
Melihat itu Mirna memejamkan matanya. Dari sela-sela matanya yang sayup, Mirna meneteskan air mata yang mengalir cukup deras. Sudah berhari-hari Arya berada di dekat dirinya dan anaknya. Tetapi karena pria itu mempunyai pekerjaan, setiap hari ia harus pergi. Dan begitu urusan pekerjaan nya sudah selesai, ia langsung pergi ke rumah sakit untuk menemui Safa.
Namun Mirna tak pernah menghiraukannya secara khusus karena ia sadar bahwa Arya datang untuk menemui dan mendampingi anaknya. Dan hal itu tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Mirna menduga bahwa pria itu merasa harus bertanggung jawab atas keselamatan Safa, karena anak itu adalah farah daging nya sendiri. Dugaan Mirna selanjutnya adalah Arya ingin menebus dosanya di masa lalu. Terutama karena dulu menanggapi kehamilan Mirna dibayar dengan sejumlah uang untuk mengaborsi nya.
__ADS_1
Sejak Arya mengirimkan selembar surat disertai sejumlah uang untuknya, Mirna tak pernah mau mengingat-ingat apapun tentang pria itu lagi. Dia telah menghapus segala sesuatu tentang pria itu dari pikiran nya. Baginya Arya hanyalah debu yang tertiup angin. Ia memahami pola pikiran pria itu. Tak mungkin Arya berani dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukan nya terhadap gadis yang dulu masih lugu. Pria itu belum mempunyai penghasilan akibat ketidakseriusan nya dalam studi kuliah nya. Sudah begitu di antara mereka terdapat perbedaan yang besar ditinjau dari sudut pandang mana pun. Mirna sadar, jangankan Arya yang putra dari keluarga terpandang dan kaya, keluarga yang sederhana saja belum tentu mau menerima dirinya sebagai istri atau menantu dari keluarga nya karena mengingat latar belakang Mirna yang tak jelas dan ia hanya anak yatim piatu.
Dan pertemuan mereka hanya terjadi malam itu. Setelah malam itu mereka sudah tidak bertemu lagi, walaupun hanya teleponan di ponsel saja tidak lagi. Benar-benar pertemuan sekilas belaka.
__ADS_1
Tetapi anehnya, Arya yang bagi Mirna tidak berharga. Kini ia hadir dengan sikap yang amat berubah drastis. Manis, lembut, dan penuh perhatian. Rasanya sulit dipercaya, kini pria itu berada di samping anaknya dan memegang tangan mungilnya. Tiap pagi ia datang dan membawakan sarapan untuk dirinya, kemudian mengelus Safa dan mendampingi nya, baru itu ia pergi ke kantor nya. Nanti selesai urusan dari kantornya, ia langsung ke rumah sakit sampai malam untuk menjaga Safa.
Sungguh mengherankan, kini pria itu tampak lebih matang, penuh perhatian,dan berhati-hati dalam melakukan sesuatu maupun mengucapkan kata-kata. Dan memutuskan sesuatu yang penuh dengan perhitungan maupun resiko. Maka penilaian Mirna yang selama ini begitu rendah dan buruk terhadap pria itu, pelan-pelan mulai terangkat ucapannya. Ketika melihat betapa lembut pandang matanya saat mengusap kepala Safa, Mirna sangat terkejut. Tak pernah terbayangkan di pikirannya, Arya sudah berubah sedemikian rupa.
__ADS_1
"Mir, Safa pasti sembuh." Kata pria itu tanpa mengetahui apa yang sejak tadi Mirna pikirkan. Tangan pria itu tampak gemetar saat mengelus rambut Safa. Mirna sedikit menahan napas. Kondisi Safa memang masih mengkhawatirkan.
Tungguin kelanjutannya yaaa para readers🙂
__ADS_1