Mata Elang

Mata Elang
BAB 7 – Cash !!


__ADS_3

Hari sudah larut, Anggun pergi ke kamar putranya yang masih menyala terang. "Belum tidur sayang?" tanya Anggun menghampiri Marvel yang sibuk dengan laptopnya.


"Belum mah, masih banyak pekerjaan yang harus Marvel selesaikan dengan Tuan Damian" sahut Marvel masih sibuk mengetik tanpa memandang ke arah Anggun.


Anggun mendekat dan meletakkan kedua tangannya di bahu Marvel. "Apa pekerjaan ini juga yang membuatmu sibuk seharian sayang?" lanjut tanya Anggun yang mengetahui putranya tidak ada dirumah seharian.


Marvel menghentikan pergerakan jarinya setelah mendengar pertanyaan itu. "Marvel..." jawab Marvel ragu. Ia tampak berpikir sejenak untuk memberi jawaban kepada Anggun.


Meskipun Marvel adalah anak genius yang pandai dengan IQ tinggi dan memiliki penalaran yang luas dan logis, namun berbohong kepada Anggun adalah kelemahan terbesarnya. Seolah kepandaiannya memudar seketika harus memikirkan kebohongan kepada ibunya.


"Marvel berkeliling dengan Joan untuk melihat-lihat kota ini mah" jangan Marvel gugup.


Anggun tahu jika Marvel terlihat seperti menutupi sesuatu darinya. Anggun sudah hafal dengan sikap Marvel, jika Mavel lama menjawab pertanyaan yang begitu mudah, artinya itu bukan jawaban sebenarnya. Namun, kali ini Anggun akan mencoba mengerti dengan berangaapan jika Marvel hanya tidak ingin membuatnya khawatir.


"Baiklah sayang, tapi satu hal yang perlu Marvel ingat, jangan pernah menutupi sesuatu hal yang sulit untuk Marvel lakukan sendiri. Marvel punya Mama dan Mama selalu ada untuk Marvel" ucap Anggun lalu mengecup kening putranya.


.


.


Keesokan Hari....


2 Hari lagi adalah ulang tahun Marvel, pagi ini Anggun pergi ke salah satu Mall terbesar di kota itu mencari hadiah ulang tahun untuk putra tercintanya, Marvel.


"Wah.... negara ini sudah banyak berubah dan bekermbang pesat. Bahkan mereka memilki Mall sebesar ini" ucapnya berdiri didepan pintu utama Mall.


Anggun dengan semangat masuk ke dalam Mall, ia sudah menentukan hadiah apa yang akan ia berikan kepada putranya. Anggun segera naik ke lantai 2 untuk mancari Toko A. Sebuah official store sebuah Brand yang sangat terkenal dan memilki harga dewa.


"Wahhh, akhirnya aku menemukannya" ucap Anggun melihat Hoodie favorite yang akan menambah koleksi putranya.


Dengan cepat Anggun melangkahkan kakinya dengan penuh semangat, dengan senyum yang terurai dibibirnya ia mengulurkan tangan untuk meraih Hoodie itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya seorang pria yang juga menyentuh Hoodie itu bersamaan dengan Anggun. Pria itu adalah Aland.


"Memang apa yang aku lakukan selain mau membelinya" jawab Anggun.


"Tapi aku sudah lebih dahulu" jawab Aland.

__ADS_1


"Apa kau tidak melihat jika aku juga sudah menyentuhnya. Tuan tampan, aku rasa anda harus melepaskannya" pinta Anggun menatap tangan Aland yang masih menggengam Hoodie itu.


Keduanya merebutkan Hoodie edisi terbatas yang hanya tersisa satu buah saja di toko itu. "Kenapa aku harus melepaskan miliku" sahut Aland ketus.


"Milikmu? Apa toko ini milkimu? atau apa sudah tertulis namamu di hoodie ini? Tidak bisa, aku sudah lebih dulu" ucap Anggun tanpa basi-basi mengambil Hoodie itu dan membawanya ke kasir.


"Nona, tolong tagihannya" lanjut ucap Anggun kepada wanita yang bertugas dikasir.


Aland terlihat kesal, ia tidak percaya jika wanita itu sudah bertindak semaunya sendiri. Aland bergegas menghampiri Anggun yang sudah di kasir.


"Maaf Nona, urusan kita belum selesai. Bagaimana bisa kau mengklaim ini adalah milkimu?" tanya Aland masih tidak mau mengalah.


Pramuniaga yang berjaga dan petugas kasir tampak bingung melihat keduanya. Anggun  dan Aland terlihat saling tidak mau mengalah dan mengklaim hak mereka seperti dua anak kecil yang sedang berebut permen.


