Mata Elang

Mata Elang
BAB 6 – Tuan Pokemon


__ADS_3

Sebelum memulai sekolahnya, Marvel berusaha mencari kesempatan dengan diam-diam mencaritahu lebih dalam soal Pangeran Aland. Dengan kemampuan IT yang dimiliki, Marvel mencuri data dengan meretas jaringan melalui akses tidak sah ke perusahaan Hamilton Group. Marvel akhirnya mendapatkan informasi pribadi Aland.


Marvel diam-diam pergi ke Perusahaan Aland untuk mengintai kehidupan sehari-hari Aland, bahkan ia akan terus mengikuti Aland sampai menemukan jawaban apakah Aland adalah ayahnya atau bukan.


"Grey, batalkan jadwal siang ini dan katakan kepada Ben jika aku akan mengunjungi pabrik di wilayah A" ucap Aland memasuki perusahaan. Ia memberi perintah kepada Grey yang berjalan di belakangnya.


Semua staf langsung menghentikan aktifitasnya dan membungkukkan badan ketika melihat kedatangan Aland yang berjalan ke arah lift. Para staf yang sudah berdiri di depan pintu lift segera menjauh mengambil langkah mundur untuk mempersilahkan Aland masuk lebih dahulu. Mereka semua tentu saja tidak ada yang berani berada dalam satu lift dengan orang nomor satu di perusahaannya itu.


Di antara para karyawan, Marvel berdiri menatap tajam ke arah Aland yang memasuki lift. Grey sudah akan menutup pintu lift, namun tiba-tiba dihentikan oleh Aland ketika sekilas ia melihat kehadiran Marvel.


"Tunggu Grey" perintah Aland.


Mendengar perintah Aland membuat para staf yang berdiri diluar lift menjadi tegang, mereka menatap diri sendiri lalu saling menatap satu sama lain. Para staf tahu jika Aland adalah orang yang paling mengutamakan kerapian dalam penampilan.


"Kau..." tunjuk Aland kepada seorang wanita yang berdiri tepat di depan lift.


"Y... ya pak" sahut wanita itu dengan gugup.


"Apa ada yang salah dengan penampilanku hari ini" lanjut batin wanita semakin panik.


"Kau... minggir!" lanjut perintah Aland meminta wanita itu pindah dari tempatnya berdiri saat ini.


Mendengar perintah Aland, wanita itu segera minggir. Di balik tubuh wanita itu berdiri Marvel yang menutupi wajahnya dengan masker.


"Kenapa bisa ada bocah di perusahaanku?" tanya Aland.


Semua mata langsung tertuju kepada Marvel, para staf pun terlihat bingung seolah mereka juga tidak menyadari jika sedari tadi ada seorang anak kecil diantara mereka.


"Jangan bilang jika aku tak kasat mata" batin Marvel melihat ekspresi mereka.


Tanpa ada rasa takut Marvel melangkah mendekati lift. "Saya putra Tuan Ayden yang berada di departemen umum. Saya datang untuk mengantar kotak obat milik ayah saya yang tertinggal" ucap Marvel dengan mengacungkan tas mini ditangannya.


Marvel hanya asal menyebut nama dari seorang pria yang tidak sengaja bertemu dengannya tadi saat masuk. Tertulis jelas pada name tag pria itu siapa namanya dan bekerja untuk departemen umum.


"Kau..." kembali tunjuk Aland kepada wanita tadi. "Bereskan dan beritahu anak ini bagaimana aturan dalam menyerahkan barang untuk staf" lanjut perintah Aland.


"Grey, beri surat peringatan kepada petugas keamanan karena telah lalai dalam memperketat penjagaan keluar masuk perusahaan ini" perintah Aland lalu meminta Grey untuk menutup pintu lift.


"Tuan, dia masih anak-anak, apakah anda tidak ingin memberinya sedikit kebijakan, saya rasa anak itu juga tidak akan paham dengan aturan yang akan dijelaskan" ucap Grey.


"Justru karena dia anak-anak, maka tidak ada kebijakan. Apa kau sudah lupa?" tanya Aland.


Grey segera menjawab pertanyaan Aland dengan tegas. "Selain memiliki kepentingan yang berhubungan dengan perusahaan atau mengantongi izin khusus, maka tidak diperkenankan anak-anak memasuki perusahaan" ucap Grey yang sudah menghafalnya seperti robot.


"Bagus, tutup liftnya sekarang" perintah Aland.

__ADS_1


"Tapi bukankah mengantarkan obat untuk ayahnya juga urusan yang sangat penting" keluh Grey dalam hati.


Marvel menatap lift yang tertutup. "Bagaimana mungkin pria tadi adalah ayahku? Sikapnya dingin sekali" gerutunya. "Ah..., aku lupa memeriksa tato ditangannya" lanjutnya.


Tujuan Marvel mendatangi perusahaan Aland adalah untuk memastikan apakah pria itu memiliki tato burung Elang ditangannya. Namun, karena perlakuan dingin Aland membuat Marvel lupa akan tujuan utamanya.


.


.


Usai mengunjungi perusahaan Aland, Marvel duduk di Cafe tidak jauh dari perusahaan itu. Marvel tampak sibuk dengan komputernya setelah menerima email dari Damian. Dalam email itu Damian mengirimnya data kelompok mafia yang memilki tato burung ditangannya sebagai tanda keanggotaan.


Jari-jari Marvel bergerak dengan cepat, mata Marvel bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti setiap teks yang ia ketik pada layar dengan background hitam itu. Marvel berusaha membobol situs pribadi kelompok mafia yang dikirim Damian. Hanya butuh waktu tidak sampai 5 menit Marvel berhasil memecahkan rumus sandi keamanan pada situs itu.


"Dixon Mafia?" ucap Marvel menyebut nama kelompok Mafia itu. "Jika tato burung Elang adalah tanda keanggotaan kelompok mereka, itu artinya semua orang yang menjadi anggota memilki tato yang sama." lanjut ucap Elang berbicara seorang diri.


Fakta ini akan semakin menyulitkan Marvel untuk menemukan ayahnya. Bagaimana tidak, karena ia harus menemukan siapa ayahnya diantara begitu banyak anggota Dixon Mafia yang semuanya memiliki tato burung Elang yang sama. Marvel menutup laptopnya, saat ini ia hanya perlu membuktikan apakah Aland memilki tato itu atau tidak.


"Akhirnya aku menemukanmu" ucap Joan yang tiba-tiba muncul dan duduk disebelah Marvel.


"Apa Tuan Damian yang mengirim mu?" tanya Marvel.


"Damian hampir frustasi karena tidak bisa melacakmu, jika ibumu tahu dia tidak mengetahui keberadaanmu habislah riwayatnya ditangan ibumu" ucap Joan dengan tertawa.


"Tamatnya riwayat Tuan Damian juga akan menjadi akhir dari riwayatmu" sindir Marvel tanpa rasa humor.


Joan masih penasaran, misi apa yang membuat Marvel terjun langsung dalam pengintaian. Ia juga sangat ingin tahu siapa Pokemon yang sudah sampai menyibukkan Marvel begitu tiba di negara ini. Pertanyaan itu hanya sampai pada pikirannya, baginya percuma untuk bertanya karena Marvel juga tidak akan memberitahunya.


Tidak lama Joan merasakan sakit pada perutnya dan ia perlu pergi ke toilet. Joan meminta Marvel untuk tetep menunggunya di sana karena dirinya akan pergi mencari toilet umum.


"Ingat, jangan kemana-mana, tunggu aku ok!" perintah Joan lalu pergi meninggalkan Marvel.


Tidak selang lama setelah Joan pergi, Marvel mendengar seorang wanita berteriak. Marvel segera bangkit dari duduknya pergi mencari sumber suara itu. Marvel melihat seorang wanita yang sedang dihadang oleh 3 preman. Mereka mencoba untuk merampok wanita itu.


"Paman, bukankah kalian terlalu pengecut jika hanya berani dengan wanita" ucap Marvel kepada 3 preman yang memiliki tubuh kekar dan jauh lebih besar darinya.


Mendengar suara itu, ketiga pria bertubuh besar itu menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari belakang mereka. Mereka lalu tertawa bersamaan setelah mengetahui jika hinaan itu datang sari seorang bocah kecil yang terlalu berani.


"Hei bocah, apa kau anak wanita ini? Katakan padanya cukup kasih uang yang dia punya dengan tenang maka kita juga akan pergi dengan tenang" ucap salah satu dari mereka.


"Apa paman preman? Hanya preman yang selalu merampas uang yang bukan hak kalian. Kalian tahu jika itu tindakan kriminal" tegas Marvel.


"Jangan ganggu anak itu, baiklah ambilah uang ini" ucap wanita itu yang tidak ingin Marvel terluka.


Salah satu dari mereka menghampiri wanita itu berusaha meraih uang yang akan wanita itu berikan. Marvel dengan cepat berlari sembari mengeluarkan penggaris besi dari tasnya.

__ADS_1


Plakkk.....!!!!


Marvel memukul tangan pria yang hendak meraih uang itu sehingga membuat pria itu merintih kesakitan. "Sudah aku bilang jika itu tindakan kriminal" ucap Marvel berbicara seperti orang dewasa dengan tatapan tajam.


Marvel meminta wanita untuk menjauh karena ia akan memberi pelajaran kepada 3 preman itu. Melihat keberanian Marvel membuat para preman geram dan langsung menyerang Marvel bersamaan untuk memberi pelajaran.


Perkelahian tidak terhindarkan, dengan kemampuan bela diri yang dimilki Marvel, ia mampu membuat kewalahan hingga preman itu babak belur. Hanya berbekal penggaris besi dan kemampuan teknik menghindar, Marvel membuat mereka terkecoh sehingga saling memukul satu sama lain.


Ketua dari pria itu marah karena merasa telah di permainkan oleh seorang bocah. Ia tidak terima jika harus kalah dari anak itu. Pria itu lekas mengeluarkan pisau dan ditodongkan kepada Marvel. Melihat hal itu, Marvel segera menghampiri wanita untuk melindunginya, ia meminta wanita itu untuk tetap berada dibelakangnya.


Pria itu semakin mendekatkan langkah kakinya, ia sudah bersiap menikam Marvel. Wanita itu segera memeluk Marvel untuk melindunginya, namun tiba-tiba dari belakang seorang pria memukul leher pria itu dengan satu tangan hingga membuatnya pingsan.


"Berani kalian bertindak kriminal didepan mataku" ucap Aland. "Grey" lanjut ucapnya memanggil sekretarisnya.


"Baik Tuan" sahut Grey yang sudah paham dengan maksud Aland.


Grey segera menghampiri 2 pria yang tersisa. "Ada apa dengan wajah kalian?" tanya Grey melihat 2 pria itu sudah babak belur. "Kau ingin ku kirim ke rumah sakit atau neraka?" lanjut tanyanya lalu memberi hukuman dengan menghajar mereka. Tidak butuh waktu lama, Grey sudah membereskan semua pria itu.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Aland kepada wanita itu dan Marvel.


Wanita itu melepaskan pelukannya dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan Aland.


"Kau...." ucap Aland terkejut.


Aland membulatkan matanya, ia melotot seolah ingin mengeluarkan bola matanya. Aland terkejut melihat wajah Marvel yang sangat mirip dengan dirinya waktu kecil. Begitu miripnya, Marvel bisa dikatakan sebagai duplikat atau kloningan Aland.


"Bagaimana mungkin dia sangat mirip denganku" ucap Aland.


"Tuan Pokemon" ucap Marvel menatap Aland.


"Siapa dirimu?" tanya Aland semakin mendekati Marvel.


Belum sampai menjawab pertanyaan Aland, tiba-tiba Joan datang. Joan dengan cepat meraih tangan Marvel dan menariknya untuk berdiri dibelakang tubuhnya. Joan tidak ingin mereka mengenali atau mengetahui identitas Marvel sebenarnya.


"Terima kasih sudah menyelamatkan adik saya" ucap Joan membungkukkan badannya kepada Aland.


Joan lalu berbalik menghadap Marvel dan memakaikan masker untuk Marvel. "Ayo kita pergi sebelum ada masalah" ajak Joan.


"Kita akan bertemu lagi Tuan Pokemon" ucap Marvel kepada Aland lalu mengikuti Joan meninggalkan Aland dalam rasa penasaran.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2