buru-buru Grey" ucap Aland.
"Baik Tuan" sahut Grey menunduk.
Aland menatap Anggun yang sudah semakin menjauh. Hal itu karena Aland sudah melihat rekaman cctv di lobby apartemen yang ia minta dari Grey. Dalam rekaman cctv itu terlihat jelas jika si wanita bar-bar yang tidak lain adalah Anggun sedang menyambut dan memeluk seorang anak kecil yang sangat mirip dengan dirinya.
Ucapan Dony tadi membuat Aland yakin jika anak itu adalah anak Anggun, si wanita bar-bar. Hal itu juga semakin membuat Aland yakin jika kemungkinan besar Anggun adalah si wanita misterius yang sedang ia cari.
"Grey, segara cari tahu identitas wanita itu termasuk anaknya" perintah Aland lalu melanjutkan Langkahnya.
Langkah Aland lalu berhenti saat melewati Dony. "Aaa.... dan juga pria ini" tunjuk Aland. "Awasi dia!" lanjut perintah Aland meminta Grey untuk mengawasi gerak-gerik Dony.
Aland segera menemui Agatha setelah mendapatkan informasi tentang alasan Anggun datang ke BlueSKY. Agatha segera menyambut Aland dengan senyum sumringah akan kedatangan calon tunangannya itu.
"Apa yang kau lakukan dengan wanita itu?" tanya Aland kepada Agatha.
Wajah sumringah Agatha langsung berubah seketika. Agatha menjadi kesal karena Aland mengabaikan sambutannya dan justru membahas wanita lain.
"Maksudmu model itu?" balas tanya Agatha. "Kenapa kau sangat tertarik dengannya?" lanjut tanyanya.
Agatha sangat kesal dengan sikap Aland yang selalu saja memperhatikan Anggun. Agatha menyadari hal itu semenjak Anggun berjalan di runway, pandangan Aland tak pernah lepas dari Anggun.
"Aland, satu hal yang aku ingin kau mengingatnya. Kita sudah akan bertunangan, aku harap kau tidak mengecewakanku" ucap Agatha.
"Aku datang kemari untuk menyampaikan 2 hal kepadamu. Satu, ayah mengundangmu untuk makan malam bersama. Dua, aku harap kau tidak mengungkit atau membahas tentang pertunangan itu saat makan malam, karena aku belum menyetujui pertunangan itu" ucap Aland lalu pergi meninggalkan Agatha.
__ADS_1
Agatha hanya diam akan sikap acuh Aland terhadapnya. Ia sudah terbiasa diperlakukan dingin oleh Aland. Hubungan teman masa kecil yang begitu akrab diantara keduanya kini menjadi renggang saat Aland tahu jika ayahnya berniat menjodohkannya dengan Agatha.
"Sayangnya aku tidak akan pernah melepaskanmu Aland" batin Agatha menatap punggung Aland yang meninggalkannya.
.
.
.
Di Cloud-9, markas Agen Rahasia Elang.
Marvel tampak sibuk di depan layar komputernya. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti hasil ketikan dari jarinya yang bergerak begitu cepat menekan papan keyboard. Kemampuan ngetiknya yang begitu tinggi membuatnya tidak perlu lagi memperhatikan papan keyboard karena semua hasil ketikannya tidak ada yang salah.
"Apa anda yakin akan tetap mengambil kasus pembunuhan wanita pelajar itu?" tanya Damian.
"Bukankah ibu korban sudah mengirimkan pesan meminta bantuan kita" sahut Marvel dengan tetap fokus menatap layar komputernya.
"Itu karena anda yang memancingnya" sahut Damian.
Damian benar, dengan kemampuan meretas yang dimiliki Marvel, dia telah mengirimkan ribuan pesan dan komentar yang mengatasnamakan netizen kepada ibu korban. Semua pesan itu berisi support dan saran untuk meminta bantuan kepada Elang. Secara tidak langsung Marvel adalah orang yang mendorong ibu korban untuk meminta bantuannya.
"Apakah anda masih meyakini keterlibatan ayah anda dalam kasus ini karena dia memilki tato burung Elang yang sama persis dengan yang dimiliki Anggota Dixon Mafia?" tanya Damian.
Dixon Mafia adalah salah satu kelompok Mafia terbesar dan terkuat di negaranya. Bahkan kekuasaan Dixon Mafia memberi pengaruh besar dalam dunia politik pemerintahan. Dalam kasus yang akan ditangani Marvel, diketahui jika satu dari pelaku pembubuhan itu memilki tato burung Elang yang merupakan identitas keanggotaan kelompok Dixon Mafia. Sebuah tato yang seharusnya juga dimiliki ayah Marvel.
"Jika Tuan Pokemon anda tidak memilki tato itu, apa itu artinya anda salah mengira dan kemungkinan besar Tuan Pokemon bukan ayah anda, bukankah begitu ?" tanya Damian.
Tanpa menjawab pertanyaan Damian, Marvel turun dari kursinya lalu pergi membereskan semua barangnya dan di memasukkannya kedalam mini backpack miliknya.