"Apa saya sudah bisa membuat tagihannya?" tanya petugas kasir dengan ucapan penuh keraguan kepada keduanya.


"Tentu saja!" tegas Anggun.


"Tidak bisa!" tegas Aland


"Tuan Aland, sepertinya kita bisa mencari hadiah lain untuk putra Ny. Merlin" ucap Grey berusaha menengahi karena kini bosnya sudah menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung toko.


"Grey, apa wanita ini yang membayar gajimu?" tanya Aland ketus kepada Grey.


"Bu... bukan begitu Tuan, tapi..." ucap Grey panik dengan senyum canggung. Perkataan Aland seolah membuat dirinya berkhianat karena berada dipihak wanita itu.


"Tapi, semuanya sedang memperhatikan kita Tuan" lanjut ucap Grey melirik setiap mata pengunjung.


"Tapi aku tidak akan pernah mau mengalah" ucap Aland membuat Grey pusing.


Aland memang seorang pebisnis yang gigih dan ia tidak akan pernah mau melepaskan apapun yang sudah ia klaim milkinya atau sesuatu yang ia inginkan. Tapi bagi Grey sikap Aland saat ini sepetinya karena ia tidak senang dengan wanita itu atau wanita itu telah menyinggungnya sampai-sampai Aland tidak peduli dengan reputrasinya.


"Nona, bisakah anda mengalah, saya akan mengganti membayar kepada anda 5x lipat dari harga hoodie ini" ucap Grey berusaha bernegosasi dengan Anggun.


"Bukan 5x lipat, tapi aku akan membayarmu 10x" sahut Aland.


Mendengar ucapan keduanya membuat Anggun geram dan mendekati Aland. Seperti seoang macan betina yang siap menerkam, Anggun mendongakkan kepalanya menatap tajam wajah Aland dengan berkacak pinggang.

__ADS_1


"Apa,10x lipat? 100x lipat pun aku tidak akan melepasnya!" tegas Anggun. "Baiklah jika begitu, kau tidak perlu membayarnya dengan uang, apa kau mau menggantikannya denan pakaian yang kenakan saat ini?" ucap Anggun.


"Apa maksudmu?" tanya Aland menatap Anggun.


"Beraninya dia seenaknya dengan uang" batin Anggun lalu mengambil langkah mundur dan menatap tubuh Aland. "Aku akan menambahkan membayar 10x lipat dari harga pakaianmu jika kau mau memberi kami pertunjukkan dengan melepasnya disini."


"Dasar wanita gila" tegas Aland.


Anggun kembali mendekati Aland. "Apa uang begitu mudah bagimu? Jika kau ingin menggunakan uang untuk negoisasi, maka akan aku ajari cara menggunakan uang yang akan langsung melumpuhkan musuhmu" ucap Anggun semakin mendekatkan wajahnya hingga menyisahkan beberapa inci dari wajah Aland.


"Mata ini...." batin Aland dalam hati menatap lekat manik mata Anggun.


Anggun melapaskan pandangannya lalu pergi ke kasir, ia mengeluarkan segepok uang cash dari tasnya dan meletakkannya langsung di meja kasir. "Nona, aku membelinya dan buat tagihannya sekarang. Aku adalah orang pertama yang melakukan transaksi ini jadi tidak perlu berdebat lagi. Aku sudah membayarnya Cash!" ucap Anggun.


"Baik Nona, mohon untuk menunggu" sahut pramuniag yang bertugas dikasit, ia lalu memanggil rekan yang lai untuk membantunya menerima dan menghitung uang cash dari Anggun.


"Wanita yang cerdik" gumam Grey lalu menghampiri Aland. "Tuan, anda baik-baik saja?" tanyanya.


Aland terlihat sangat kesal karena dirinya sudah banyak membuang waktu tapi kalah dengan wanita bar-bar itu hanya karena wanita itu memiliki uang cash.


"Bagaiaman bisa ada wanita bar-bar, mesum dan gila seperti dia" kesal Aland memandang Anggun yang pergi meninggalkan toko.


"Tuan, saya akan segera mencarikan hadiah lain untuk putra Ny. Merlin" ucap Grey.


"Segera cari, dan bawa padaku setelah acara fashion Agatha selesai" perintah Aland kepada Grey namun matanya masih menatap punggung Anggun yang semakin jauh.


"Baik Tuan" sahut Grey.


"Manik mata itu, mengapa tampak tidak asing. Mengingatkanku dengan wanita itu" batin Aland teringat manik mata wanita yang pernah ia renggut kesuciannya.


.


.


.


*** To Be Contoinued***

__ADS_1


__ADS_2