Mata Elang

Mata Elang
BAB 12 – Dongeng Cinderella


__ADS_3

Anggun meminta Marvel untuk berganti pakaian karena ia dan Marvel akan pergi ke studio photo untuk photo tahunan berdua.


"Oh ya, Marvel bersiap-siap yah. Mama sudah menemukan studio photo terbaik di negara ini. Kita akan pergi untuk foto bersama, setelah itu kita pergi makan bersama dengan Joan dan Tuan Damian yang juga ingin merayakan ulang tahun mu" perintah Anggun.


Marvel menghentikan langkah kakinya yang hendak memasuki kamarnya. "Bisakah kita menundanya ma? Kita akan mengambil photo nanti, bukan hari ini" tolak Marvel.


"Kenapa sayang" tanya Anggun.


"Marvel sangat sibuk dengan urusan Agen Rahasia, banyak kasus dan misi yang harus diselesaikan. Lagi pula setiap tahunnya kita sudah memiliki photo tahunan. Tunggu sampai Marvel menyelesaikannya lalu kita akan mengambil photo keluarga bersama yah" pinta Marvel.


Anggun terdiam, ia terlihat berpikir sejenak. Anggun tidak menanggapi serius alasan marvel menolaknya, ia menuruti permintaan Marvel dan tidak ingin memaksanya. Lagi pula apa yang dikatakan Marvel benar, mereka sudah memilki banyak photo keluarga yang diambil setiap tahunnya.


"Tunggu sampai Marvel menemukan ayah ma, maka kita bisa mengambil photo keluarga seutuhnya. Ada Marvel, mama, dan juga ayah" banti Marvel.


.


.


.


Di sebuah kamar Penthouse pribadinya, Aland duduk termenung menatap sebuah lemari kaca berisi manekin dengan dress berwana putih. Lemari kaca yang berada disudut kamarnya itu biasanya selalu ditutup oleh tirai mewah. Sesekali Aland membuka tirai itu dan menatap lekat dress putih yang seperti memiliki kenangan begitu dalam bagi Aland.


"Aku tidak mengerti kenapa aku masih menyimpan pakaian ini, sementara aku tidak tahu siapa dia dan apa dia mengingatku" ucap Aland menatap dress itu dengan meneguk wine.


Aland bangkit dari duduknya menghampiri lemari itu. "Kau harusnya berterima kasih dan merasa beruntung, karena aku memberikan tempat yang istimewa pada pakaianmu ini" ucap Aland yang mulai terpengaruh Alkohol, ia seolah berbicara dengan pemilik dress itu.


Tidak selang lama terdengar Gray yang mengetuk pintu untuk izin memasuki kamar Aland.


"Masuklah" perintah Aland dan Grey pun masuk.


Melihat tuannya berdiri menatap lemari kaca itu dengan segelas wine ditangannya membuat Grey menghela nafas. Gray sangat tahu, jika Aland sudah menatap dress itu artinya dia sedang memikirkan seorang wanita pemilik dress itu.

__ADS_1


Hal ini mengingatkan Gray dengan kisah dongeng cinderella, dimana sang putri meninggalkan sepatu kaca miliknya dan membuat pangeran mencari keberadaannya. Namun yang berbeda dengan kisah tuannya adalah Tuannya yang hampir dibuat gila dan frustasi karena sudah hampir 7 tahun tidak menemukan pemilik dress itu. Hingga kini Aland masih belum mendapatkan Akhir bahagia akan dongeng cinderella versinya.


Pemilik dress putih itu tidak lain adalah Anggun. Dress itu adalah pakaian yang Anggun tinggalkan setelah melewati cinta satu malam dengan Aland dan kabur dengan pakaian Aland. Ternyata selama ini Aland telah menyimpannya dan mencari keberadaan Anggun.


Aland tidak pernah melupakan kejadian itu, tapi sayangnya dia sama sekali tidak bisa mengingat seperti apa wajah wanita yang sudah ia tiduri. Kejadian itu begitu tiba-tiba, dan buaian Anggun membuat Aland tidak bisa mempertahankan pikiran normalnya yang sudah terbawa nikmatnya surga dunia.


Aland merasa jika wanita itu adalah satu-satunya wanita yang terus mengusik pikirannya. Dalam sejarah sepanjang hidupnya hanya Anggun wanita yang berhasil mencuri tahta miliknya. Hanya Anggun satunya wanita yang mendapatkan sentuhan tubuhnya. Semenjak kejadian itu, Aland tidak pernah bereaksi dan tergoda dengan wanita manapun yang mendekatinya.


