Mata Elang

Mata Elang
BAB 20 – Akhirnya Aku Menemukanmu


__ADS_3

Anggun mengemas semua barangnya dan pamit dan mengatakan jika dia tidak bisa melanjutkan pemotretan. Anggun berjalan meninggalkan studio dengan kaki yang gemetar. Ia tidak percaya jika Aland, pria yang selalu menyebalkan itu adalah pria misterius yang sudah membeli tubuhnya dan merenggut kesuciannya. Seorang pria yang telah menanamkan benih dan juga ayah biologis Marvel.


"Itu tidak mungkin" ucap Anggun menolak kebenaran itu.


Melihat tato burung Elang yang ada pada tubuh Aland, membuat Anggun kembali mengingat kenangan pahit malam itu. Sebuah malam panas yang ia lewati bersama Aland. Ia teringat bagaimana dirinya menggoda dan menyerahkan tubuhnya secara sukarela karena pengaruh obat perangsang yang di berikan oleh Azka. Mengingat hal itu membuat sekujur tubuh Anggun seketika menjadi lemas, bahkan ia hampir tidak bisa menopang tubuhnya.


"Mom...." teriak Marvel yang menyambutnya di luar.


Anggun terkejut dengan kehadiran Marvel yang datang dengan Damian untuk menjemputnya.


"Anggun... !" panggil Aland yang mengejar Anggun.


Panggilan Aland yang mencoba menghentikan langkah Anggun membuatnya panik. Anggun segera berlari menghampiri Marvel, ia memeluk tubuh Marvel untuk menutupi wajah Marvel karena tidak ingin Aland melihatnya.


Grey yang baru saja kembali dari membelikan kopi panik akan situasi yang terjadi, ia berusaha membantu Aland menahan Anggun dan Marvel.


"Ada apa ma?" tanya Marvel melihat kepanikan di wajah mamanya.


"Nona Anggun, apa pria itu?" tanya Damian segera membukakan pintu mobil untuk Anggun dan Marvel.


Namun semuanya sudah terlambat, Aland menghampiri keduanya dan meminta Anggun melepaskan pelukannya karena ia ingin melihat wajah anak itu.


"Kau tidak punya hak untuk melihat putraku" ucap Anggun.


"Aku punya hak jika benar aku adalah ayah biologis anak ini" sahut Aland. "Jika aku tidak memiliki ikatan apapun, kenapa kau menghindariku? Kenapa kau menyembunyikannya dariku? " lanjut tanya Aland.


Anggun semakin erat memeluk tubuh Marvel, sekujur tubuhnya menjadi semakin lemas dan dingin. Kondisi yang membuat Marvel semakin takut dengan apa yang terjadi dengan mamanya.


"Mama baik-baik saja kan ma" tanya Marvel masih dalam pelukan Anggun. Bahkan Anggun tidak memberinya ruang untuk bernafas.


"Ma, marvel tidak bisa bernafas ma" lanjut ucap Marvel.


Mendengar hal itu, Anggun perlahan melepaskan pelukannya, ia pun berdiri dan berbalik memandang ke arah Aland yang sudah dari tadi berdiri di belakangnya. Anggun sadar jika dirinya tidak akan pernah bisa menghindari situasi ini. Meskipun belum ada bukti jika Aland adalah ayah biologis Marvel. Tapi, tato burung Elang itu, dress,  sikap dan penyataan Aland menunjukkan jika benar Aland adalah pria itu.


Aland terdiam menatap Anggun dan Marvel yang kini berdiri didepannya, ia semakin yakin jika Anggun adalah wanita misterius itu dan bocah itu adalah anaknya. Seorang anak yang memilki wajah sangat mirip dengan dirinya sewaktu kecil.


"Akhirnya kita bertemu lagi" ucap Aland melihat Anggun mengenakan dress yang sama persis saat pertama kali mereka bertemu 7 tahun lalu.

__ADS_1


Senyum terurai dibibir Aland karena akhirnya ia menemukan wanita yang ia cari, bahkan wanita itu telah memiliki anak dari bibit yang ia tanam pada malam itu.


"Apa kita bisa pergi sekarang Ny. Anggun?" tanya Damian melihat wajah Anggun yang sudah terlihat semakin pucat.


"Kita kembali sekarang Damian" ucap Anggun menggandeng tangan Marvel untuk masuk mobil.


"Tunggu" perintah Aland menahan lengan Anggun. "Apa kau ingin lari lagi seperti waktu itu?" lanjut tanya Aland.


Anggun mendengus kasar disusul senyum sinis. "Jadi itu benar dirimu?" tanya Anggun.


Anggun tidak mengerti kenapa Aland masih mengingat apa yang terjadi malam itu, bahkan ia terlihat seperti sedang mencari dirinya. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana Aland masih menyimpan dress yang saat ini ia kenakan lagi.


