
Anggun mengepalkan kedua tangannya menatap pria itu. “Tidak ada yang bisa aku tuntut darimu karena mungkin kau sudah membayar penuh atas tubuhku. Tidak ada gunanya membalas dendam pada pria hina seperti dirimu yang mencari kepuasan dengan memainkan wanita sepertiku. Pastikan kau tidak bertemu denganku lagi atau aku akan membuatmu menyesal” ancam Anggun yang berbicara seorang diri lalu pergi meninggalkan kamar hotel.
Aland akhirnya terbangun tidurnya, ia tersenyum kecut karena tidak melihat gadis yang sudah bercinta dengannya semalam. Ia tidak percaya jika dirinya ditinggalkan begitu saja oleh wanita yang sudah menggoda dan menikmati tubuhnya. Aland mencari pakaiannya namun justru hanya menemukan pakaian gadis itu.
“Aku yang bodoh atau gadis itu yang terlalu gila” ucap Aland sembari bangkit dan meraih jubah hotel untuk ia pakai.
Aland tidak habis pikir, ini adalah hal gila yang terjadi sepanjang hidupnya. Ia merasa seperti sedang dicampakkan oleh wanita yang berhasil membuatnya tergoda, lalu kabur begitu saja bahkan dengan pakaiannya.
Aland meraih ponsel miliknya yang tergeletak dilantai. Ponsel itu mati karena ulahnya sendiri yang mematikannya karena terganggu dengan dering panggilan masuk saat bersama Anggun. Aland segera menghubungi sekretarisnya bernama Gray, ia meminta Grey segera membawakan pakaian untuknya.
“Bawakan pakaianku ke hotel A, sekarang!” perintah Aland seketika Gray menjawab panggilannya.
“Maaf Tuan Aland, Tuan Aaron ingin berbicara dengan Anda” potong Gray mengabaikan perintah Aland.
“Dasar anak tidak berguna!” teriak Aaron yang sudah mengambil alih ponsel Gray. Aaron adalah ayah Aland, seorang ketua dari kelompok Mafia yang menyebut kelompok mereka dengan panggilan Dixon Mafia.
“Ayah” panggil Aland.
"Kau sendiri yang mengatakan akan menyelesaikan kesepakatan bisnis itu, tapi apa yang kau lakukan? Tuan Ramon mengatakan hanya bertemu dengan pria mabuk tidak jelas. Apa semua itu ulahmu hah ?" lanjut teriak Aaron.
Aland hanya diam, ia berpikir dan berusaha memahami situasinya. Dirinya sudah hendak menjalankan tugasnya tapi malah bertemu dengan wanita penggoda itu. Aland hanya bisa meminta maaf kepada ayahnya dan akan menyelesaikan kesalahpahaman yang mungkin saja terjadi. Aland mengakhiri pembicaraannya dengan sang ayah lalu kembali berbicara dengan Gray.
"Gray, katakan kepadaku berapa no kamar hotel tempat kesepakatan itu?" tanyanya.
Gray menjelaskan jika Aland harusnya berada dalam nomor hotel 1004 untuk menyelesaikan kesepakatan bisnis dengan Tuan Ramon. Gray saat itu menunggu Aland di mobil sesuai permintaan Aland, tapi tiba-tiba mendapat panggilan dari Tuan Aaron yang memintanya mencari Aland.
Gray segera menyusul Aland ke kamar 1004, sebuah kamar yang seharusnya menjadi tempat Aland bertemu dengan Tuan Ramon mitra bisnis ayahnya. Namun kamar itu sudah kosong dan ia tidak menemukan siapapun di sana termasuk Tuan Ramon.
Grey sudah berulang kali mencoba menghubungi Aland namun tuannya itu tidak menjawab panggilannya. Bahkan Aland tiba-tiba malah mematikan ponselnya, setelah itu sudah tidak bisa dihubungi lagi sampai akhirnya Aland sendiri yang menghubungi Gray pagi ini. Bahkan bukan untuk memberi Gray kabar tapi Aland justru memintanya untuk membawakan pakaian ke hotel yang sama tapi kamar yang berbeda.
"Sial, aku telah salah masuk kamar. Lalu siapa gadis itu?" tanya Aland menatap pakaian Anggun yang masih berserakan di lantai.
Menyadari jika dirinya telah salah masuk kamar membuat Aland sedikit merasa bersalah kepada gadis yang sudah ia curi kesuciannya itu. Selain itu ia juga kesal karena kecerobohannya membuat kesepakatan bisnis itu gagal. Aland yang ingin membuktikan kelayakannya sebagai pewaris Hamilton Group kepada ayahnya justru kacau karena cinta satu malamnya dengan Anggun.
Tidak selang lama Gray datang membawakan baju yang ia minta. Gray terkejut melihat bercak darah yang ada pada bedcover dan pakaian wanita yang berserakan dilantai. Sementara Aland berdiri termenung menatap keramaian kota dibalik dinding kaca kamar hotel itu.
__ADS_1
"Tuan, apa yang sudah terjadi?” tanya Gray dengan menyerahkan pakaian Aland.
Aland bisa memaklumi sikap Gray yang saat ini tengah terkejut, karena Gray sangat tahu jika Aland tidak pernah sekalipun bermain malam panas bersama wanita manapun. Sebagai seorang pria yang hanya tahu menjalankan bisnis seperti Aland, wanita adalah hal yang sangat merepotkan.
“Apa anda semalam... " lanjut ucap Gray yang curiga Aland usai bermain malam panas dengan gadis suci karena adanya bercak darah pada ranjang itu.
"Tutup mulutmu dan jangan banyak bertanya. Sekarang cepat cari tahu dimana Tuan Ramon, buat janji dengannya dan katakan aku akan menemuinya" Perintah Aland sembari mengancing kemejanya.
