Mata Elang

Mata Elang
BAB 3 - Bayi Tak Berdosa


__ADS_3

Anggun terlihat bingung dengan situasi yang dihadapinya. Saat ini ia memiliki urusan yang lebih penting dari itu, tapi ia juga masih memiliki hati nurani. Anggun tidak tega meninggalkan gadis kecil itu seorang diri atau menyerahkan kepada perawat yang tampak sibuk di sana.


“Ayo ikut kakak, kita tunggu mamamu di sana” ajak Anggun meraih tangan gadis kecil itu.


Gadis itu hanya mengangguk mengikuti Anggun. Anggun telah memutuskan menemani anak itu menunggu didepan ruang persalinan. Berbagai upaya ia coba untuk bisa menenangkan gadis kecil yang sedari tadi tiada henti menangis. Entah karena lelah atau terhibur oleh dirinya, anak itu mulai berhenti menangis.


"Kakak…” Panggil anak itu masih dengan suara serak usai lama menangis. “Apa kakak sakit?” lanjut tanyanya karena melihat keberadaan Anggun di rumah sakit.


Anggun hanya menjawab dengan senyuman dan menggelengkan kepalanya. Mana mungkin ia mengatakan kepada anak yang masih kecil dan polos itu soal kondisinya saat ini. Ditambah lagi ia merencanakan suatu hal yang paling buruk selama hidupnya.


"Siapa namanya?" tanya Anggun.


"Namaku Angel" jawabnya.


"Nama yang cantik" seru Anggun dengan tersenyum.


"Kakak, apa mereka bisa menyelamatkan ibu adan adikku? Aku sudah selalu berdo’a kepada Tuhan agar mereka selalu sehat. Tapi, kenapa ibu sangat kesakitan? Apa Tuhan tidak mendengar do’a ku?" tanya anak kecil itu dengan polosnya kepada Anggun.


“Percayalah Do’a Angel akan membawa adikmu lahir ke dunia dengan selamat, begitu juga dengan ibumu” jawab Anggun dengan tersenyum.


“Dimana ayahmu? Kenapa Angel hanya datang seorang diri?” tanya Anggun yang sedari tadi tidak melihat sosok laki-laki bersama ibu dan anak itu.


“Ayah…, ayah sudah tenang bersama Tuhan kak” jawab gadis itu tertunduk. Anggun menatap gadis kecil yang duduk tertunduk disampingnya, jantungnya seketika seperti sedang diremas mendengar pernyataan anak itu. Anggun lalu menatap pintu ruang persalinan, dibalik pintu itu seorang wanita sedang berjuang melahirkan anak keduanya dengan penuh harapan bayinya terlahir ke dunia dengan selamat, meskipun tanpa adanya sosok suami dan ayah bagi anak-anaknya kelak.


Berbeda dengan dirinya, ia sangat menolak kehadiran bayi yang saat ini ada didalam perutnya hanya karena tidak siap akan kehadiran bayi itu, hanya karena ia masih ingin mengejar mimpi dan hanya karena ia tidak tahu siapa sosok ayah dari bayi yang dikandungnya.


“Apa Angel sangat menantikan kelahiran adik?” tanya Anggun kepada gadis itu.


“Pertanyaan bodoh apa ini Anggun” lanjut batin Anggun karena menanyakan hal gila hanya untuk meyakinkan perasaan aneh yang sedang mengganggunya.


Anggun membandingkan dirinya dengan wanita itu. Wanita yang rela berkorban demi anaknya sementara dirinya telah merencanakan hal yang sangat penuh dengan dosa.


Gadis kecil itu mendekat kepada Anggun, ia lalu merangkul dan menempelkan telinganya di perut Anggun. "Tentu saja, setiap hari Angel selalu mendengarnya. Dug, dug dug, dug seperti itu diperut ibu" ucap Angel mempraktikkan langsung kebiasaan yang biasa ia lakukan dengan ibunya.


"Disini" ucapnya masih menempelkan telinganya di perut Anggun.


