
Anggun menatap Aland yang baru masuk ke dalam tokonya. Anggun pun berdiri dan lekas meraih tubuh Marvel untuk mendekat kepadanya. Terlihat jelas raut wajah Anggun yang seolah takut akan sosok Aland. Di mata Anggun, Aland seperti bandit yang ingin menculik anaknya.
Melihat putranya pulang bersama Aland menunjukkan jika pria itu sedang berusaha mendekati dan mengambil hati Marvel.
"Ada alasan kenapa Marvel memanggilku papa" ucap Aland melihat sorot tatapan mata Anggun yang memancarkan kecemasan.
Anggun kembali jongkok menyeimbangkan tingginya dengan Marvel. Ia meminta Marvel untuk pergi ke ruangan pribadinya yang berada di lantai 3 karena ada hal yang harus ia bicarakan dengan si Tuan Pokemon.
Anggun meminta staf nya bernama Mia untuk membawa Marvel pergi. Tanpa banyak tanya, Marvel mengikuti perintah mamanya dan pergi ke lantai 3.
"Aku ingin bicara denganmu" ucap Anggun kepada Aland setelah Marvel sudah pergi.
Keduanya kini duduk berhadapan di dalam 'Hello Bakery', toko roti milik Anggun. Alih-alih takut akan sikap Anggun yang serius, Aland malah sibuk menatap wajah Anggun dengan penuh kagum. Aland di buat terpesona akan paras cantik Anggun yang terpancar indah pada sosok dan sinar matanya. Bahkan Aland terlihat mengabaikan Anggun yang sedang berbicara kepadanya.
Kencatikan Anggun yang sempurna sudah membuat Aland hampir tak berkedip sama sekali. Ya, wajah itu yang juga sudah membuat Aland jatuh hati dan tidak bisa mengendalikan diri pada malam 7 tahun silam.
Senyum tipis mulai terurai di bibir Aland ketika Anggun mengetuk meja 3 kali meminta Aland untuk sadar dari lamunannya. Anggun kesal karena Aland hanya diam menatapnya tanpa merespon sama sekali tentang apa yang ia katakan.
"Jangan khawatir aku dengar apa yang kau katakan" sahut Aland tersenyum.
Aland meraih ponselnya dan menghubungi Grey yang menunggunya di dalam mobil. "Grey, bawa padaku hasil tes nya" perintah Aland.
Setelah menerima panggilan Aland, Grey segera masuk ke dalam toko roti Anggun, ia menyodorkan bukti hasil tes DNA yang ia terima dari Dr. Willy menggunakan tablet miliknya. Hasil tes DNA yang menunjukkan jika Aland adalah ayah biologis Marvel.
Membaca hasil tes itu membuat tubuh Anggun seperti mendapat sengatan yang luar biasa. Tangannya mulai gemetar, bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir membasahi keningnya. Di bandingkan dengan amarahnya kepada Aland yang sudah menodai kesuciannya, Anggun lebih mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin akan direncanakan Aland setelah mengetahui Marvel adalah putranya.
"Lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Anggun berusaha memasang mimik wajah sinis. Anggun ingin menunjukkan jika dia tidak akan lemah.
"Banyak hal yang sudah aku rencanakan dan menjadi pertimbanganku. Tapi kau tidak perlu khawatir karena satu hal yang pasti, aku tidak akan membuat Marvel jauh dari dirimu. Kau adalah ibunya dan aku juga sadar jika aku tidak punya hak untuk merampasnya darimu" ucap Aland.
"Aku tidak memiliki jaminan apapun untuk mempercayai ucapanmu" sahut Anggun.
"Aku mengerti, karena itu beri waktu untukku membuktikannya kepadamu" sahut Aland yang tidak memaksa Anggun untuk percaya kepadanya.
__ADS_1
Anggun meragukan ucapan Aland, sebagai seorang CEO Hamilton Group yang merupakan perusahaan terbesar dan ternama, tidak akan mungkin Aland peduli dengan orang kecil seperti dirinya.
Kini dalam pikiran Anggun hanya ada dua hal yang mungkin terjadi, antara Aland akan meminta Anggun menyembunyikan status Marvel sebagai putranya atau justru mengejar status Marvel sebagai penerus setelah menendang dirinya pergi.
"Besok ayahku mengundang makan malam di kediaman Hamilton, aku harap kau tidak menolak" ucap Aland.
"Kenapa dia melakukannya?" tanya Anggun.
"Tentu saja karena ia ingin bertemu dengan cucunya" sahut Aland tersenyum.
Anggun menghela nafas lalu menunduk, ia diam sejenak lalu kembali memandang Aland. Anggun menerima undangan itu, baginya tidak alasan untuknya menolak. Sebuah kenyataan yang sudah tidak bisa hindari adalah fakta bahwa pria yang duduk didepannya saat ini adalah ayah kandung Marvel.
