
Di Hamilton Group.
Aland tampak sibuk didepan layar komputernya, tidak lama Grey mengetuk pintu dan masuk. Ia melaporkan kepada Aland jika dirinya sudah mendapatkan informasi tentang Anggun dan anaknya.
Grey menunjukkan data itu kepada Aland melalui layar tablet ditangannya. "Wanita itu bernama Anggun Adeline, semenjak SMA dia sudah hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Ia dulu adalah seorang model catwalk, namun tiba-tiba ia berhenti dan meninggalkan negara ini 7 tahun lalu.
"Dia meninggalkan negara ini 7 tahun lalu? Kenapa?" tanya Aland.
"Dari informasi yang saya dapatkan dia meninggalkan negara ini karena dikhianati oleh kekasihnya. Setelah 7 tahun, dia kembali dengan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun. Bahkan mereka belum sampai 1 bulan kembali ke negara ini"
"Bagaimana dengan ayah anak itu, apa kau sudah menyelidiki suaminya?" tanya Aland.
"Wanita ini tidak pernah mendaftarkan pernikahannya, itu artinya anak itu lahir di luar nikah. Tapi entah bagaimana dia bisa mendapatkan pengakuan secara hukum jika putranya terdaftar sebagai anak kandungnya meskipun tanpa adanya pernikahan. Dan jika kita melihat dari waktu kelahiran putranya dan waktu dia meninggalkan negara ini, nampaknya dia sudah hamil sebelum meninggalkan negara ini." ujar Grey.
Grey menaikkan kacamatanya dan melanjutkan ucapannya dengan suara yang terlihat ragu-ragu. "Tapi Tuan, meskipun ada kemungkinan jika dia adalah wanita yang anda cari tapi juga sangat mungkin jika anak itu bukan anak anda, melainkan anak dari mantan kekasihnya." Saya sudah menyelidiki siapa kekasihnya dan...." ucap Grey. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Aland.
"Aku tidak butuh data pria itu, bagaimana dengan anaknya?" potong Aland.
"Anak itu bernama Marvel Rayden, usianya saat ini 6 tahun. Dia bersekolah disekolah internasional X dan ini baru memasuki minggu pertamanya masuk sekolah. Sepertinya dia anak yang cerdas karena selalu menjadi juara kelas. Bahkan saya sangat terkejut saat menyelidikinya, dia sangat mirip dengan anda sewaktu kecil. Saya sampai bisa menyebutnya Tuan Aland Junior.
"Rayden, apa mungkin itu adalah marga atau nama dari ayah bocah itu" gumam Aland.
"Nama Rayden bukan diambil dari nama atau marga mantan kekasihnya, tapi nama dari ayah wanita ini. Sepertinya, dia sudah tidak ingin berhubungan dengan pria itu lagi, karena itu dia menggunakan nama sang ayah" sahut Grey yang mendengar gumaman Aland.
"Sepertinya aku perlu melakukan test DNA" ucap Aland dengan tatapan serius memikirkan hal itu.
Di tengah perbincangan Aland dan Grey, terdengar ketukan pintu diikuti dengan pintu yang langsung di buka. Seorang pria paru baya yang terlihat sangat berwibawa dengan setelan jas masuk ruangan Aland diikuti dengan 4 pria bertubuh besar yang tidak lain adalah bodyguardnya.
"Tuan Aaron" sapa Grey membungkukkan badannya.
Aland berdiri dari kursinya menunduk menyambut pria itu. "Ayah" sapa Aland.
"Apa kau sudah mengatakan kepada Agatha undangan jamuan makan malam keluarga kita?" tanya Aaron lalu duduk di sofa tamu yang ada diruangan itu.
"Apa ayah jauh-jauh datang kemari hanya untuk menanyakan hal kecil yang bisa dilakukan oleh sekretaris ayah?" tanya Aland.
__ADS_1
"Apa kau terganggu dengan kehadiran ayahmu?" Baiklah, jika menurutmu ini adalah hal kecil maka aku akan membuatnya lebih besar sampai harus merepotkanmu. Pergi makan sianglah di luar hari ini, disebuah restoran mewah" perintah Aaron.
Aland meminta maaf kepada ayahnya jika sudah menyinggung. Aland tidak pernah menolak apapun atau yang di perintahkan ayahnya selama itu benar. Ia menuruti sang ayah bukan karena ia bersedia mengikuti perintahnya, tapi Aland hanya tidak ingin berdebat dengan sang ayah atau terjerat dengan urusan yang lebih panjang yang akan lebih merepotkan.
"Jika ayah ingin makan siang bersamaku maka aku tidak akan bisa menolak" sahut Aland.
"Bukan bersamaku, tapi dengan Agatha. Pergi jemput dia dan ajak dia menikmati makan siang berdua" perintah Aaron.
Aland mengerutkan keinginan mendengar hal itu. Dengan cepat Aland menolaknya dengan alasan banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Tapi alasan itu tidak berlaku bagi sang ayah, karena ia mengatakan sebelumnya jika tidak akan menolak yang artinya Aland bisa menyisipkan waktu ditengah kesibukannya.
Aaron terlihat sengaja untuk membuat Aland memiliki hubungan lebih dekat dengan Agatha. Aaron sudah menentukan jika Agatha adalah pilihannya yang akan menjadi calon istri untuk putranya. Aaron sudah lelah menunggu Aland menentukan pilihannya sendiri. Bahkan dengan sikap Aland yang selalu dingin dan enggan dengan para wanita, Aaron tidak yakin jika Aland akan segera mendapatkan istri.
Grey mendekati Aland, ia membisiki Aland untuk menerima permintaan itu. "Apa kau sudah bosan bekerja denganku?" tanya Aland kepada Grey yang sudah berani memerintah dirinya .