“Baik Tuan Aland” ucap Gray dengan sikap sigap lalu memasangkan Jas hitam pada tubuh tuannya itu.
.
.
.
Di halte bus, Anggun duduk termenung dengan tatapan kosong. Dandanannya tampak kacau dengan mengenakan pakaian pria yang terlihat sangat longgar ditubuh mungilnya. Penampilan Anggun yang tidak biasa membuatnya menjadi perhatian setiap orang yang ada di sana.
“Hei, apa gadis itu tidak waras? Lihatlah pakaiannya.”
“Benar, pasti gadis itu ketahuan saat bermain madu dengan selingkuhannya.”
Anggun berusaha mengabaikan setiap gunjingan dan cemoohan orang-orang yang terus membicarakan dan menatapnya dengan tatapan penuh hina.
“Apa? selingkuh? Hah, siapa yang selingkuh dan siapa yang diselingkuhi” batin Anggun dengan senyum menyeringai.
Anggun masih saja memikirkan nasib memilukan yang menimpa dirinya. Bagaimana tidak, yang terjadi pada dirinya saat ini lebih hina dari sekedar diselingkuhi. Bahkan pria yang mengkhianatinya telah mengantarnya pada dosa.
Anggun merasa bodoh karena telah dibutakan oleh cinta palsu Azka yang sudah lama menjalin hubungan dengannya. Bahkan laki-laki itu mengatakan akan menikah dengan wanita lain setelah tega menjualnya. Anggun terus mengumpat kesal karena baru menyadari sikap busuk kekasihnya itu setelah ia kehilangan kesuciannya. Ia bahkan masih merasakan sakit akibat cinta satu malam dengan pria yang ia pikir telah membelinya. Anggun tertunduk, ia tidak tahu dan tidak melihat jika mobil Aland baru saja melewati Halte bus itu begitu saja.
.
.
Waktu telah berlalu, Anggun mulai merasa ada yang salah dengan tubuhnya, ia terlambat datang bulan dan sering merasa mual. Anggun akhirnya pergi ke dokter untuk memeriksakan dirinya.
__ADS_1
“Selamat ya, anda akan menjadi seorang ibu.”
Anggun terkejut saat mendengar perkataan doker yang mengucapkan selamat karena dirinya akan menjadi seorang ibu. Ucapan selamat yang dilayangkan dokter adalah perkataan yang mengejutkan dan mengiris hatinya.
“I… Ibu…?” batin Anggun tidak percaya.
Anggun hanya membalas dengan senyuman lalu keluar dari ruangan dokter dengan tubuh gemetar, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis dan air mata yang sudah terbendung. Tangannya meremas rok yang dikenakannya dengan pikiran kacau, ia mulai memikirkan nasib masa depannya. Cinta satu malam itu telah membuatnya hamil. Anggun perlahan menjatuhkan bulir-bulir air mata dan membasahi kedua pipinya.
Anggun memikirkan hidupnya sudah hancur, dikhianati dan kini mengandung anak dari cinta satu malam yang ia lakukan dengan pria yang bahkan tidak ia kenal. Bagaimana mungkin ia hamil diluar nikah. Bagaimana mungkin ia bisa menggapai mimpinya jika harus mengandung dan melahirkan bayi itu seorang diri tanpa adanya sosok ayah bagi anaknya nanti.
"Ini tidak boleh terjadi, aku tidak mau melepas mimpiku hanya karena anak ini."
Pikiran Anggun semakin kacau, ia tidak rela jika harus melepas mimpinya dengan melahirkan dan membesarkan anak itu. Untuk gadis seusianya tentu saja akan sulit menerima kenyataan itu. Apalagi semua itu tejadi karena ulah pria brengsek yang telah tega mengkhianati dan menjualnya.
Anggun memutuskan untuk menggugurkan bayi itu. Ya, satu-satunya cara untuk mengakhiri masa suram itu hanya dengan melenyapkan nyawa bayinya. Anggun telah membulatkan tekat, dengan langkah penuh amarah dan luka Anggun berjalan untuk meninggalkan rumah sakit. Anggun membuang kertas resep obat yang diberikan dokter untuk menjaga kesehatan dirinya dan juga bayinya.
“Aku harus menggugurkan kandungan ini.” ucap Anggun dengan tekat yang sudah bulat.
Namun sepertinya takdir berkata lain, sebuah takdir yang berlawanan dengan tekat dan keinginan Anggun yang ingin menggugurkan kandungannya. Saat Anggun hendak keluar rumah sakit, tiba-tiba sebuah mobil ambulan datang dan berhenti tepat dihadapannya. Mobil Ambulans itu menurunkan ranjang pasien dengan seorang wanita hamil yang terbaring diatasnya menuju ruangan UGD.
“Tolong selamatkan bayiku, aku mohon tolong selamatkan bayiku. Aku tidak peduli dengan nyawaku tapi tolong selamatkan bayiku” ucap wanita itu memohon hal yang sama berulang kali kepada seorang dokter.
Sementara dibalik tubuh para medis, seorang gadis kecil dengan menangis mengikuti tim medis yang mendorong ranjang ibunya. Gadis kecil itu tiba-tiba terjatuh, dengan cepat Anggun segera berlari menghampiri dan membantunya untuk bangun.
“Kau baik-baik saja?” tanya Anggun meraih tubuh anak itu dan membantunya untuk bangun.
"Dia anak dari pasien, tolong bantu jaga anak ini atau kau bisa mengantarnya ke seorang perawat di sana" ucap seorang tim medis kepada Anggun lalu meninggalkannya begitu saja bersama anak perempuan yang terus saja menangis itu.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1