.
.
.
Keesokan harinya.
Tidak selang lama mereka sampai di apartemen, Anggun di kejutkan dengan kehadiran beberapa wanita yang menekan bel dan berdiri didepan pintu apartemennya. Anggun membuka pintu dan menanyakan maksud dan tujuan mereka datang.
"Selamat siang Ny. Anggun, kami di perintahkan Tuan Aland untuk melayani dan membantu Ny. Anggun untuk acara nanti malam" ucap seorang wanita yang terlihat seperti kepala staf.
"Nyonya? Lagipula saya tidak membutuhkannya" ucap Anggun.
Di tengah kebingungan Anggun, Marvel tiba-tiba menghampiri Anggun. "Kenapa mama tidak biarkan saja mereka masuk dan melakukannya?" tanya Marvel masih sembari sibuk dan asyik dengan ponselnya.
"Tapi" sahut Anggun.
Marvel menghentikan kegiatannya bermain ponsel dan memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ia menaikkan kaca matanya yang sudah teturun hingga hidung.
"Ma, bukannya mama yang mengajarkan Marvel untuk menghargai pekerjaan orang lain dan tidak boleh menyusahkan orang yang sudah berkerja keras" potong Marvel.
__ADS_1
Anggun menatap Marvel seolah menanyakan apa maksud Marvel dengan ucapannya itu. Meskipun Anggun tahu pesan itu darinya, namun ia hanya terkejut kenapa Marvel mengatakannya pada situasi saat ini.
"Mereka hanya menerima tugas dan menjalankannya. Bahkan mereka sudah jauh-jauh datang kemari demi memenuhi tanggung jawab akan tugas mereka. Jika kita meminta mereka kembali, bagaimana kalau nanti mereka dianggap tidak bekerja dengan baik lalu di pecat oleh papa?" potong Marvel.
"Papa?" gumam seorang pelayan.
Pelayan itu langsung terdiam, ia mengunci rapat mulutnya setelah mendapat tatapan tajam dari kepala pelayan. Meskipun pernyataan Marvel yang menyebut Tuannya dengan panggilan papa sangat mengejutkan dan membuat penasaran, namun kepala pelayan ingin bawahannya tetap bekerja profesional dan bersikap sopan.
Meskipun begitu, mereka semua sangat kagum dengan apa yang sudah di ucapkan Marvel baru saja kepada mamanya. Mereka tidak percaya jika kata-kata bijak itu di ucapkan oleh anak yang baru saja menginjak usia 6 tahun di depannya itu.
"Sayang, mama paham akan hal itu, tapi kita juga tidak mengenal mereka dan tidak bisa begitu saja percaya kepada mereka untuk masuk ke rumah kita" ucap Anggun lirih kepada Marvel.
"Apa Marvel perlu menghubungi papa untuk memastikannya?" tanya Marvel dengan wajah polosnya.
"Apa dia juga sudah memberi Marvel nomor teleponnya?" tanya Anggun terkejut Marvel. "Agresif sekali" lanjut keluh Anggun mengetahui Aland yang sudah seagresif itu mendekati putranya.
Anggun sendiri pun sudah memilki no telepon Aland, namun ia hanya tidak percaya jika Aland juga sampai memberikan nomornya kepada Marvel.
Marvel tersenyum, ia memberi kode kepada Anggun untuk mendekat. Ia lalu berbisik di telinga Anggun. "Mama kan tahu jika menemukan data semua tentang papa tidak akan sulit untuk Marvel" bisik Marvel.
"Lalu artinya Marvel juga pasti sudah tahu jika mereka benar-benar suruhan Tuan Pokemon ? Karena itu Marvel meminta mama membiarkan mereka untuk masuk" potong Anggun.
Marvel hanya membalas dengan senyum yang artinya ia membenarkan dugaan mamanya. Tidak ingin berdebat dengan putranya dan sudah tahu tidak akan bisa menang, Anggun akhirnya mempersilahkan mereka semua masuk.
Para pelayan yang di utus Aland masuk dengan membawa begitu banyak setelah gaun, heels, aksesories, tas dan alat make up untuk Anggun. Mereka mulai melakukan tugas dan perannya masing-masing. Anggun di perlakukan bak Nyonya besar dengan fasilitas salon mewah yang ia dapat hanya dengan di rumah saja.
Mereka mempersilahkan dan membantu Anggun untuk mencoba satu persatu gaun dan heels sesuai dengan seleranya. Gaun-gaun yang terlihat elegan dan mewah, baik dari segi bahan, teknik jahit, desain maupun hiasannya.
Namun tidak sedikit dari gaun-gaun itu yang memiliki desain sedikit terbuka baik pada bagian backless, busty look, ataupun bagian decolette look. Anggun pun sudah menjatuhkan pilihannya pada gaun yang dirasa cocok dan pantas untuknya.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued***