Mata Elang

Mata Elang
BAB 18 – Menerima Tawaran.


__ADS_3

Anggun mengantar Marvel pergi ke sekolah, selama dalam mobil Marvel hanya diam dan menatap ke arah jalanan. Sesampai didepan gerbang sekolah, Marvel langsung melepas sabuk pengaman hendak turun. Anggun menahan tangan Marvel. Ia menawarkan diri untuk mengantar Marvel sampai masuk ke dalam kelas. Ini adalah hari pertama Marvel masuk sekolah.


"Marvel bisa sendiri ma" tolak Marvel. Ia mengecup singkat pipi Anggun lalu turun dari mobil.


Anggun menatap punggung putranya yang berjalan memasuki gerbang sekolah seorang diri. Marvel terlihat santai berjalan dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana. Anggun percaya dengan sikap dewasa yang dimiliki putranya akan membuatnya mampu menempatkan diri ditempat baru.


"Maafkan mama sayang" ucap Anggun lirih lalu menjalankan kembali kendaraannya meninggalkan sekolah Marvel.


Mengetahui mobil mamanya sudah pergi, Marvel menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap anak-anak lain yang datang ke sekolah bersama teman atau bahkan beberapa diantara mereka diantar oleh kedua orang tuanya. Sebuah hubungan keluarga yang harmonis dan banyak dianugerahi kebahagiaan.


Tiba-tiba terdengar suara pria yang tidak asing berbicara kepadanya. "Damian bilang ibumu yang mengantarmu ke sekolah, itu sebabnya kita tidak menjemputmu dan pergi terpisah" ucap Joan yang tiba-tiba datang dan langsung menggandeng tangan Marvel.


Joan tersenyum kepada Marvel lalu menggandengnya masuk. "Aku akan bilang kepada Damian jika mulai besok kita akan pergi sekolah bersama" lanjut ucap Joan.


Joan sedari tadi sudah memperhatikan Marvel, ia bisa melihat dari raut wajah Marvel yang tampak iri dengan teman-teman yang lain.


"Selama berada di sekolah, kau adalah adikku. Jadi katakan kepada mereka semua jika aku adalah kakakmu, mengerti?" tanya Joan.


Joan juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Marvel. Meskipun keduanya berada di tingkatan dan gedung yang berbeda, namun sudah menjadi tugas Joan untuk menjaga Marvel sebagai pengawal pribadinya.


"Apa aku terlihat membutuhkan bantuanmu?" tanya Marvel melepas tangan Joan lalu berjalan lebih dahulu.


Joan menghentikan langkahnya. "Haha benar juga, kau lebih ahli dalam bela diri daripada diriku" sahut Joan. "Tapi aku akan tetap menjadi kakakmu" teriaknya mengejar ketinggalannya dari Marvel.


.


.


Usai mengantar Marvel, Anggun dalam perjalanan ke pusat pertokoan untuk menemukan suplier yang akan menyuplai toko roti miliknya.

__ADS_1


Saat melewati halte, ia melihat seorang wanita hamil yang sedang kesakitan. Wanita itu dikerumuni beberapa pelajar yang terlihat sangat panik dan berteriak meminta bantuan. Anggun menepikan kendaraannya dan segera turun dari mobil.


"Apa yang terjadi? Kalian bantu bawa masuk ke dalam mobil saya, saya akan membawanya ke Rumah Sakit" ucap Anggun membuka pintu belakang mobilnya. Ia lalu ditemani oleh seorang wanita pekerja kantoran yang ikut pergi dengannya ke Rumah Sakit.


Sesampai di rumah sakit wanita itu pamit pergi karena ia harus segera ke kantor untuk bekerja. Kini hanya tinggal Anggun seorang diri menunggu wanita hamil itu yang sedang mendapat penanganan medis. Anggun menatap lorong Rumah Sakit, ia mengingat kenangan dirinya yang juga pernah berada di sana 7 tahun lalu.


Sebuah kenangan dimana ia merasa hidupnya hancur setelah mendengar ucapan dokter yang mengatakan dirinya hamil dan akan menjadi sorang ibu. 7 tahun talah berlalu dan kini ia kembali berdiri disini sudah sebagai seorang ibu.


Seorang perawat tiba-tiba datang dan membuyarkan lamunan Anggun. Perawat meminta Anggun yang mereka kira wali dari wanita itu untuk pergi menebus beberapa obat. Sebelum pergi menebus obatnya, Anggun menghampiri wanita yang ia tolong, wanita itu sudah sadar dan terlihat sudah dalam kondisi lebih baik.


