
Silvi membacakan alamat Arya dari ponselnya dan Mirna segera mencatat nya. Soal dia nanti akan menulis surat kepadanya atau tidak, itu soal nanti. Masih ada beberapa hari untuk memikirkannya kembali. Tiga hari lagi ujian akhir semester tiba. Mirna harus fokus pikirannya ke ujian akhir semester dulu. Kalau toh dia nanti harus meninggalkan kampusnya, setidaknya tinggal satu semester yang belum dijalani oleh Mirna. Mungkin suatu ketika, dia bisa melanjutkan nya lagi. Namun entah itu kapan Mirna belum pasti.
Demikianlah usai menyelesaikan ujian akhir semester. Mirna memutuskan untuk menulis surat untuk Arya. Dengan hati-hati dan memikirkan kata-kata yang akan ia tulis, ia tak menjerumuskan kata-kata pernikahan. Mirna membuka benak Arya untuk bagaimana mencari pemecahan masalah ini bersama-sama.
Setelah Mirna menulis surat untuk Arya, surat itu dititipkannya secara diam-diam kepada sahabat Mirna agar disampaikan kepada Arya melalui Dio. Saat itu perasaan Mirna sedang amat kacau karena beberapa hari ini ia merasa kepala nya pusing dan tubuhnya lemas bahkan muntah-muntah. Itu artinya dalam waktu dekat ia akan mengalami kesulitan untuk merahasiakan kehamilannya.
Dua minggu setelah surat itu ditulis, Arya belum membalas surat Mirna. Tetapi ketika dia baru memikirkan untuk menulis surat lagi untuk Arya, tiba-tiba saja ketika berada di kantin kampus Silvi menarik lengan Mirna dan mengajaknya ke toilet. Di sana ia menyerahkan amplop kepada Mirna.
"Ini surat dari Arya." Katanya berbisik.
__ADS_1
Mirna merasa gemetar saat meraba amplop itu. Pikirnya, apa saja yang di tulis oleh pemuda itu di dalam amplop ini? Dengan diam-diam Mirna membuka amplop itu, tetapi bukan main terkejutnya dia ketika melihat sejumlah uang yang banyak jumlah nya di dalam amplop itu. Cepat-cepat selagi deretan toilet kosong, Mirna mulai membaca apa yang Arya tulis untuk dirinya. Sungguh perasaannya sangat kecewa dan sedih.
Usai membaca surat itu air mata Mirna tak bisa di bendung lagi. Ia menangis dan mengeluarkan air mata hingga membasahi pipi nya. Saat itu ia tak tahu apa yang paling mengusai dirinya. Kecewa, marah, sedih, dan putus asa. Tetapi pada saat yang sama ia langsung menyadari bahwa masa depannya berada di dalam hati Mirna sendiri. Sudah jelas Arya mengetahui bahwa ia sedang hamil, tetapi laki-laki itu lepas tangan dan hanya memberinya uang sebagai solusi masalah yang sedang ia hadapi.
Menjelang akhir liburan semester, pagi-pagi ketika Mirna mau ke kamar mandi, suster Eva yang sebagai wakil panti, memergoki nya sedang muntah-muntah.
"Kenapa, Mirna apakah kau sedang sakit?" Tanyanya khawatir.
"Tetapi kau muntah-muntah, itu artinya tidak ada yang beres dengan badan mu. Apakah sebaiknya kita ke dokter?"
__ADS_1
"Tidak usah suster bentar lagi saya baikkan kok."
Kesusahannya tidak lagi bisa disimpan nya sendirian. Suster Eva, wakil ketua panti yang terkenal baik dan ramah sering menjadi sandaran Mirna untuk curhat.
"Suster....suster...saya mengandung."
Rasanya tidak ada berita lain apa pun yang bisa membuat Eva terkejut setengah mati begitu mendengar perkataan Mirna. Melihat pembawaan dan sifat Mirna yang sudah lama ia kenalinya, rasanya tak mungkin gadis itu berbuat sesuatu yang tidak pada aturannya di luar panti.
"Mir....bagaimana mungkin hal itu terjadi?" Suster Eva berseru sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Mengetahui betapa kaget nya suster, tak memungkinkan bagi Mirna untuk lebih lama lagi menyembunyikan kebenaran ini. Bagaimana pun juga ia harus berani bertanggung jawab atas buih-buih dosa yang telah ia lakukan. Sekarang atau nanti menceritakan nya, sama saja akibatnya. Jadi semua hal yang di alaminya dk rumah Silvi di cerita kan nya tanpa di tutupinya sedikitpun. Sambil berurai air mata ia mengatakan apa yang telah ia rencanakan demi nama baik panti. Dan Mirna akan menempuh masa depan ia sendiri dan mandiri.
para reader sejatišjangan lupa dukung author terua yaaa dan jangan bosen baca novel nyašsemoga kalian semua suka dengan cerita yang di karang authorš