
Meskipun Anggun berhasil mendapatkan apa yang diinginkan dan menang dari Aland, namun ia masih terlihat tidak puas dengan perlakukan pria yang begitu sangat menyebalkan dimatanya.
"Apa dia kira semua masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang?" kesal Anggun berjalan menuruni lantai 2 untuk bergegas kembali pulang.
"Anggun...!"
Terdengar suara seorang pria berteriak memanggil namanya. Anggun menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sumber suara yang memanggilnya. Terlihat dari kejauhan seorang pria kembali memanggil namanya dengan melambaikan tangannya ke arah Anggun.
"Dony?" batin Anggun melihat pria yang tidak asing baginya.
Pria itu memberi kode kepada Anggun untuk menunggunya, ia lalu bergegas berlari menghampiri Anggun. Pria itu berlari ke arah Anggun dan langsung memeluknya begitu saja.
"Ternyata benar, itu kau cantik" ucapnya masih dengan memeluk Anggun.
"Lepaskan pelukanmu Don, kita sudah seperti pasangan sejoli yang lama terpisah saja" gerutu Anggun sembari berusaha melepas pelukan Dony.
"Aku memang sudah lama ditinggalkan oleh putri Angsa ku" sahut Dony melepaskan pelukannya.
Dony adalah mantan atasan Anggun saat dia masih bergelut di dunia modeling. Dony sudah banyak membantu Anggun semasa mereka bekerja besama. Keduanya kini saling melepas rindu duduk disalah satu Cafe di Mall tersebut.
"Ya ampun Anggun kau masih saja terlihat cantik dan seksi. Kau tidak berubah sama sekali dan masih menjadi Angsa yang rupawan di mataku. Kau tahu betapa frustasinya aku setelah kau pergi meninggalkanku. Kau satu-satunya model terbaikku" ujar Dony terus berbicara tanpa henti.
Anggun hanya menatap Dony dengan bertopang dagu mendengarkan ocehannya sembari sesekali menyeruput ice americano miliknya. "Dony, kita memang sudah bertahun-tahun tidak bertemu tapi aku juga sudah bertahun-tahun mengenalmu, kau tidak perlu hiperbola dan lebay. Lagi pula apa yang kau lakukan disini?" tanya Anggun.
"Haha" sahut Dony tertawa.
Dony sangat tahu jika dia tidak akan pernah bisa membodohi Anggun. Namun, perkataan Dony tentang fisik Anggun memang benar adanya. Anggun masih sama seperti dahulu saat terakhir kali mereka bertemu 7 tahun lalu. Anggun bahkan terlihat jauh lebih muda dari usianya. Wajah cantik alami, kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal serta memilki aura wanita anggun seanggun namanya.
"Apa kau tidak lihat acara megah di lantai bawah sana? Kami sedang menggelar event fashion untuk peluncuran busana terbaru perusahaan kami. Tapi aku sedang pusing dan hampir gila gara-gara Rere" ujar Dony dengan wajah kesal.
"Rere? Dia masih bekerja denganmu?" tanya Anggun.
Pertanyaan Anggun semakin membuat Dony semakin kesal. Ia mengeluhkan Rere, seorang model yang juga pernah menjadi rekan Anggun. Saat ini Dony hampir dibuat gila dengan ulah Rere yang sudah ditetapkan menjadi model utama yang akan mengenakan produk terbaru, tiba-tiba kabur dan tidak ada kabar sampai ini. Dony tidak hanya kehilangan Rere, tapi ia juga kehilangan busana itu karena mereka sudah menyerahkannya kepada Rere.
Dony tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meminta Anggun untuk ikut berdiri. Anggun pun berdiri sementara Dony terus menatapnya. Ia menyentuh kedua bahu Anggun lalu memutar tubuhnya berulang kali.
"Anggun, apa kau bisa membantuku?" tanya Dony.
"Mencari Rere?" tanya Anggun. "Kau kan tahu aku sudah tidak pernah berkomunikasi dengannya lagi setelah meninggalkan negara ini" lanjut ucap Anggun kembali duduk dan meminum kopinya.
__ADS_1
"Bukan mencarinya tapi menggantikannya sebagai model utama kita hari ini" ucap Dony tanpa basa-basi mengeluarkan ide gila itu. "Lihatlah, bahkan kau jauh lebih cocok daripada Rere" lanjutnya meyakinkan Anggun.
Mendengar hal itu semburan hujan mini keluar dari mulut Anggun. "Kau sudah gila?" tanyanya. Dony langsung menjawab menggelengkan kepala dengan raut wajah yang mengiba.
Anggun tanpa pikir panjang langsung menolak permintaan itu. Ia menolak bukan hanya karena dirinya sudah usia dan sudah lama meninggalkan panggung impiannya itu, tapi saat ini ia adalah seorang ibu yang memilki seorang anak. Meskipun Anggun masih belum bisa melupakan mimpinya untuk menjadi model, namun sebagai ibu tunggal ia harus lebih banyak memilki waktu untuk putra tercintanya Marvel.
Mendengar alasan penolakan Anggun karena memilki seorang anak membuat Dony terkejut. Ia tidak menyangka dan tidak percaya jika Anggun sudah punya anak.