Grey kembali lanjut berbisik kepada Aland, ia menyampaikan hal penting yang terlewat untuk di katakan kepada Aland. Ia memberitahu Aland jika Anggun sudah menerima kontrak kerja dengan Agatha dan saat ini mereka berdua sendang ada jadwal pemotretan.
"Baiklah aku akan melakukannya, ayah" ucap Aland setelah mendengar informasi dari Grey.
.
.
Ini kali pertama Agatha terjun langsung melakukan pengawasan yang mana seharunya dia cukup tinggal menerima laporan hasilnya melalui sekretarisnya. Namun Agatha sangat penasaran dengan Anggun, ia ingin melihat seberapa hebat wanita itu sampai bisa mencuri perhatian netizen dan juga Aland.
Anggun mulai melakukan pemotretan , ia terlihat begitu tampil kharismatik. Baik soal gaya busananya maupun pose yang ditampilkan, Anggun memancarkan aura bak malaikat yang turun dari kayangan. Wajah cantik dan pengalaman nya sebagain model profesional tidak menyulitkan fotografer untuk memberi arahan gaya.
Di belakang Agatha sudah berdiri Aland yang menyaksikan sesi pemotretan Anggun. Aland tidak pernah melepaskan pandangannya dari Anggun. Anggun seketika tampak melirik kehadiran Aland yang terus memandang lekat pada dirinya. Agatha pun menoleh dan ia baru menyadari jika ada Aland di sana. Agatha menghampiri Aland dan menanyakan alasan kedatangannya ke studio.
"Ayah memintaku untuk makan siang bersamamu, tapi sepertinya kau sibuk jadi aku rasa kita bisa melewatkannya" ucap Aland.
"Aku hanya datang untuk melihat kelangsungan pemotretan saja. Untukmu, aku bisa meninggalkan semua pekerjaanku" ucap Agatha.
"Nona Agatha, Tuan William sudah dalam perjalanan dari hotel ke kantor anda" ucap sekretaris Agatha memotong pembicaraan mereka. Agatha sudah harus pergi karena memiliki janji temu dengan tamu.
"Tapi sayangnya kali ini kau tidak bisa melewatkan tamu penting seperti Tuan William" sahut Aland dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Agatha dengan berat hati harus meninggalkan studio, terlihat jelas diwajahnya yang begitu kesal karena harus meninggalkan Aland di sana bersama dengan Anggun.
Aland lanjut memperhatikan sesi pemotretan Anggun. Setiap gerak tubuh Anggun mengusik pikirannya dan bercampur dengan ingatannya akan wanita yang ia cari. Sesi ketiga pemotretan telah selesai, mereka akan mengambil istirahat sebelum melanjutkan ke sesi berikutnya.
Aland meminta Grey memberikan dress itu kepada dirinya. Aland lalu pergi menghampiri Anggun dan memintanya untuk mengenakan dress tersebut. Anggun terkejut dengan permintaan Aland, bahkan yang lebih mengejutkan ia merasa tidak asing dengan dress itu.
Aland meminta Anggun melakukan pemotretan sekali lagi dengan dress itu. Anggun menolak, karena hal itu diluar dari kontrak yang sudah disepakati. Tidak ingin memiliki debat dengan Anggun, Aland langsung meminta Grey memanggil manager yang bertanggung jawab dalam pemotretan untuk memberinya izin.
Tentunya mendapatkan izin itu tidak akan sulit bagi Aland karena semua orang yang bekerja untuk BlueSKY sudah mengenal siapa dirinya. Dengan ragu Anggun mulai memakainya, ia lalu pergi ke ruang ganti untuk memakainya.
Selama di ruang ganti, Anggun terus memperhatikan dress yang sudah ia kenakan. Dress yang sama persis dengan yang pernah ia miliki dan ia tinggalkan pada hari itu. Anggun berusaha membuang semua pikiran itu karena tidak mungkin jika Aland adalah pria yang pernah membeli tubuhnya.
Selain itu, tidak ada alasan bagi pria itu untuk menyimpan baju yang ia tinggalkan. Terlebih lagi dress itu bukanlah pakaian yang limited edition yang artinya siapapun bisa memilikinya.
"ini hanya kebetulan Anggun, hanya dress yang kebetulan sama" ucap Anggun lalu bersiap untuk keluar dari ruangan itu.
Bersamaan saat Anggun akan keluar, Aland sudah berdiri menunggunya di balik pintu. Aland memperhatikan Anggun yang sudah memakai dress itu. Aland lalu mendekat sehingga mendorong Anggun untuk mengambil langkah mundur.
Aland mengulurkan tangannya meraih wajah Anggun. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya Anggun.
Tanpa menjawab pertanyaan Anggun ia membuka ikatan rambut Anggun dan mengurainya. Aland memperhatikan setiap bagian wajah Anggun hingga tatapan itu berhenti pada bibir Anggun.
Anggun membuyarkan usaha Aland yang masih berusaha mengingat, ia pamit pergi untuk melanjutkan pemotretan. Aland menghentikan Anggun yang akan meninggalkan ruangan. Ia menghampiri Anggun lalu jongkok dan meraih sepatu Anggun.
"Kau bisa jatuh jika tidak mengikatnya dengan benar" ucap Aland membantu mengikat tali sepatu Anggun yang terlepas.
Anggun terkejut saat melihat tato burung Elang yang ada pada jenjang leher belakang Aland.
"Dia...?" batin Anggun lalu menarik sepatunya yang masih diikat oleh Aland.
"Maaf, aku harus pergi" ucap Anggun segera meninggalkan Aland.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***