"Bagaimana dengan tes DNA?" sahut tanya Marvel memotong ketegangan keduanya.


"Marvel... !" teriak Anggun.


Anggun tidak menyangka jika hal yang tidak ingin Anggun lakukan itu justru keluar dari mulut Marvel. Aland menghampiri Marvel, ia menunduk menyeimbangkan tingginya dengan anak itu. Tangan Anggun semakin erat menggenggam tangan Marvel.


Aland meraih kedua pipi Marvel yang menggemaskan. "Anak yang pintar" ucapnya lalu mengusap rambut Marvel. "Kita tidak perlu membuang waktu untuk berdebat atau menyangkal. Aku akan menjadwalkan tes DNA" lanjut ucap Aland memandang Anggun.


Anggun hanya diam, ia masih terlihat sangat shock dengan situasi yang ia hadapi. Ia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa lagi. "Damian, mari kita pergi sekarang" perintah Anggun.


"Dia tidak akan kemana-kemana lagi" sahut Aland.


"Bagaimana anda bisa yakin?" tanya Grey.


"Karena sepertinya anak itu sudah tahu banyak tentangku, dia sudah mengincar dan menjadikanku targetnya" sahut Aland.


Aland mulai mengerti kenapa di pertemuan pertamanya dengan Marvel, Marvel memanggilnya dengan sebutan Tuan Pokemon. "Kita akan bertemu lagi Tuan Pokemon". Ya, ucapan Marvel itu yang terus terngiang dalam pikiran Aland.


.


.


.


Sepanjang perjalanan di dalam mobil Anggun sama sekali tidak melepaskan tangan Marvel. Ia terus menggenggamnya seolah takut jika pria itu akan datang merampas dan membawa pergi putra kecilnya.

__ADS_1


Pikiran Anggun terlihat sangat kacau, kegelisahan terus menyelimuti hatinya. Ia tidak percaya jika CEO Hamilton Group itu kemungkinan besar adalah ayah biologis putranya. Tidak ada jawaban yang pasti kecuali melakukan tes DNA.


Sesampai di apartemen Anggun langsung pergi ke kamarnya untuk istirahat. Ia bahkan masih belum melepaskan tangan Marvel. Dengan senang hati Marvel mengikuti Anggun ke kamarnya. Menatap wajah putra kecilnya yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya membuat Anggun tertunduk sejenak.


"Maafkan mama sayang, mama hanya takut jika harus kehilanganmu" ucap Anggun menatap dirinya yang masih tidak mau melepaskan tangan Marvel.


Anggun mulai melepaskan tangan putranya dan memintanya untuk pergi membersihkan diri dan istirahat.


"Marvel boleh meninggalkan mama untuk membersihkan diri dan pergi istirahat. Mama sudah memberitahu Damian jika hari ini atau beberapa hari kedepan Marvel tidak perlu pergi ke Cloud-9 dahulu" ucap Anggun.


"Mama yakin tidak perlu Marvel temani?" tanya Marvel yang masih cemas.


"Mama baik-baik saja sayang, mama hanya perlu istirahat dan menenangkan pikiran mama" ucap Anggun dengan senyum yang lemah.


Anggun yang hendak istirahat terbangun mendapat pesan dari nomor baru tidak di kenal.


[ Aku tahu kau adalah wanita yang bijak dan bisa memutuskan mana yang benar dan apa yang seharusnya dilakukan. Tes DNA itu, aku bisa memberimu waktu jika kau tidak ingin terburu-buru. Tapi, aku harap kau juga bisa mempertimbangkan perasaan Marvel. Dan satu hal lagi, mulai saat ini bahkan sampai kebenaran itu terbukti nanti, aku akan tetap menganggap jika dia adalah putraku ] - Aland.


Anggun tidak heran bagaimana Aland begitu cepat bisa memiliki nomor teleponnya. "Sepertinya semua akan menjadi semakin sulit" ucap Anggun usai membaca pesan itu, ia tiada henti memijit keningnya.


Anggun bangun dan terdiam, ia  menatap foto dirinya bersama Marvel. Ia mengusap bagian wajah Marvel pada photo itu. Mungkin sudah menjadi garis takdir jika dia bertemu dengannya lagi. Anggun mungkin bisa memutuskan apakah dirinya akan menerima pria itu atau tidak, tapi ia tidak bisa memaksakan keputusan yang sama kepada Marvel.


.


.


Di ruangannya, Aland membaca data pribadi Anggun dan Marvel yang ia dapat dari Grey.


"Apa yang akan anda lakukan jika hasil dari tes DNA menyatakan anak itu adalah putra anda?" tanya Grey.


"Apalagi jika bukan menjadi seorang ayah" sahut Aland dengan tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2