Mata Elang

Mata Elang
BAB 11 – Happy Birtday Baby


__ADS_3

Anggun kembali pulang ke apartemen dengan perasaan penuh kekesalan dan juga letih. Meskipun belum satu hari, tapi waktu terasa begitu sangat panjang baginya. Setelah pintu terbuka, senyum manis langsung terbit di bibir Anggun ketika melihat wajah manis putra kecilnya yang sudah menyambut di balik pintu.


"Sayang, Marvel disini menunggu mama?" tanya Anggun.


"Apa mama baik-baik saja?" tanya Marvel menatap Anggun.


Anggun langsung memeluk erat Marvel. "Mama baik-baik saja sayang, mama hanya lelah karena begitu semangat dan banyak belanja" jawab Anggun.


Marvel menghela nafas mengiyakan apa yang dikatakan Anggun, pertanyaan Marvel sebenarnya bukan untuk itu. Marvel sudah tahu apa yang terjadi dengan mama nya hari ini. Video insiden yang dialami Anggun sudah tersebar luas dan menjadi tranding topik, maka sangat tidak mungkin seorang Marvel tidak mengetahui hal itu.


Marvel membalas pelukan mamanya. " Mama tahu kan jika Marvel selalu ada dan selalu mendukung mama" ucap Marvel.


Anggun melepas pelukannya dan mendekap kedua pipi putranya. "Mama sangat sangat sangat tahu sayang. Terima kasih sayang, mama sangat mencintaimu" ucap Anggun lalu mengecup lembut kening putranya.


.


.


Keesokan harinya...


Matahari masih belum menampakkan diri, jam dinding masih menunjukkan jam 2 petang, tapi Anggun sudah harus bangun untuk mempersiapkan perayaan ulang tahun Marvel. Perayaan ulang tahun sederhana yang selalu mereka lakukan berdua saja setiap tahunnya.


Anggun disibukkan membuat cake spesial untuk putranya. Tidak hanya sampai disitu, ia juga menyiapkan dekorasi bertema gaming dengan replika benda-benda gaming dan segala accesories nya seorang diri.


Anggun bisa saja meminta Damian untuk mengurus semua persiapan itu, namun Anggun tidak ingin meminta bantuan atau merepotkan orang lain. Anggun ingin menyiapkan sendiri kejutan untuk orang tersayangnya.


Waktu sudah pagi, hanya menyisakan sedikit sentuhan pada dekorasi maka Anggun telah menyelesaikan semua persiapan untuk ulang tahun Marvel.


Cahaya matahari pagi mulai menampakkan sinarnya, menerobos sisi-sisi jendela yang terbuka dari living room apartemennya. Anggun semakin membuka penuh tirai jendela dan menyambut pagi yang begitu cerah. Menatap keindahan sunrise yang tak hanya sebatas keindahan alam saja, tetapi juga memiliki kenangan sendiri bagi Anggun.


Ya, pada hari kelamnya beberapa tahun lalu, sunrise itulah yang menyambut luka pahit dalam hidupnya. Setiap tahun di hari ulang tahun putranya, Anggun selalu memikirkan pria itu, pria yang sudah membeli dan merenggut kesuciannya.


Anggun bergegas melangkahkan kaki menuju kamar Marvel, ia menatap wajah putranya yang masih tertidur lelap. Kejadian kelam itu mungkin telah menjadi peristiwa yang sangat Anggun sesali, tapi tidak dengan keputusannya membesarkan Marvel yang telah manjadi berkah dalam hidupnya.

__ADS_1


"Selamat Ulang Tahun Sayang, mama sangat mencintaimu" ucap Anggun mengecup kening Marvel.


Kecupan Anggun membangunkan Marvel. "Mom..." sapa Marvel.


Marvel menguap lalu diikuti dengan matanya yang perlahan membuka mata. Marvel meraih tangan Anggun lalu ia jadikan sandaran di pipih kenyalnya. Marvel sangat menyukai tangan lembut nan hangat milik ibunya itu.


"Apa hari ini Marvel membuat mama lelah lagi karena harus menyiapkan ulang tahun Marvel?" tanya Marvel dengan tatapan sendu.


"Tidak sayang, mama justru sangat senang melakukan semuanya untuk putra mama" sahut Anggun.


"Maafkan Marvel ya mah" ucap Marvel lagi.