"Apa? Kau sudah punya anak? Anggun, apa itu alasan kenapa kau tiba-tiba pergi meninggalkan kita dulu? Hanya demi cinta dan pria yang menjanjikan kebahagian dengan hidup bersama sebagai keluarga, menikah dan merawat anak-anak di rumah. Anggun kenapa saat itu kau bisa berpikiran sesempit itu? Please deh Anggun" oceh Dony
Ya, begitulah Dony. Pria yang sekali bersuara sudah seperti gerbong kereta api yang melaju tanpa henti. Meskipun ocehannya terlalu berlebihan dan terkadang melewati nalar manusia pada umunya.
"Apa Rere tidak memberitahumu?"
"Rere? Tentang kepergianmu? Saat itu dia mengatakan kepadaku jika tidak tahu apa-apa. Samahalnya dengan diriku, dia hanya tahu kau tiba-tiba menghilang begitu saja." sahut Dony.
"Padahal dengan jelas aku memintanya memberitahu Dony agar Dony mau mengerti dengan alasan dan kondisiku saat itu" batin Anggun.
"Anggun, bagaimana? Kau mau membantuku?"' tanya Dony memecah lamunan Anggun. Ia meminta dengan memegang kedua tangan Anggun seperti sedang ingin melamarnya.
"Maafkan aku Dony, aku tidak bisa dan aku harus pergi" tegas Anggun bangkit dari duduknya hendak pamit meninggalkan Dony
Dony terus memprovokasi Anggun untuk kembali ke dunia modeling. Anggun pun bimbang sejenak, ia tidak hanya memikirkan kelayakannya tapi kesibukan jika kembali menjadi model. Saat ini Marvel adalah orang yang akan selalu menjadi prioritasnya.
"Bagaimana hanya dengan sekali ini saja kau mencobanya, jika masih saja tidak bisa menyentuh hatimu untuk kembali, maka kau bisa melepaskan mimpimu dengan perasaan lega. Tapi aku yakin dalam hatimu masih ada meskipun hanya serpihan kecil, kau mengharapkan mendapat kesempatan ini lagi kan? Kau masih belum sepenuhnya ingin melepasnya. Kita masih punya waktu 2 jam sebelum event dimulai, untuk orang sepertimu itu sudah cukup untuk melakukan latihan" ujar Dony.
"Bagaimana dengan busananya? Bukankah saat ini ada di tangan Rere?" tanya Anggun.
"Apa kau mau menerimanya?" tanya Dony setelah mendengar pertanyaan itu yang artinya bisa dibilang 99% Anggun bersedia membantunya.
"Aku sudah meminta orang ku untuk menyiapkan satu dari rumah produksi. Mereka akan segera menyelesaikannya dan membawa kemari" Dony.
"Bagaimana mungkin kita melakukannya bukan dengan busana asli yang dibuat dengan tangan desainernya" ucap Anggun.
"Jangan khawatirkan hal itu, aku yang akan mengurusnya nanti. Apa benar-benar menerimanya?" tanya Dony karena tidak ingin di PHP.
Setelah melewati begitu banyak pertimbangan dan segala bujuk ratu Dony, Anggun akhirnya menerima tawaran dan permintaan dadakan Dony sebagai model catwalk. Ia akan menjadi model utama yang akan menampilkan busana rancangan terbaru.
.
__ADS_1
.
.
Sama halnya dengan Anggun, saat ini Aland juga masih berada di Mall. Ia hendak menemui Agatha yang sedang mengadakan Even Fashion tersebut. Tujuan utama Aland datang ke Mall selain mendapatkan hadiah untuk mitra bisnisnya tapi juga untuk memenuhi undangan acara event fashion yang diadakan perusahaan Agatha.
"Tuan Aland, panggilan dari Nona Agatha" ucap Grey kepada Aland. Aland pun menghentikan langkah kakinya.
Grey menghampiri Aland, ia mengulurkan tangannya untuk memberikan ponsel Aland yang masih berdering adanya panggilan telepon dari Agatha.
"Tuan, Tuan Aland" panggil Grey kembali berulang kali namun Aland masih mengabaikannya, ia terlihat fokus melihat ke suatu tempat.
"Katakan padanya jika aku pasti akan ada di sana sebelum acaranya dimulai" perintah Aland masih tanpa memandang Grey yang berdiri dibelakangnya. Grey terlihat bingung, kenapa Aland menunda untuk menemui Agatha padahal saat ini mereka sudah berada di gedung yang sama dengan Agatha.
Aland menghentikan langkah kakinya ternyata bukan karena panggilan Agatha. Mata Aland saat ini fokus melihat sosok Anggun yang saat ini masih bersama Dony.
"Grey, bukankah pria itu adalah orang dari perusahaan Agatha?" tanya Aland.
Grey tampak melirik kesana kemari menemukan pria yang dimaksud Aland. "Anda benar Tuan" sahut Grey setelah melihat keberadaan Dony.
"Lalu apa mungkin wanita itu juga bekerja untuk Agatha?" tanya Aland lagi.
"Saya belum pernah melihatnya, tapi jika anda ingin,. saya bisa..." ucap Grey, belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong Aland.
"Cari tahu siapa wanita itu" potong Aland memberi perintah sama persis dengan apa yang akan dikatakan Grey.
"Baik Tuan" sahut Grey.
"Mungkinkah dia...." batin Aland dalam hati melai
Meskipun dengan tegas Grey mengucapkan kata siap menjalankan perintah, tapi jiwa kepo Grey terus meronta ingin bertanya. Grey sangat penasaran apa yang salah dengan Tuannya itu. Ini adalah kali pertama melihat Aland tertarik dengan seorang wanita selain wanita misterius yang selalu ia cari hingga kini.
.
.
.
*** To Be Continued***
__ADS_1