Mata Elang

Mata Elang
BAB 23 - Menjadi Ayah


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat mendebarkan bagi Aland dan Anggun, karena mereka akan mendapat konfirmasi hasil tes DNA.


Aland meminta Grey mengatur kamar baru untuk calon putranya Marvel dan Anggun di unit Penthouse miliknya. Ia juga meminta Grey untuk menyiapkan beberapa barang yang sudah ia list dan kirim by email kepada Grey.


"Tuan, apa anda seyakin itu jika hasil tes DNA nantinya dia adalah putra anda?" tanya Grey yang menyikapi sikap bos nya sudah sangat berlebihan.


Meskipun hari ini menjadi hari penentuan, namun tetap saja mereka masih belum mendapat kabar dari Dr. Willy tapi Aland sudah banyak meminta dirinya untuk menyiapkan semuanya termasuk kamar. Aland seolah seperti telah mendapat penglihatan masa depan jika Marvel adalah putranya.


"Apa kau ingin bertaruh denganku Grey?" tantang Aland menjawab pertanyaan Grey.


"Apa yang harus saya pertaruhkan Tuan?" tanya Grey ragu.


"Pekerjaanmu!" jawab Aland santai.


Seketika Grey terdiam, matanya membulat. Pernyataan Aland membuatnya menelan salivanya. Bagiamana mungkin ia berani mempertaruhkan pekerjaannya yang sudah lebih dari 6 tahun mengabdi setia kepada Aland.


"Kenapa kau diam? Apa kau takut Grey?" tanya Aland kembali karena melihat Grey mematung dengan wajah memucat.


"Maafkan kelancangan ucapan saya tadi Tuan Aland" sahut Grey menunduk dengan tubuh gemetar.


"Baguslah jika kau paham kesalahanmu" sahut Aland.


.


.


Memasuki waktu siang, Dr. Willy memberi kabar kepada Grey sebagai sekretaris Aland akan hasil tes DNA.


Setelah mendapat kabar dari Dr. Willy, Grey segera berlari menuju ruangan Aland, bahkan ia sampai tidak ingat mengetuk pintu sembari berteriak memanggil tuannya itu.


"Tuan Aland" Teriaknya. "Selamat anda telah menjadi ayah" ucap Grey dengan penuh semangat.


Aland mengerutkan keningnya karena didepannya saat ini duduk Tuan Aaron, sang ayah. Grey segera memeriksa agenda Aland pada layar tablet di tangannya. Ia bahkan tidak ingat jika tuanya memiliki agenda kunjungan ayahnya.


"Apa kau selalu longgar kepadanya sampai ia tidak memiliki sopan santun dengan bosnya?" keluh Aaron kepada Aland akan sikap Grey baru saja.


Menanggapi sindiran Tuan Aaron, Grey mengambil langkah mundur perlahan keluar ruangan dan kembali mengetuk pintu lalu masuk ruangan itu lagi. Kali ini ia memberi salam dengan penuh hormat kepada Aland.


"Selama siang Tuan Aaron, salam hormat dari saya yang sudah tidak sopan ini" ucap Grey dengan mimik wajah takut.


Aland tersenyum nyinyir akan sikap Grey, dibalik rasa takutnya ia justru seperti sedang mengolok Tuan Aaron.


Tanpa menjawab salam Grey, kini Aaron justru sibuk menanyakan maksud dari apa yang baru saja di kabarkan Grey kepada Aland.


"Apa maksudnya yang mengatakan kau akan menjadi ayah?" tanya Tuan Aaron.


"Begini ayah" potong Aland.


"Kau diam-diam sudah menghamili wanita?" tanya Aaron tanpa basa basi dengan mimik wajah seperti seorang ayah yang melakukan sidang terhadap anaknya.

__ADS_1


Sungguh sangat menggelikan, Alan dan Grey menjawab pertanyaan Tuan Aaron bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda.


Grey mengangguk membenarkan jika Tuanya sudah menghamili seorang wanita. Sementara Aland menggelengkan kepala. Keduanya kini akhirnya hanya menatap.


Grey menjadi semakin cemas dan pucat karena sepertinya ia salah lagi, dengan begitu artinya ini adalah masalah besar karena ia benar-benar akan kehilangan pekerjaannya kali ini.


"Ayah, dengar Aland" sahut Aland menjelaskan.


"Bagus" ucap Aaron singkat.


"Heh??" sahut Aland heran dengan ucapan sangat ayah.


"Bawa gadis itu malam ini , undang dia ke rumah untuk mendapat jamuan makan malam. Dan kau Grey, kirim profil wanita itu kepadaku sekarang" perintah Aaron.


Aland tidak menyangka jika ayahnya bakal datar saja dengan berita itu. Namun Aland khawatir jika ayahnya justru memiliki niatan lain dengan menyingkirkan wanita pilihannya alih-alih menyetujuinya.


"Apa ayah yakin dengan apa yang baru saja ayah katakan?" tanya Aland.


"Justru ayah bangga karena dengan begitu artinya kau benar-benar pria sejati" sahut Aland.


"Bangga?" gumam Grey dalam hati.


"Bagaimana dengan keluarga Agatha?" tanya Aland.


"Lebih penting mendapatkan pewaris daripada mempertahan kan satu mitra bisnis kita" jawab Tuan Aaron.


Taun Aaron pun pergi meninggalkan ruangan Aland diikuti oleh beberapa bodyguardnya. Aland hanya terdiam, ia tidak sepenuhnya akan percaya begitu saja dengan ayahnya. Aland harus lebih berhati-hati dan waspada lagi, serta memberi penjagaan ekstra kepada Anggun dan putranya.


"Grey, siapkah semua yang aku minta dan kita pergi sekarang" perintah Aland meraih jas nya lalu pergi.


.


.


.


Di sekolah Marvel, mobil Aland terlihat sudah parkir di depan gerbang sekolah. Aland ingin menjemputnya dan menyambut putra kandungnya itu. Kini perasan Aland jauh lebih gugup daripada saat melakukan sampel DNA, karena kini ia harus berjuang untuk merebut hati Marvel dan Anggun agar bisa menerima kehadirannya.


Bell sekolah berbunyi menandakan waktu pulang telah tiba. "Grey apa aku harus membawa bunga ini? Putraku adalah pria sejati, bagaimana mungkin aku menyambutnya dengan bunga. Aku tidak yakin dia akan menyukainya" ucap Aland yang hendak menyiapkan diri keluar dari mobil untuk menyambut putranya,


"Dimana mainan robot yang aku minta kau untuk membelinya" tanya Aland kepada Grey.


"Mainan itu terlalu besar Tuan Aland, tidak akan bisa masuk kedalam mobil. Sehingga saya meletakkannya dikamar Tuan Muda" sahut Grey.


Sebuah Mainan action figure Optimus Prime yang menjadi salah satu karakter Transformers berukuran besar. Aland tidak mengira jika mainan super mahal dan limited edition yang diidamkan setiap anak-anak di dunia itu memiliki ukuran yang begitu besar.


"Tapi saya sudah menyiapkan ini Tuan, saya yakin Tuan Muda akan menyukainya" ucap Grey memberikan sebuah paparbag berisi action figure PG 1/60 RX-78-2 Gundam Gold Version yang memilki harga super fantastik sebagai mainan.


Aland pun akhirnya turun dari mobilnya dengan hadiah yang sudah ada ditangannya itu. Aland melambaikan tangannya tatkala melihat Marvel yang berjalan keluar dari gerbang sekolah.

__ADS_1


"Grey, pergi kawal putraku sekarang!" perintah Aland meminta Grey pergi mendampingi Marvel. Bahkan ia meminta Grey membawa payung agar terik matahari tidak membakar kulit putranya.


Grey pun segera menghampiri Marvel, ia menyambut Marvel dengan hormat dan mempersilahkannya Marvel untuk berjalan bersamanya menuju mobil Aland.


'Sepertinya Tuan Pokemon sudah mengetahui hasilnya" tebak Marvel sembari melirik Grey yang masih berdiri memayungi dirinya.


"Benat, tanpa hasil pun papa akan tetap datang kemari" sahut Aland.


Aland memberi hadiah ditangannya kepada Marvel, ia berharap Marvel akan menyukai hadiahnya. Marvel hanya diam menatap Aland, ia mengabaikan hadiah yang Aland berikan kepadanya.


'Kenapa? Marvel tidak menyukainya? Masih ada banyak lagi yang lain di dalam sana" ujar Aland menunjuk mobilnya. "Grey cepat ambilkan" lanjut perintahnya kepada Grey.


Marvel masih saja hanya diam seolah tidak tertarik dengan semua hadiah yang sudah disiapkan Aland untuk dirinya.


"Grey apa aku salah?" tanya Aland memberi kode kepada Grey.


Aland sama sekali tidak memiliki niatan memanjakan putranya dengan uang atau menunjukkan kekayaan nya itu. Namun ia sungguh sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebagai seorang pebisnis yang hanya tau bergelut dengan urusan bisnis, tentu saja membuatnya sangat kaku dengan hal seperti ini. Tidak ada yang bisa ia banggakan kecuali keberhasilannya sebagai seorang pebisnis muda.


Aland hanya bisa mengandalkan referensi dari Grey. Namun sepertinya tidak ada yang bisa diandalkan dai Grey yang juga tidak memiliki pengalaman apapun bagaimana memanjakan seorang anak karena ia sendiripun juga belum pernah memiliki seorang anak.


"Ada yang lebih penting dari itu semua yang dilakukan seorang ayah saat menyabut putranya" ucap Marvel menoleh ke arah siswa lain yang juga dijemput oleh orang tua mereka.


Terlihat para orang tua yang menyambut putra-putrinya dengan pelukan penuh dengan kebanggaan terhadap anaknya yang berhasil melewati hari sekolahnya. Tidak sedikit dari mereka yang menggandeng tangan anaknya dan berjalan bersama.


Melihat hal itu, Grey segera memberi kode kepada Aland untuk untuk memberikan Marvel sambutan sebuah pelukan. Grey berusaha memperagakan seorang diri agar Aland paham dengan maksudnya.


Aland lalu jongkok, ia mengimbangi tinggi putranya. "Maafkan papa sayang, jika papa tidak peka dengan hal itu. Tapi dalam hati papa, papa sungguh bahagia dan menantikan momen ini" ucap Aland merentangkan tangannya untuk menyambut Marvel dan memeluknya.


Marvel pun tersenyum dan ia langsung menghampiri Aland dan memeluk erat. Sebuah kisah yang membuat Grey terharu, tanpa bertepuk tangan tanpa suara secara tidak langsung memberi selamat kepada tuannya itu.


Di toko roti barunya, Anggun terlihat panik saat mendapat kabar dari Joan jika dirinya tidak menemukan Marvel. Joan terlambat keluar sekolah sehingga tidak bersama Marvel yang lebih dahulu keluar kelas. Anggun segera meminta Damian mengerahkan semua anggota Elang untuk menemukan putranya.


Dengan penuh kecemasan, Anggun mengemasi barangnya hendak keluar meninggalkan toko untuk mencari putranya. "Mia, tolong  jaga toko dengan baik, aku akan keluar sebentar" ucap Anggun kepada stafnya.


"Ma...."


Terdengar suara Marvel memanggil dirinya, Anggun menoleh dan ia pun segera menghampiri putranya yang sudah berdiri. "Sayang, apa kau pulang sendiri?" tanya Anggun dengan memeluk putranya.


"Marvel pulang dengan papa" ucap Marvel membuat Anggun terkejut.


"Papa?" tanya Anggun.


Bersamaan dengan itu Aland masuk dan menjawab pertanyaan Anggun kepada Marvel. "Ya, papa" sahut Aland menatap Anggun.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2