Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Dua puluh tiga


__ADS_3

"Atau karena kau pernah pernah ditelantarkan? Kalau itu masalah nya, aku bersumpah untuk menebus dosa-dosa masa lalu yang pernah membuatmu menderita hati maupun fisik."


Mirna menghembuskan napasnya dengan agak kasar.


"Betapa mudahnya dirimu bicara seperti itu..." gumam Mirna.


"Aku sadar, tidak ada sesuatu pun yang pantas untuk menebus semua hal yang pernah kau alami dan derita selama bertahun-tahun ini. Pasti kau diusir oleh orangtuamu dan..."


"Kau salah, Mas. Aku anak yatim piatu. Aku sudah mengatakan nya padamu di dalam surat yang kutulis dan ku kirim padamu. Menurut pengurus panti yang menerima ku sejak bayi, kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan. Hanya tante ku yang selamat dan mengirim dirimu ke rumah panti asuhan. Tapi dia tidak pernah menjenguk diriku. Karena hal itulah aku masih bersyukur, tidak diusir oleh orang tua saat aku mengandung diluar nikah. Dan aku memutuskan untuk pergi meninggalkan panti demi menjaga nama baiknya supaya tidak tercoreng hanya karena diriku."


Dada Arya seperti ditusuk seribu jarum rasanya ketika mendengar kenyataan itu. Jadi itulah arti dari keluhannya beberapa hari lalu.


"Mir, mari kita tidak usah membicarakan masa lalu yang begitu pedih dan penuh noda itu." Katanya dengan penuh perasaan.

__ADS_1


"Mari kita langkahi jalan ke depan bersama-sama, meskipun dengan membawa noda yang pernah terpecik di dalam diri kita. Sekarang ada seorang anak yang tidak berdosa yang harus kita jaga dan sayangi. Demi dialah kita harus melangkah dengan tegak ke jalan kehidupan yang masih panjang ini. Akankah kita biarkan dia hidup tanpa orang tua yang lengkap dan setiap harinya bersama Bik Ijah? Kita sebagai orang tuanya harus bertanggung jawab dengan hidupnya."


Mendengar perkataan Arya, Mirna terdiam sejenak. Perkataan pria itu ada benar nya. Pasti Arya sudah bertanya dengan Bik Ijah dan mendapat jawabannya. Begitu melihat Mirna terdiam tanpa kata-kata, Arya langsung melanjutkan bicaranya agar wanita itu bisa berpikir dengan akal sehatnya.


"Mirna, jangan ikuti egomu. Pikirkan dengan akal sehatmu."


"Kau sudah mengalami dan merasakan hidup yatim piatu karena keadaan. Tetapi Safa masih mempunyai orang tua lengkap. Jangan mengulangi sejarah kehidupan mu dalam kehidupan Safa. Dia juga berhak untuk hidup bahagia bersama orangtua yang lengkap. Izinkan aku menunaikan tanggung jawab ku sebagai ayah nya..."


Mirna memejamkan matanya sejenak. Kalimat terakhir yang Arya ucapkan terdengar sangat menyentuh hatinya. Pria itu menahan tangis. Perasaan Mirna menjadi campur aduk karena otaknya masih belum bisa diajak berpikir baik. Tetapi sebelum mengatakan sesuatu, tiba-tiba Safa terbangun. Tatapan wajahnya mencari keberadaan Arya sehingga yang bersangkutan pun ikut terdengar.


"Ini papah..."


"Iya, papah tidak boleh pergi jauh lagi." Katanya menahan air matanya supaya tidak mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


"Papah tidak akan pergi lagi." Sahut Arya.


"Papah akan selalu ada buat Safa dan Mamah. Sekarang Safa tidur ya sayang, kami akan menunggumu di sini."


"Benar ya, pah?"


"Iya sayang."


"Dan Safa bisa tinggal di rumah papah yang bagus dan baru?" Tanya Safa dengan suara penuh harapan pada Arya.


"Iya..."


Mendengar itu air muka Safa tampak damai dan tenang. Ia minta minum dan dengan rasa puas yang memancar dari wajahnya. Melihat Safa sudah tertidur kembali, Mirna melanjutkan bicaranya dengan pemuda yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Para readers yang terhormat, jangan lupa kasih jempol nya dan kasih saran yaa😊


__ADS_2