Anggun tersenyum, ia lalu membantu putranya untuk bangun dan duduk dengan mata yang masih terlihat sedikit lelah di sana. Marvel berdiri kemudian melangkahkan kaki nya ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Anggun sudah menyiapkan masakan kesukaan Marvel. Seluruh meja kini penuh dengan makanan dan Cake yang tertancap lilin-lilin kecil. Anggun menyambut putra kecilnya yang bejalan ke ruangan dengan nyanyian selamat ulang tahun yang ia nyanyikan.


Marvel tersenyum ia melakukan make a wish sebelum akhirnya meniup lilin pada cake yang dibawa Anggun.


"Tuhan, berikan kesehatan selalu kepada Marvel dan ibu Marvel. Marvel ingin Engkau persatukan kedua orang tua Marvel. Bukalah mata hati mama untuk menerima ayah Marvel jika kelak Marvel menemukan ayah Marvel"


"Selamat Ulang tahun putra kecil mama" ucap Anggun dengan menghujani begitu banyak ciuman di wajah putranya.


Anggun menatap putranya yang menyantap makan favoritnya dengan lahap. Sebuah perayaan sederhana penuh dengan cinta tanpa adanya sosok suami dan ayah dalam keluarga kecil mereka.


Anggun pun sesungguhnya merasa sedih jika harus memandang putranya harus melewati setiap perayaan ulang tahunnya tanpa adanya sosok ayah. Tapi Anggun pun tidak pernah tahu siapa sebenarnya ayah kandung Marvel.


Pernah terbesit dalam benak Anggun untuk mencari pria yang telah mencuri mahkotanya dan memberinya malaikat kecil yang kini ada di hadapannya. Namun niat itu urung dan ia buang jauh-jauh dari pikirannya. Jujur, Anggun tidak mengenal jelas siapa dan seperti apa pria itu, apakah dia pria yang baik atau sebaliknya.


Anggun tidak ingin pria itu mengetahui keberadaan Marvel. Pria itu telah membeli dirinya dan menaruh benih di dalam rahimnya, hal itu yang membuat Anggun takut jika dia akan datang dan mengklaim Marvel adalah putranya. Anggun takut jika pria itu akan merebut dan membawa Marvel jauh darinya.


"Mom...." panggil Marvel melihat Anggun menatapnya dengan tatapan kosong.


"Mom..." panggilnya lagi dengan menyentuh bahu Anggun.

__ADS_1


Anggun sontak terkejut, ia tidak menyadari jika putranya sudah berdiri di sampingnya. "Maafkan mama sayang" ucap Anggun.


Anggun bangkit dari duduknya, ia lalu pergi mengambil hadiah yang sudah ia siapkan untuk Marvel. Marvel terlihat sangat bahagia membuka hadiah dari Anggun.


"Waaah, Marvel sangat menyukainya. Terima kasih ma" ucapnya melihat Hoodie edisi terbaru dari brand favoritnya untuk menambah koleksi.


"Sama-sama sayang" sahut Anggun tersenyum bahagia melihat senyum putranya.


"Bagaimana mama bisa mendapatkannya? Karena Hoodie ini mungkin tidak akan ada banyak di negara ini" ucap Marvel sembari mencoba memakainya.


"Eeemmm?" sahut Anggun terkejut dengan pertanyaan sederhana itu.


Mendengar hal itu membuat Anggun terpikirkan kejadian memalukan dimana dirinya berebut dengan seorang pria seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sebuah permen. Anggun tidak ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Marvel karena itu sangat memalukan.


"E... itu...." ucap Anggun berpikir keras.


"Mama tidak berebut dengan orang lain karena edisi terbatas kan ma?" tanya Marvel usai berhasil mengeluarkan kepalanya dari lubang tudung hoodie.


Mata Anggun membulat dan ia pung langsung cegukan, dengan cepat Anggun menggelengkan kepala.


"Marvel hanya menebaknya saja kan? Dia tidak melihatnya kan? Tidak mungkin" batin Anggun lalu tersenyum kepada Marvel.


"Mama memesannya by online sayang" jelas Anggun.


"Kenapa mama tidak berterus terang saja jika sudah bertemu dengan Tuan Pokemon" ucap Marvel dalam hati menciutkan bibirnya.


Marvel sesungguhnya sudah tahu jika Anggun telah bertemu dengan Aland, si Tuan Pokemon.


"Benarkah,terima kasih ya ma" ucap Marvel bersikap seolah percaya dengan ucapan Anggun.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2