
Mirna menatap wajah dokter muda itu dengan wajah pucat.apakah benar yang baru di dengarnya?tidak salahkah dengan telinganya?
"Ba...bagaimana,dokter anak saya?" tanyanya kemudian dengan rasa cemas,ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Anak ibu harus dirawat di rumah sakit.semakin cepat semakin baik," jawab dokter risa. "jangan sampai ditunda-tunda."
Jadi benar apa yang telah ia dengar tadi.Gendang telinga nya masih normal.Ia tidak salah menangkap apa yang dikatakan dokter risa tadi.
"Lalu....?" ucapnya lagi.Mirna sadar,ucapan yang ia lontarkan itu adalah ucapan bodoh.Tetapi karena rasa cemas,ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kalau ibu setuju dengan perawatan ini,saya akan membuatkan surat pengantar." jawab dokter risa.Suaranya terdengar letih,seletih mimik wajahnya yang pucat.
Mirna menarik napas dalam-dalam.Mirna maklum,karena di luar sana pasien-pasien yang lain masih menunggu di luar bagian ruang tunggu.
Dokter muda nan cantik jelita itu memang ahli penyakit anak yang berpengalaman itu memang terkenal dengan tangan dingin.Sudah puluhan tahun ia menangani anak-anak yang berobat di tempatnya dengan baik sekali.
__ADS_1
"Ba...bagaimana kalau anak saya di rawat di rumah saja dok?" tanya Mirna melihat ke arah wajah dokter Risa dengan penuh harapan yang besar.
Dokter Risa menatap Mirna lagi.Ia tak tega dengan Mirna,karena ia seorang ibu yang sedang berjuang untuk anaknya.
"Iya, memang bisa anak itu dirawat di rumah.namun saya tidak bisa menjamin keselamatannya." jawab dokter risa dengan suara terpaksa.saya juga tidak mau berjudi dengan mempertaruhkan nyawa seorang anak kecil yang sedang terbaring lemas.Anak ibu sudah lemah sekali,suhu tubuhnya sangat tinggi dan tidak sadarkan diri.
Mirna tak bisa berbuat apa-apa,ia tak memiliki uang untuk biaya rumah sakit anaknya itu.bahkan ia tak memiliki suami.Memang begitulah kenyataan yang harus ia katakan sebagai dokter,bahwa anaknya Mirna harus di rawat di rumah sakit demi nyawa nya.itu artinya,kondisi Safa memang tidak baik.Anak itu membutuhkan perawatan secepatnya.
Dokter risa mengatakan baha Safa menderita tipes,dan sudah agak parah,sehingga harus mendapatkan penanganan serius.bukan sesuatu yang mengejutkan sebenarnya.Safa sudah beberapa haru mengalami gejala tipes.Sekarang dengan mimik wajah yang pucat dan letih,Mirna melayangkan wajahnya ke arah tubuh Safa yang terkulai lemas di kasur periksa.Dan biasanya,anak itu sangat aktif dan ceria.
"Sepanjang pengalaman saya,anak ibu mengalami gejala sakit tipes.dan saya tidak mungkin salah untuk memeriksanya." jawab domter risa.
Mirna terkulai lemas,ia tak menyangka bahwa anaknya bisa menderita sakit yang separah itu.
"Tentu saja anak ini harus dirawat." ucap dokter risa.
__ADS_1
Dokter risa menulis surat pengantar untuk rawat inap Safa..
Hati Mirna sangat kecut,ia tak punya biaya untuk membayar rumah sakit Safa.uang di dompet nya tidak banyak.Gajinya bulan ini sudah hampir habis karena untuk makan sehari-hari.
"Apakah ada keringanan....biaya untuk janda seperti saya dok?" Mirna bertanya.
"Saya hanya bisa membantu yang terkait dengn pekerjaan saya.Ibu tidak usah membayar tarif yang diperuntukkan buat saya." jawab dokter Risa.
"Terima kasih dokter," ucap Mirna dengan perasaan lebih baik dan lebih tenang.
"Kapan-kapan kalau saya punya uang,saya akan bayar."
"Tidak usah dipikirkan ibu,yang penting sekarang adalah nyawa anak ibu." Dokter Risa tersenyum.
Mirna menatap surat pengantar yang sekarang ia bawa.sambil menggendong Safa,yang tubuhnya terlihat sangat lemas dan wajahnya pucat.
__ADS_1