Mata Elang

Mata Elang
BAB 13 – Misterius vs Bar Bar


__ADS_3

Masih di dalam kamar pribadi Aland. Grey berusaha membopoh tubuh Aland untuk tidur di tempat tidurnya.


"Grey... !."


Aland tiba-tiba terbangun memanggil nama sekretarisnya dengan berteriak sehingga mengejutkan Grey.


"Ada apa Tuan?" tanya Grey kaget karena Aland yang tiba-tida sudah sadar.


Aland teringat dengan bocah kecil yang sempat ia tolong, bocah yang sangat mirip dengannya.


"Cari tahu bocah itu" perintah Aland tiba-tiba.


"Tuan apa anda masih...." tanya Grey mendekati tubuh tuannya.


"Aku tidak mabuk Grey" sahut Aland memberi kode dengan tangannya menahan langkah Grey yang hendak mendekatinya.


Aland meminta Grey untuk mencari keberadaan wanita pemilik dress itu dan juga bocah itu. Aland menduga jika tidak menutup kemungkinan wanita itu hamil dan melahirkan seorang anak dari bibitnya. Aland yakin jika bocah kecil itu bisa jadi adalah anaknya.


Pernyataan Aland sangat mengejutkan Grey, begitu juga dengan perintahnya yang membuat Grey semakin frustasi. Bagaimana tidak, perintah itu bukan perintah yang baru pertama kali dilayangkan Aland kepadanya.


Selama 7 tahun ini Grey juga sudah berusaha mencari keberadaan wanita itu sesuai dengan perintah Aland. Namun Grey tidak pernah berhasil menemukan wanita itu. Kamar hotel tempat wanita itu bermalam saat itu dipesan atas nama Azka. Grey pun pernah mencari dan menemui Azka untuk menanyakan identitas Anggun.


Sayangnya Azka berbohong, ia mengatakan tidak mengenalnya, ia justru menjatuhkan Anggun dengan mengatakan hal buruk tentangnya. Azka mengaku hanya diminta untuk menyiapkan sebuah kamar, selebihnya ia hanya tahu akan ada wanita penghibur yang menempati kamar itu. Grey sudah berusaha mencari di setiap tempat yang menyediakan jasa wanita penghibur, namun ia tidak mendapatkan hasil apapun.


Aland tidak pernah mempercayai jika Anggun adalah wanita penghibur, hal itu ia lihat dari obat perangsang yang diberikan kepada Anggun. Seorang wanita penghibur tidak akan pernah membutuhkan obat perangsang kecuali ia dipaksa untuk melakukannya. Melihat Anggun yang masih virgin semakin meyakinkan Aland jika Anggun hanyalah korban.


Perjalanan kisah pangeran dalam dongeng cinderella versi Aland masih belum berakhir. Kini Grey tidak hanya harus mencari Anggun si wanita misterius pemilik dress itu, tapi ia juga harus mencari bocah yang memiliki wajah mirip seperti tuannya sewaktu kecil. Seorang bocah yang Aland pikir adalah anaknya dari wanita misterius itu. Belum lagi Aland juga memintanya untuk mencari informasi si wanita bar-bar yang sudah mencuri perhatiannya di Mall.


"Tuan, apakah anda tidak merasa jika itu sebuah kebetulan yang terlalu berlebihan?" tanya Grey.


Mendengar hal itu membuat Aland menoleh dan menatap tajam Grey. Melihat sorot mata tuannya bak seekor singa yang siap menerkam, Grey langsung menutup rapat mulutnya. Ia tampak bimbang akan sikap tuannya, Aland masih ingin menemukan wanita misterius itu tapi juga ingin lebih dalam mengenal si wanita bar-bar.


"Apa diam-diam Tuan Aland sudah jatuh hati dengan kedua wanita itu? Apa yang akan dilakukan Tuan Aland  jika aku berhasil menemukan keduanya? Siapa yang nanti akan dipilihnya? Apa Tuan Aland akan menikahi mereka sekaligus?" batin Grey dengan jiwa kepo nya.


Aland tidak pernah menyadari jika si wanita misterius dan wanita bar-bar yang ia cari adalah orang yang sama. Bahkan wanita itu sudah beberapa kali bertemu dengannya secara langsung.


.

__ADS_1


.


.


Di depan tower apartemen tempat tinggalnya, Marvel berdiri menatap gedung mewah yang menjulang tinggi itu.


"Ada apa Marvel?" tanya Damian yang mengantarnya pulang.


"Aku menginginkan unit Penthouse yang ada pada lantai tertinggi gedung ini" ucap Marvel dengan menunjuk puncak gedung di depannya itu.


"Apartemen ini hanya memiliki 2 unit Penthouse, salah satunya sudah memiliki penghuni. Unit satunya yang tersisa belum ada yang menghuni, tapi mereka mengatakan jika unit itu tidak dijual atau disewakan" sahut Damian.


"Apa dia tidak ingin bertetangga?" batin Marvel. Sepertinya Marvel sudah mengetahui siapa penghuni unit Penthouse yang dimaksud Damian.


"Meskipun begitu, bukankan tidak akan ada interaksi antar penghuni karena memiliki akses lift pribadi" lanjut batin Marvel.


Marvel sudah tahu jika penghuni unit Penthouse itu adalah Aland, si Tuan Pokemon yag kini menjadi target dalam misi pribadinya. Marvel mengetahuinya saat mencuri data pribadi Aland. Meskipun kini dirinya dan Aland sudah berada di tower apartemen yang sama, namun Marvel masih belum puas dan menginginkan unit Penthouse itu.


"Apa rumah baru yang disiapkan Damian kurang luas?" sahut Joan menyela pembicaraan mereka.


"Aku ingin menjadikannya sebagai maskar baruku, jadi pastikan Tuan Damian bisa mendapatkan unit Penthouse itu" perintah Marvel.


"Baik, saya akan mengurusnya untuk anda" sahut Damian.


Marvel masuk ke dalam apartemen, di lobby ia sudah disambut oleh Anggun yang turun ke lobby untuk menjemputnya "Mom... " teriak Marvel menghampiri Anggun.


Seperti biasanya Anggun menyambut Marvel dengan merentangkan kedua tangannya lalu memeluk putranya. "Apa hari ini Damian memberikan tugas yang melelahkanmu sayang?" tanya Anggun.


"Maaf Nyonya, lebih tepatnya Marvel yang banyak memberi tugas kepada saya dan Damian" sahut Joan.


"Joan...." tegas Damian meminta Joan menjaga sikapnya.


Marvel tidak mengelak dan membenarkan perkataan Joan. Sebagai ketua Agen Elang, Marvel adalah orang yang memegang kendali atas semua yang dikerjakan oleh para anggotanya.


"Mama tahu itu sayang, mama hanya ingin mengingatkan Damian jika mama memberi wewenang kepadanya untuk melaporkan kepada mama jika kau terlalu bekerja keras dengan tugas-tugas itu. Akhir-kahir ini Marvel selalu pulang larut dan sampai rumah masih sibuk di depan komputer, tapi Tuan Damian tidak ada melaporkan apapun kepada mama. Mama hanya bisa berharap kalian tidak menyembunyikan apapun dari mama" ujar Anggun yang hanya bisa meluapkan keluhannya lewat sindiran.


"Anda tidak perlu khawatir akan hal itu Ny.Anggun dan maaf jika saya masih belum bisa memenuhi harapan anda" ucap Damian.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih Tuan Damian atas kerjasamanya. Kalian sudah bisa kembali" perintah Anggun.


Damian pun pamit lalu pergi ke ruang tunggu untuk menunggu Joan yang izin pergi ke toilet.


Sembari menunggu lift terbuka, Anggun bertanya sekali lagi kepada Marvel untuk meyakinkan dirinya.


"Marvel tidak bohong atau menutupi sesuatu dari mama kan sayang?" tanyanya kepada Marvel.


Aland yang turun dari Penthouse untuk pergi mencari udara segar ke taman apartemen mendengar suara yang tidak asing baginya saat melewati lift. Suara si wanita bar-bar dan suara bocah itu. Aland menoleh mencari sumber suara itu, tapi ia tidak melihat siapapun kecuali lift yang baru saja tertutup.


Aland mengira jika mungkin efek alkohol dari wine yang ia minum belum sepenuhnya menghilang, ia lalu kembali melanjutkan langkah kakinya. Saat ia berbalik ia bertabrakan dengan Joan yang baru saja kembali dari toilet.


"Maaf" ucap Joan.


"Tidak apa, aku yang tidak melihat jalan dengan baik" sahut Aland.


"Joan..." panggil Damian memintanya untuk segera kembali.


Aland terdiam, ia mulai berpikir dan memutar memori nya karena merasa seperti tidak asing dengan anak muda itu.


---"Terima kasih sudah menyelamatkan adik saya."


---"Kita akan bertemu lagi, Tuan Pokemon."


Aland lalu teringat jika anak muda itu membawa pergi bocah laki-laki yang sangat mirip dengannya. Aland juga teringat dengan ucapan bocah itu.


"Tuan Pokemon?" batin Aland. "Kenapa bocah itu memanggilku Tuan Pokemon?" lanjutnya bergumam.


Menyadari hal itu, Aland segera berlari untuk mengejar Joan, namun sayangnya Joan sudah pergi. Aland segera meraih ponselnya untuk menghubungi Grey.


"Grey, segera kirimkan cctv lobby apartemen 1 jam kebelakang dari sekarang" perintah Aland.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2