Tanpa sadar air mata Anggun jatuh membasahi pipinya. Ia segera mengusapnya tatkala gadis manis bernama Angel itu mendongak menatapnya.

__ADS_1


“Kakak kenapa menangis?” tanya anak itu melihat Anggun mengusap air matanya.


“Kakak tidak apa Angel, hanya ada debu dimata kakak jadi perih” jawab Anggun berbohong kepada anak itu.


Tidak lama seorang perawat keluar menandakan persalinan selesai. Terdengar suara tangis seorang bayi tatkala pintu itu dibuka. “Ibu dan bayinya selamat” ucapnya.


Angel menarik tangan Anggun dan mengajaknya untuk melihat adik bayinya yang sedang digendong oleh dokter. Gadis kecil itu menuntun Anggun untuk masuk.


“Kakak Ayo lihat adik….”ucapnya.


Anggun yang tidak bisa menolak ikut masuk, ia menatap sesosok malaikat mungil kecil yang terlahir dengan pertaruhan nyawa sang ibu. Kulit merah yang lembut dan halus, mata mempesona bak permata bertatahkan intan mutiara. Anggun tanpa sadar mengulurkan tangannya menyentuh kaki bayi mungil itu dengan meneteskan air mata.


“Adikku tampan kan kak” ucap Angel tersenyum bahagia.


“Eemm” Anggun kembali hanya bisa menjawab dengan gumaman karena ia tidak bisa berkata-kata lagi.


“Angel yakin, kalau nanti saat kakak punya anak dia pasti akan cannnntikkkk dan tampaannn” ucap anak itu.


“Angel, seperti namamu, kamu sudah menjadi malaikat yang membuka mata hati kakak. Kamu telah menolong kakak dari dosa yang mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidup kakak.Terima kasih Angel” ucap Anggun lalu memeluk tubuh gadis mungil itu.


Angel bingung dan tidak mengerti akan ucapan Anggun, ia hanya tersenyum dan mengangguk dengan polosnya. Gadis itu melepas pelukan Anggun dan mengusap air mata yang membasahi pipi Anggun. Anggun pun pamit meninggalkan ruangan itu.


“Aku hampir saja menjadi seorang pendosa besar" ucap Anggun dengan menyentuh perut yang telah mengandung.


Mungkin benar anak dalam kandungannya nanti terlahir tanpa ada ikatan pernikahan dan dari buah hubungan terlarang. Tapi, anak itu tidak berdosa dan dia tidak bersalah.


Anggun kembali pulang, Ia bertekad untuk membesarkan anak dalam kandungannya dan meninggalkan negara itu. Anggun segera mengurus visa dan segala sesuatunya yang akan ia butuhkan di negara yang baru. Meninggalkan negara itu adalah satu-satu jalan untuknya bisa segera melupakan semua kenangan pahit yang ia alami.


2 minggu kemudian…


Anggun yang sudah berada dalam pesawat menghubungi teman modelnya yang bernama Rere. Ia meminta Rere menyampaikan pesan kepada Dony jika dirinya berhenti dari dunia model. Anggun tidak berani mengatakan langsung kepada Dony, karena Dony sangat lihai dalam membujuk. Anggun takut akan luluh pada pria yang sudah banyak membantunya dalam dunia modeling itu.


"Apa...? Kamu sudah gila yah?" teriak Rere mendengar ucapan Anggun.


"Maaf ya Re, itu sudah menjadi keputusanku” jawab Anggun lalu mematikan ponselnya.


Anggun mematikan ponselnya segera saat pramugari memintanya mematikan ponsel untuk keselamatan dalam penerbangan karena pesawat akan lepas landas.

__ADS_1


"Ya..., aku mungkin sudah gila tapi aku harus meninggalkan semua kenangan pahit dan negara ini” batin


Anggun menatap negara yang ia tinggalkan melalu jendela pesawat.


7 Tahun Kemudian…


Di sebuah hunian apartemen mewah, seorang wanita cantik mengetuk pintu kamar dengan nampan berisi menu sarapan ditangannya. “Marvel, sarapan dulu sayang” ucap Anggun namun tidak mendapat jawaban akan panggilannya.