"Anda tidak perlu pergi menebusnya, karena suami saya akan segera datang. Saya sudah meminta perawat menghubunginya. Terima kasih atas bantuan anda" ucap wanita itu.


"Jangan khawatir ataupun sungkan. Aku akan pergi menebus obatnya dan jika suamimu sudah datang dia bisa membantumu untuk hal yang lain. Aku yakin dia pasti dalam perjalanan kemari dengan keadaan yang sangat panik" ucap Anggun.


"Anda benar, saya menjadi teringat kembali jika dahulu suami saya bahkan pernah loncat dari tangga saat mendengar saya berteriak di dapur, padahal saya ketakutan karena melihat kecoak" ujar wanita itu yang terlihat bahagia menceritakan sosok suaminya.


"Maka itu artinya dia sangat mencintaimu" sahut Anggun tersenyum.


Setelah memiliki obrolan kecil, Anggun pamit pergi mengantri dan menebus obat wanita itu. "Tanggung jawab" batin Anggun selagi mengantri.


Anggun duduk termenung memandang dirinya pada kaca yang ada di sana. Mungkin apa yang dikatakan wanita itu benar, tapi bagaimana dengan dirinya yang justru tidak mendapatkan tanggung jawab dari pria yang sudah membuatnya hamil.


"Tanpa suami ataupun sosok ayah bagi Marvel, kau bisa melewati semua ini Anggun" batinnya dengan senyum tipis yang terurai dibibir.


Saat Anggun kembali usai mengantri obat, ia melihat suami dari wanita itu sudah datang. Anggun membuka pintu dan menyapanya. Pria itu menoleh dan betapa terkejutnya Anggun saat melihat pria yang sangat tidak asing baginya.


"Dony?" sapa Anggun terkejut.


"Anggun? Apa kau yang sudah membantu istriku?" tanya Dony.

__ADS_1


Dony sangat terkejut saat mengetahui jika wanita cantik berhati malaikat yang diceritakan istrinya ternyata adalah Anggun. Begitu juga dengan Anggun yang hampir tidak percaya jika Dony sudah menikah dan bahkan istrinya benar-benar sedang hamil besar seperti apa yang dikatakannya waktu lalu.


Dony memperkenalkan Anggun kepada istrinya, lalu ia mengajak Anggun untuk berbicara di luar. "Maafkan aku Anggun" ucap Dony tiba-tiba saat mereka sudah duduk diluar.


"Kenapa kau meminta maaf?" tanya Anggun.


"Soal putramu, tidak seharusnya aku berbicara seperti itu tentang putramu" sahut Dony meraih kedua tangan Anggun meminta maaf.


Anggun terdiam, ia menatap Dony lalu menatap pintu kamar dimana istri Dony dirawat. "Aku akan menerima tawaran itu" ucap Anggun mengejutkan Dony.


"Apa ? Apa aku tidak salah mendengar? Anggun kau tidak perlu terpaksa melakukannya, aku sungguh tulus meminta maaf. Aku melakukannya bukan supaya kau empati kepadaku"ucap Dony.


"Hanya sampai memastikan kau tidak kehilangan pekerjaanmu" sahut Anggun.


Kehidupan Dony mungkin memang bukan menjadi tanggung jawabnya atau urusannya untuk ikut campur. Tapi melihat istri dan calon bayi yang akan dilahirkan istri Dony nanti, ia tidak ingin menjadi bagian dari orang yang akan membuat hidup keluarga kecil Dony terlantar.


"Terima kasih Anggun"' ucap Dony.


Anggun bangkit dari duduknya. "Aku harap kau akan menjadi suami yang setia menyayangi dan menjaga istrimu dengan baik, jangan mengecewakannya selagi Tuhan memberimu kesempatan untuk melakukannya. Aku pamit, sampaikan salam ku kepada istrimu" ucap Anggun lalu pergi meninggalkan Rumah Sakit.


Anggun telah membuat keputusan, ia akan menerima tawaran untuk menjadi model pemotretan produk terbaru BlueSKY. Mungkin apa yang dikatakan Dony dan Marvel benar, Ini adalah kesempatan terakhir yang ia miliki. Apakah hatinya masih menginginkan jalan ini, atau dia benar-benar akan melepaskannya dengan perasaan lega.


Anggun akhirnya menerima dan menandatangani kerjasama dengan BlueSKY. Dony membantu Anggun menyelesaikan segala urusan kontrak dan jadwal pemotretan Anggun. Kini Anggun telah menjadi salah satu model untuk BlueSKY.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2