Mata Elang

Mata Elang
BAB 22 - Tes DNA


__ADS_3

Setelah melewati banyak pertimbangan, Anggun dan Aland kini sudah memutuskan jika akan melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah benar Aland adalah ayah biologis Marvel.


Aland terlihat gugup menunggu Anggun dan Marvel di lobby apartemen. Grey yang menemani Aland pun tak kalah di buat panik dengan pertanyaan-pertanyaan yang bolak-balik dilayangkan Aland.


"Apa kau sudah memastikan jika paman sudah berada di Rumah sakit?" tanya Aland.


"Seperti yang sudah saya infokan sebelumnya jika paman anda masih berada di Jerman. Tapi jangan khawatir Tuan, paman anda sudah mengatur dokter terbaik, bahkan saat ini mereka sudah menunggu kedatangan kita" jawab Grey


Tidak lama Aland kembali memberi kode kepada Grey untuk mendekat dan kembali bertanya. "Apa kau sudah mengatakan kepada dokter jika yang akan melakukan tes DNA adalah anak berusia 6 tahun? Apa mereka bisa memastikan jika ini tidak akan menyakiti fisik atau akan membuat mentalnya down?" tanya Aland.


"Jangan khawatir Tuan, semua aman. Semalam anda pun sudah membaca begitu banyak artikel tetang tes DNA dan berkonsultasi dengan paman anda" jawab Grey lalu kembali mengambil satu langkah mundur kebelakang.


"Grey..." panggil Aland lagi. "Apakah menurutmu Anggun tidak akan mengingkari janji dengan jadwal hari ini?" tanya Aland.


"Saya sudah memastikan dan mendapat konfirmasi jika Ny. Anggun tidak akan berubah pikiran karena dia bukan wanita yang mudah ingkar janji" jawab Grey.


"Grey..." panggil Aland kembali. Grey hanya bisa menghela nafas lalu kembali mendekat kepada Aland.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Aland, semuanya akan berjalan lancar sesuai rencana" ucap Grey memotong ucapan Aland yang hanya baru memanggil namanya. Tanpa mendengar apa yang akan ditanyakan Aland kepadanya, Grey langsung menjawab hal itu.


"Grey aku hanya ingin tanya apa aku terlihat panik?" tanyanya setelah mendengar ucapan Grey.


Grey pun masih dengan penuh kesabaran menganggukkan kepalanya. Meskipun dirinya sudah sangat mengenal sifat bosnya, namun kali ini Aland benar-benar seperti orang yang menderita gangguan kecemasan berlebihan, bahkan ia lupa dengan statusnya sebagai seorang CEO yang terpandang dan terhormat.


Anggun dan Marvel terlihat keluar dari Lift. Ia terkejut dengan keberadaan Aland dan Grey yang sudah berada di Lobby. Anggun masih belum tahu jika Aland adalah penghuni unit Penthouse di apartemen itu.


Marvel menyapa Aland dengan senyum dan menundukkan kepalanya. "Kita bertemu lagi, Tuan Pokemon" ucapnya.


Aland pun menghampiri Marvel, ia memposisikan tingginya untuk bisa setara dengan Marvel. Ia memandang lekat wajah Marvel. " Tuhan, aku sangat yakin jika dia adalah anakku" ucap Aland dalam hati sembari mendekap kedua pipi menggemaskan Marvel.


"Apa anda gugup Tuan Pokemon? " tanya Marvel yang merasakan dekapan tangan Aland begitu dingin. Tangannya hampir sedingin es.


"Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Anggun mengakhiri pembicaraan putranya dengan Aland.


Aland berdiri menatap Anggun, Aland paham akan sikap dingin Anggun terhadapnya, meskipun sesungguhnya Aland lebih menyukai sikap bar bar Anggun selama ini.

__ADS_1


Anggun hanya masih belum bisa menerima kenyataan dan kehadiran Aland yang tiba-tiba muncul dalam kehidupan mereka. Anggun khawatir jika saja Aland akan merebut Marvel dan membawanya pergi jauh darinya. Hal inilah yang menjadi alasan utama kenapa dia bersikap seperti itu terhadap Aland.


Kini mereka telah sampai di Rumah Sakit, Aland langsung di sambut oleh beberapa dokter dan perawat yang memang sudah menunggu kedatangan mereka dari tadi. Ya, tentu saja mereka menyambut Aland dengan penuh rasa hormat karena Aland adalah keponakan dari Direktur Utama Rumah Sakit itu.


Aland menatap Grey dengan mimik protes. "Bukankah aku sudah memintamu mengatur waktu dengan pamanku? tanya Aland yang tidak melihat sosok pamannya diantara mereka.


"Tuan Aland, ini sudah kesekian kali saya menginfokan jika paman anda sedang berada di Jerman" bisik Grey.


Semua Dokter terlihat bingung dengan sikap Aland. Sepertinya Aland sangat gugup dan gelisah sehingga lupa dan blank.


"Tuan Aland, beliau adalah Prof Dr. Willy, Wakil Direktur Pelayanan Medis yang akan yang ditunjuk paman anda" lanjut ucap Grey tersenyum memperkenalkan Dr. Willy kepada Aland.


Dr. Willy langsung membungkukkan badannya memberi rasa hormat kepada Aland. "Saat ini paman anda sedang di luar negeri, dan beliau mengatakan jika anda yang tidak ingin menunggu dan meminta jika pengambilan sempel harus dilakukan hari ini" jawab Dr. Willy.


"Baiklah, jangan menunggu lagi" perintah Aland.


Rumah Sakit hampir di buat heboh diantara para dokter dan perawat lain yang melihat kedatangan Aland bersama dengan seorang wanita dan anak kecil. Mereka pun mulai saling berbisik mengatakan jika wajah anak itu sangat mirip dengan orang yang mereka kagumi dengan sebutan Pangeran Aland itu.


Tidak sedikit dari mereka yang menebak-nebak jika Anggun adalah istrinya dan Marvel adalah anaknya. Mereka mulai beropini jika Aland sudah menyembunyikan statusnya jika dia sudah menikah dan memiliki seorang anak.


Kini Aland dan Marvel sudah bersiap untuk melakukan pengambilan sempel DNA. Sesuai dengan permintaan Aland jika tidak boleh menyakiti fisik dan mental Marvel, Dr. Willy tidak mengambil darah sebagai sempel melainkan usapan selaput lendir pipi Marvel agar dia tidak memilki rasa takut.


"Kapan saya akan mendapatkan hasilnya?" tanya Aland usai melakukan pengambilan sempel.


"Kami akan upayakan secepat mungkin, kami membutuhkan waktu maksimal 2 hari Tuan Aland" jawab Dr.Willy.


Setelah urusan di Rumah Sakit selesai, Aland menawarkan diri untuk membawa Anggun dan Marvel makan bersama, namun Anggun menolaknya.


"Maafkan aku, hasil tes DNA belum keluar jadi kau tidak perlu berlebihan" tolak Anggun.


"Tapi Marvel lapar ma" sahut Marvel dengan menggoyang tangan Anggun yang menggandeng tangannya.


Aland sontak tersenyum, ia merasa jika Marvel sepertinya akan berada di kapal yang sama dengannya. Cukup dengan membuat Marvel menerima dirinya, maka ia akan mudah meluluhkan hati Anggun.


"Jika begitu apa Marvel mau pergi dengan Pa....." ucap Aland mengehentikan ucapannya melihat tatapan tajam mata Anggun saat dia akan mengucap panggilan Papa kepada Marvel.

__ADS_1


"Tentu saja Tuan Pokemon, Marvel ingin makan Uncle Ice Cream Sandwich" sahut Marvel.


"Ice Cream? Sandwich?" Marvel ingin makan Sandwich dan Ice Cream?" tanya Aland dengan bingung.


"Marvel bukan ingin makan Sandwich, Tuan Pokemon tidak tahu?" tanya Marvel.


Aland dengan cepat memanggil Grey dan berbisik. "Apa yang dia maksud bukan Sandwich yang terdiri dari sayuran, keju atau daging yang diiris. Apa ada makanan lain dengan nama yang sama?" bisik Aland.


Aland tampaknya tidak paham dengan jajanan yang sedang diminati banyak anak-anak seusia Marvel. Grey menjelaskan jika Uncle Ice Cream Sandwich yang dimau Marvel adalah jajanan sederhana yang berasal dari Singapura.


"Aku tidak peduli makanan apa itu, tapi cepat cari tahu dimana kita bisa mendapatkannya" perintah Aland.


Grey pun bersiap menyiapkan mobil, ia seolah sudah tahu dimana bisa menemukan makan yang diinginkan Marvel. Sementara Anggun tidak bisa menolak lagi karena Marvel menerima tawaran Aland.


Setelah hampir 30 menit berkendara Grey menepikan kendaraannya di pinggir jalan. "Kenapa kau berhenti Grey?" tanya Aland.


"Karena kita sudah sampai" sahut Grey.


"Bukankan kau bilang itu adalah makanan khas Singapore, kenapa kita tidak pergi ke restoran yang menyajikan makanan Singapore?"


"Itu di sana"  sahut Marvel menunjuk ke arah penjual kaki lima yang ada di pinggir jalan.


Terlihat seorang penjual kaki lima yang menjual jajan khas Singapore yang mengkombinasikan roti dengan ice Cream itu. Aland mengerutkan keningnya, sangat mustahil baginya untuk makan atau bahkan hanya sekedar menikmati jajanan di pinggir jalan.


Anggun pun tersenyum penuh arti melihat mimik wajah Aland yang terlihat heran akan permintaan Marvel yang ingin makanan sederhana daripada pergi ke restoran mewah. Anggun merasa sepertinya Marvel sengaja melakukannya untuk mengajarkan sesuatu kepada Aland.


"Jika kau tidak mau, kau bisa pergi. Aku dan Marvel bisa kembali sendiri nanti" ucap Anggun membuka pintu Mobil.


"Ayo sayang, mama akan membelikannya untukmu" lanjut ucap Anggun menggandeng Marvel keluar dari mobil Aland.


Grey memberi kode kepada Tuannya untuk ikut turun dan pergi bersama dengan mereka. Ia pun memberi semangat kepada Aland yang akan mendapatkan pengalaman baru karena anak kecil itu. Meskipun dengan berat hati, Aland pun akhirnya memutuskan turun dari mobil mengikuti Anggun dan Marvel.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2