Setelah mengetuk dan memanggil berulang kali, Anggun akhirnya menyerah, ia menekan sandi pada pintu yang hanya bisa dibuka dengan akses sandi itu. Sandi telah dikonfirmasi dan pintu terbuka, lagi-lagi kamar itu sudah kosong, Anggun hanya mendapati kamar yang sudah rapi dan sepotong kertas bertuliskan pesan


untuknya yang diletakkan di meja belajar.


[Marvel ada tugas piket dan Marvel sudah membawa beberapa potong kue untuk sarapan. Love U Mom]


Anggun hanya menghela nafas panjang usai membaca pesan itu, ia tidak heran dengan kelakuan putranya yang  suka menghilang tiba-tiba dan hanya meninggalkan pesan yang ia tulis di sepotong kertas. Namun hal yang sulit ia percaya, kenapa ia tidak pernah menyadari kapan dan bagaimana putranya itu pergi meninggalkan rumah tanpa sepengetahuannya.


“Damian, apa Marvel pergi bersamamu pagi ini?” tanya Anggun dalam panggilan dengan seorang pria berusia 40 tahuan-an melalui telepon.


“Hari ini Marvel bersama dengan Joan, Nyonya. Nyonya tidak perlu khawatir, saya akan memastikan Joan untuk menjaganya” jawab pria bernama Damian.


Anggun mengakhiri panggilannya, dirinya yang masih berada di kamar putranya terdiam usai menutup telepon. Anggun menatap bingkai foto dirinya yang sedang menggendong bayi kecilnya bernama Marvel. Anggun tersenyum tipis menatap bayi kecilnya itu kini sudah berusia 6 tahun.


Anggun berjalan membuka tirai jendela kamar putranya, ia menatap keindahan dan kepadatan kota dibawah sana yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit.


Anggun memutar kembali kenangan dimana dulu ia harus mati-matian seorang diri untuk bisa melahirkan dan membesarkan putranya itu. Begitu banyak kenangan memilukan ketika ia harus berjuang untuk tetep bisa memiliki tempat tinggal dan membelikan susu bagi bayi mungilnya saat itu.


Apartemen mewah tempat ia berdiri saat ini adalah hunian yang ia tinggali bersama Marvel sekarang. Anggun sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang. Hidupnya sudah berubah, berkat kecerdasan putra kecilnya, kini mereka hidup jauh lebih layak dari sebelumnya.


Marvel, putra satu-satu nya yang sangat ia cintai adalah seorang anak yang terlahir tampan dengan kecerdasan jauh diatas rata-rata. Di usianya yang masih 6 tahun, Marvel sangat genius, cerdik, memiliki ketajaman penalaran logis, penguasan IT yang tinggi dan juga ahli dalam bela diri.


Dengan kecerdasan yang luar biasa dan kemampuan IT yang dimilikinya, Marvel menjadi seorang hacker yang sangat ahli dalam mencuri data atau meretas jaringan melalui akses tidak sah ke sebuah data milik para penjahat dunia dengan rapi.


Secara rahasia, Marvel menjalankan beberapa misi kecil dengan menerima permintaan bantuan sebagai Agen Rahasia. Ia mengincar para penjahat keji dibdunia dengan kecerdikan dan kemampuan IT nya sebagai seorang Hacker. Tidak hanya pelaku kriminal biasa, bahkan para petinggi yang melakukan korupsi pun tidak akan luput dari incarannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa lolos jika sudah menjadi target mata Elang Marvel karena Marvel tidak pernah gagal dalam misinya.


Meskipun putranya memiliki kemampuan luar biasa dengan pola pikir seperti orang dewasa, Anggun tetap mengkhawatirkan putranya yang masih duduk di bangku SD itu. Anggun meminta putranya untuk tetap bersikap lucu, lugu dan polos didepan orang lain layaknya anak seusianya.


*** To Be Continued***

__ADS_1


__ADS_2