"Setiap orang mungkin mempunyai tanda lahir, tapi apa mereka semua pasti memiliki tanda lahir ditempat yang sama?" tanya Marvel.
"Lalu maksud anda... " ucap Damian menahan ucapannya, ia paham akan maksud Marvel.
"Apa kau sekarang paham Tuan Damian?" tanya Marvel.
"Saya mengerti, tapi bukankah anda hanya perlu menyelidiki Dixon Mafia untuk menemukan ayah anda tanpa harus mengambil kasus ini" sahut Damian.
Selama ini Agen Elang hanya menangani kasus-kasus besar yang tidak pernah terpecahkan meskipun sudah berada dalam penanganan FBI. Elang tidak pernah mengambil kasus pembunuhan yang mereka anggap sebagai kasus kecil karena sudah ada petugas kepolisian yang akan menangani dan menyelidikinya.
Selain itu, kasus ini juga akan membuat mereka terlibat dengan kelompok Mafia. Meskipun itu bukan masalah besar bagi Damian yang pernah menjadi pasukan khusus negara, tapi ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Marvel jika terlibat dengan kelompok Mafia.
Usai mengemasi barang-barangnya, Marvel mengambil lembaran kertas yang baru saja keluar dari mesin printer. Ia memberikan lembaran-lembaran kertas yang berisi data informasi seorang pria kepada Damian.
"Telurusi rekam jejak keluarga pria ini, anak dan istrinya pergi keluar negeri dua minggu sebelum ia ditangkap" perintah Marvel kepada Damian.
__ADS_1
Damian terkejut melihat data itu. "Bukankah pria ini yang sekarang menjadi satu-satunya tersangka yang membunuh wanita pelajar itu?" tanya Damian.
"Aku akan mengirim Tuan Damian data korupsi jaksa yang menangani kasus pembunuhan itu. Aku ingin mereka mengganti jaksa nya, gunakan data itu untuk menekan mereka. Kita hanya memiliki waktu sampai persidangan bulan depan untuk bisa menemukan pembunuh sebenarnya" ujar Marvel.
"Apa anda sudah mengantongi bukti jika dia bukan pembunuhnya?" tanya Damian.
"Nanti akan aku jelaskan kepada Tuan Damian. Hari ini apa kita bisa mengakhiri pekerjaan kita? Aku yakin mama akan mengomel kepada Tuan Damian jika kita pulang terlambat" ucap Marvel.
Damian mengangguk, ia lalu bersiap untuk mengantar Marvel kembali pulang sebelum Anggun menghubunginya karena pulang melebihi dari waktu yang sudah ditentukan Anggun. Anggun ingin melihat Marvel sudah berada di rumah pada jam tersebut.
.
.
.
Di Apartemen tempat tinggal Anggun dan Marvel.
Usai menyelesaikan makan malam bersama Anggun, Marvel menatap wajah mamanya yang terlihat sedang cemas.
"Apa terjadi sesuatu ma?" tanya Marvel.
"Sayang, apa mama boleh meminta bantuan Marvel?" tanya Anggun dengan ragu karena ia tidak ingin merepotkan putranya.
Mendengar hal itu Aland segera turun dari kursi makannya. "Apa itu ma? Marvel siap membantu mama" ucapnya dengan penuh semangat.
Anggun meminta bantuan Marvel untuk menghapus video dirinya yang sudah terlanjur menjadi viral. Anggun tidak ingin terlibat dengan Agatha atau pria itu lagi.
"Video?" tanya Marvel lirih.
Permintaan mamanya adalah hal yang sangat mudah bagi Marvel untuk menghilangkan video itu. Tapi tanpa sepengetahuan Anggun, Mervel sudah memiliki keputusan lain dengan video itu. Marvel ingin memanfaatkan insiden itu untuk mendorong ibunya kembali mengejar mimpinya.
Marvel sangat tahu jika mamanya sangat menyukai dunia modelling. Bahkan Anggun masih menyimpan mimpi itu hingga sekarang. Marvel selama ini merasa sangat bersalah kepada ibunya, karena demi melahirkan dirinya, Anggun harus melepas mimpi itu.
"Baik ma, Marvel akan mencobanya" sahut Marvel yang terlihat kehilangan semangatnya.
Marvel meminta waktu 3 hari kepada Anggun untuk menyelesaikannya. Namun, 3 hari waktu yang ia butuhkan sebenarnya bukan untuk menyelesaikan menghapus video, melainkan untuk semakin menyebar luaskan video itu. Setelah 3 hari Marvel akan benar-benar menghapusnya. Marvel merasa jika dirinya telah mengkhianati Anggun, tapi ia melakukannya demi mimpi mamanya.
Marvel kembali masuk kedalam kamarnya, dengan kemampuan IT dan meretas yang dimilikinya, Marvel justru semakin menyebar luaskan video itu lalu membanjiri dengan komentar-komentar berisi dorongan dan pujian.
"Maafkan Marvel ma, ini semua Marvel lakukan demi mama" batin Marvel menatap layar komputernya.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***