Selain semua alasan itu, Aland merasa berdosa dan bersalah kepada Anggun. Karena ia telah menodai gadis virgin hanya karena ia salah masuk kamar. Dengan kebodohannya yang saat itu tidak bisa mengendalikan amarah telah merenggut kesuciannya.


"Grey... kenapa dia tidak datang untuk mencariku?" tanya Aland kepada Grey.


"Apakah dia punya alasan untuk mencari anda, Tuan Aland?" tanya balik Grey kepada Aland.


"Kenapa dia tidak punya alasan, aku telah menodainya. Bukankah dia seharusnya menuntut pertanggung jawabanku kan?" sahut Aland.


"Tapi dari alur yang saya tahu, bukankah wanita itu yang menggoda anda lebih dahulu? Dia yang sudah merenggut kesucian anda." Tegas Grey.


"Maksudmu aku adalah orang yang diperkosa olehnya?" tanya Aland. Seketika dia merasa dirinya adalah pria rendah dan lemah.


"Bu.... bu... bukan seperti itu maksud saya Tuan. Saya yakin saat itu anda adalah orang yang memimpin permainan itu. Benarkan Tuan Aland" tanya Grey ragu karena ia takut salah bicara lagi.


Aland duduk lemas di atas sofa. "Apa menurutmu dia masih ada di dunia ini?" tanyanya dengan kembali meneguk wine.


"Ke.. kenapa Tuan Aland berbicara begitu?" tanya Grey menanggapi pertanyaan Aland.


"Bisa jadi dia merasa frustasi lalu bunuh diri, itu sebabnya kenapa kau tidak bisa menemukannya. Jika benar, maka aku adalah orang yang menyebabkan dia bunuh diri, maka aku adalah pembunuhnya, benarkan Grey ?" tanya Aland.


"Tu... tu... tuan, tenangkan diri anda. Saya rasa anda sudah mabuk Tuan" sahut Grey. "Anda jangan berpikir seperti itu. Saya yang gagal menemukannya" sahut Grey panik.


Aland bangkit dari duduknya dan ia berjalan menghampiri Grey yang berdiri dengan tubuh gemetar. "Saya akan berusaha lagi untuk menemukannya. Maafkan saya tuan, itu bukan salah anda dan saya yakin dia masih hidup" lanjut ucap Grey menatap Aland yang terus melangkah ke arahnya.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Benarkah dia masih hidup?" tanyanya.


"Be... be.. benar Tuan Aland" sahut Grey semakin panik melihat Aland semakin dekat dan menatapnya tajam. "Saya akan berusaha menemukannya" lanjut ucapnya semakin gugup.


Aland yang sudah berdiri tepat didepan Grey. "Segera temukan dia" perintahnya lalu tidak sadarkan diri. Aland langsung pingsan dan menjatuhkan tubuhnya bersandar di bahu Grey.


"Tu.. tuan, Tuan Aland" panggil Grey yang sudah tidak mendapatkan jawaban dari Aland lagi.


.


.


.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Anggun pun sedang duduk termenung menatap langit di dalam apartemennya. Mata indahnya memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit yang cerah. Malam yang begitu indah dan cerah, namun tidak secerah hatinya yang merasa resah dan gelisah.


Seperti De Javu, saat ini sama seperti 7 tahun lalu saat ia menunggu kedatangan Azka di restoran itu. Malam dimana petaka itu terjadi, Anggun menekuk kedua kakinya untuk menopang dagunya. Anggun memejamkan matanya, ia kembali terngiang dengan tato burung Elang yang sangat membekas dalam pikirannya.


Sama halnya dengan Aland, Anggun juga tidak mengingat seperti apa wajah pria yang ia sangka telah membeli dan menanamkan benih itu. Anggun hanya mengingat tato burung Elang yang ada pada bagian tubuh pria itu. Sebuah tato yang selalu menjadi candu baginya pada malam itu.


"Mungkin aku hanya sebagian kecil dari banyaknya wanita yang pernah ia beli dan memuaskan nafsunya. Tidak ada alasan baginya untuk bertanggung jawab karena ia telah membayar atas tubuhku malam itu."


Ya itulah pikiran Anggun setiap kali mengingat pria bertato itu, Ia masih berpikir jika Aland adalah pria yang sudah membeli tubuhnya kepada Azka.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2