Mata Elang

Mata Elang
BAB 15 – Menolak Kesempatan


__ADS_3

Melihat Anggun mulai terpengaruh membuat Dony segera bangkit dari duduknya. Ia menjadikannya kesempatan besar untuk membuat Anggun berempati terhadapnya. Memanfaatkan situasi keluarga adalah cara yang dianggap sangat efektif oleh Dony untuk membujuk Anggun, Dony percaya jika sisi keibuan Anggun pasti tidak akan dengan nasih masa depan keluarganya.


Dony meraih kedua tangan Anggun dan kembali mengeluarkan bujuk rayunya dengan mengiba. "Anggun, aku tidak tahu kau akan mengerti atau tidak. Tapi, jika aku kehilangan pekerjaan ini, maka istri dan calon anakku harus mengalami hidup susah. Aku tidak ingin mereka menjadi terlantar karena ayahnya pengangguran" ucap Dony mengiba.


"Apa kau sudah menikah?" tanya Anggun dengan wajah datar.


"Heh?" sahut Dony panik melihat reaksi Anggun yang biasa saja.


"Kau pernah bilang menikah dan mempunyai anak akan sangat merepotkan, bahkan aku tidak ada melihat postingan pernikahan sakralmu di akun media soal milikmu" ujar Anggun tak percaya dengan ucapan Dony.


"I..i.. itu" jawab Dony gugup dengan wajah bingung. Ia tampak sedang berpikir keras.


"Hah, apa katamu tadi? Hamil tua...? Terlantar...? hidup susah?" tanya Anggun sembari menyudutkan tubuh Dony hingga menempel pada pintu. "Kau pikir aku bisa kau bodohi, hah?!" bentak Anggun mengepalkan tangannya menggebrak pintu tepat disebelah wajah Dony.


Dony sangat terkejut dengan sikap Anggun baru saja. Ia tidak menyangka setelah sekian lama tidak bertemu Anggun terlihat sangat berbeda. Memiliki seorang anak sepertinya telah membuat Anggun yang polos berubah menjadi wanita tangguh dan juga lebih bar-bar dari sebelumnya. Anggun menyingkirkan tubuh Dony untuk menjauh dari pintu, lalu ia pergi meninggalkannya dengan seribu jenis umpatan kekesalan.


Dony masih tidak ingin menyerah, ia tidak akan melepaskan Anggun yang bisa saja menjadi tambang emas baginya. Setelah kepergian Anggun, Dony menghubungi salah satu rekannya untuk melakukan sesuatu yang sudah ia rencanakan.


"Mark, lakukan sekarang" perintahnya kepada seorang pria melalui sambungan telepon.


Sementara Anggun yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang terjebak lampu merah. Anggun terkejut saat melihat papan iklan digital yang terpampang besar di sudut lampu merah. Papan iklan itu menampilkan foto dirinya berukuran besar dengan berita 'Kembalinya model cantik bersama BlueSKY'.


Berita itu membuat mata Anggun melotot seakan kedua bola matanya akan keluar. Anggun segera menancap gas lalu mengambil jalur memutar untuk menuju BlueSKY. Sesampai di gedung besar yang menjulang tinggi itu, Anggun melangkahkan kakinya dengan penuh amarah.


"Katakan dimana aku bisa bertemu dengan wanita mengerikan itu? Aaa... bukan bukan. Maaf, maksudku wanita bernama Agatha" ucap Anggun kepada staf resepsionis.


"Mohon maaf, apakah anda sudah membuat membuat janji dengan beliau sebelumnya ?" balas tanya staf wanita yang melayani kedatangan Anggun.


Anggun terdiam karena ia tidak memilki janji apapun. Seketika ia menyadari jika membuat janji adalah syarat yang mutlak untuk bertemu dengan orang yang memiliki kekuasaan tertinggi di perusahaan ini. Ia juga tahu, jika akan percuma saja menyalahkan dan marah kepada mereka yang hanya bisa menjalankan SOP Perusahaan. Membuat keributan hanya akan mempermalukan diri sendiri dan membuatnya berakhir diseret oleh petugas keamanan.


Anggun meraih ponselnya untuk menghubungi Dony. Meskipun terlihat enggan, namun ia tidak punya jalan lain selain meminta bantuan Dony untuk bisa bertemu dengan Agatha.

__ADS_1


"Maaf, apa benar anda Nona Anggun?" tanya seorang petugas resepsionis lainnya yang terlihat baru kembali dari suatu tempat.


Anggun membatalkan panggilannya dan membenarkan pertanyaan wanita itu. Wanita itu segera mempersilahkan Anggun untuk mengikutinya karena ia akan mengantarkannya ke ruangan Agatha. Tampaknya Agatha memang sudah menunggu kedatangan Anggun dan meninggalkan pesan kepada mereka.


Anggun telah sampai disebuah ruangan yang berukuran besar. Terlihat Agatha sedang sibuk berbicara dengan seseorang ditelepon. Setelah tidak lama menunggu, Agatha mematikan telepon dan meminta stafnya yang mengantar Anggun untuk meninggalkan ruangannya.


"Sepertinya aku tidak perlu basa-basi lagi" ucap Anggun kepada Agatha. "Apa yang kau lakukan dengan papan iklan itu?" lanjut tanyanya.


Pertanyaan Anggun membuat Agatha tersenyum menyeringai penuh arti. "Bukankah kau sudah membaca papan iklannya. Kau harusnya beruntung karena bisa bergabung dengan BlueSKY" ucap Agatha.


"Aku tidak memintamu untuk berkomentar seberapa beruntungnya aku, tapi aku memintamu untuk menjelaskan apa yang kau lakukan dengan papan iklan itu?" tanya Anggun.


"Hah, sikapmu kasarmu sangat jelas menunjukkan kelasmu" sahut Agatha lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Anggun.


"Kelas? Lalu setinggi apa kelas dan pendidikanmu yang tidak tahu akan tindakan kriminal. Apa kau mantan seorang penjahat? atau seorang penipu? Apa perlu orang dengan kelas rendah sepertiku membantu menjelaskannya kepadamu?" tanya Anggun.


"Beraninya kau" teriak Agatha yang mulai marah.


"Memasang papan reklame menggunakan foto dimana model yang menjadi objek foto tidak mengetahui fotonya dijadikan model pada sebuah papan reklame, itu melanggar ketentuan hukum Hak Cipta. Apa kau tidak tahu itu?" tegas Anggun.


Dony langsung menarik tubuh Anggun menjauh lalu berbisik kepadanya. "Mereka akan menuntutmu atas kejadian Fashion Show jika kau menolak. Ayolah Anggun, berpikirlah yang realistis. Bukankah mereka sudah berbaik hati memberikan kesempatan ini kepadamu tanpa harus bersusah payah mengikuti seleksi" bisik Dony.


"Dony, sudah aku katakan kepadamu, silahkan saja jika dia ingin menuntutku. Tapi ingat, aku juga akan menuntut balik kalian semua" balas ancam Anggun lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Anggun, Anggun...!" panggil Dony namun diabaikan oleh Anggun.


Dony pergi mengejar Anggun setelah mengatakan kepada Agatha jika dia akan segera menyelesaikannya.


"Anggun, apa kau pikir kau bisa menang melawan BluSKY?" tanya Dony mengikuti Anggun.


"Aku tidak takut" sahut Anggun dengan terus berjalan untuk meninggalkan tempat itu

__ADS_1


"Anggun, apa kau tidak keterlaluan? Bukankah dulu kau juga sudah seenaknya meninggalkan pekerjaanmu?" tanya Dony.


Gagal memohon dan membujuk Anggun, Dony justru menuntut dan meminta pertanggung jawaban Anggun karena dulu begitu saja meninggalkan dirinya sehingga mengalami banyak kerugian. Dony melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan Anggun meskipun harus melanggar hukum kesetiaan yang pernah terjalin diantara keduanya dimasa lalu.


"Dony, maafkan aku, jika kau menginginkannya aku akan mengganti semua kerugian yang kau katakan" jawab Anggun dengan terus berjalan, ia mengabaikan Dony yang terus mengikutinya.


Namun, langkah Anggun tiba-tiba berhenti, bukan karena Dony tapi karena Aland dan sekretarisnya Grey yang juga sedang berjalan ke arahnya. Aland pun menghentikan langkahnya melihat keberadaan Anggun. Kedua mata dua insan itu saling bertatapan.


"Aku akan membuatmu sukses dan kau bisa membalaskan dendam mu kepada Azka" teriak Dony melihat Anggun berhenti.


Dony mengatakan jika dia akan membuat Anggun sukses dan terkenal sehingga dia bisa membalas Azka yang sudah berani menelantarkan dan mengkhianatinya. Dony tampaknya sudah mendapatkan informasi dari Rere tentang alasan kenapa Anggun tiba-tiba pergi 7 tahun lalu.


"Setelah terkenal, aku yakin akan begitu banyak pria yang mengejarmu dan hidupmu akan berubah. Kau tidak ingin putramu hidup tanpa seorang ayah seumur hidupnya kan. Anak itu juga bisa mendapatkan ayah baru untuknya" lanjut ucap Dony.


Mendengar Dony membawa luka lama itu membuat Anggun semakin geram. Ia mungkin masih bisa terima jika Dony membahas soal Azka, tapi ia sangat marah karena Dony telah berani membawa-bawa putranya. Anggun mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.


"Beraninya kau menyebut putraku" teriak Anggun membalik tubuhnya secepat mungkin untuk memberi pelajaran kepada Dony.


Bukkkkkkkk..... !!!


Pukulan maut dilayangkan dan mendarat tepat diwajah Dony sehingga membuatnya ambruk seketika.


"Tuan Aland!" teriak Grey.


Anggun terdiam, matanya membulat dengan mulut terbuka tak percaya melihat pria itu tiba-tiba memukul Dony. Sebuah pukulan yang ingin Anggun layangkan tetap sudah didahulu oleh Aland.


"Pergilah, atau aku akan menyobek mulutmu itu" ancam Aland kepada Dony dengan tatapan seperti seorang ketua mafia yang mengerikan.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2