
Sebagai ayah Safa, apakah pria itu merasakan sesuatu yang ada kaitannya dengan kondisi Safa? Apakah ada firasat sehingga mengeluarkan kata-kata itu?
"Iya, Safa pasti sembuh." kata Mirna.
"Safa pasti sembuh!"
Entah sampai kapan lamanya kondisi Safa yang membuat kedua orang itu bingung dan khawatir, tak seorang pun tau. Rasanya waktu berjalan sangat lambat sekali sehingga seluruh jiwa mereka seperti terperas rasanya.
Tak lepas pandangan mata mereka berdua melihat Safa yang terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit. Seolah keduanya sedang bersatu padu, menjaga agar maut tidak menjemput nyawa putri kecilnya itu. Mereka berdua pasti akan terus berada di sana andaikata tidak ditegur oleh penjaga ruang ICU.
"Terlalu dekat dengan pasien akan mengurangi oksigen. Jadi maaf sebaiknya bapak dan ibu tunggu di luar saja."
"Oh maaf, kami tidak berpikir sampai sejauh itu. Tetapi bolehkah saya bicara sebentar dengan anak saya?" ucap Arya.
"Baik pak, 10 menit ya?"
__ADS_1
Arya mengangguk dan langsung menatap wajah anaknya itu. Ia akan mengatakan apa yang ada dipikirannya.
"Sayang, ini papah sudah datang nak. Safa gak kangen sama papah yaa?" bisik Arya di telinga Safa.
Kata-kata yang sama juga diucapkan oleh Mirna. Ia memandang adegan itu dengan hati sangat hangat. Betapa kasih sayang seorang ayah kepada putri kecilnya itu yang sedang berjuang melawan sakitnya. Mirna juga berdoa dalam hati supaya usaha Arya berhasil.
"Safa, ini mamah." ucapnya.
"Bangunlah sayang, kau sering menanyakan papah kan? Sekarang papah sudah datang untuk Safa."
"Tekanan darahnya meningkat mendekati angka normal." ucapnya dengan suara bahagia.
"Sebaiknya bapak dan ibu menunggu di luar. Saya akan memanggil kan Dokter."
Seperti yang baru terjadi di ruang ICU tadi, tak seorang pun tau apa yang mendorong berlalunya masa kritis Safa. Tetapi yang sangat jelas, dalam waktu singkat Safa sudah mulai ada kemajuan. Dan hari berikutnya ia sudah boleh dipindahkan ke ruangan biasa.
__ADS_1
Namun masih ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan terhadap anak itu. Antara lain tidak boleh capek. Dalam proses penyembuhan, Safa mulai sadar karena kehadiran sosok ayahnya yaitu Arya. Ketika masih dalam kondisi sadar tidak sadar yang Safa ingat dulu adalah keberadaan ayahnya.
"Itu papa, sayang." Katanya sambil menunjuk Arya yang sedang berjalan menuju ranjang Safa. Begitu mendengar perkataan sang ibu, Safa langsung semangat dan bangkit. Tetapi cepat-cepat Arya memeluk nya dengan lembut. Pada awalnya Safa menatap Arya dengan pandangan kosong. Tetapi pelan-pelan mata itu mulai berbinar.
"Sayang, ini papah. Tetapi jangan duduk dulu ya sebelum Dokter mengizinkan. Papah akan menaikkan bagian atas tempat tidur supaya kau tidak usah duduk sayang." Katanya sambil mencium rambut Safa.
"Sayang, papah mau minta maaf yaa karena baru datang sekarang."
"Iya papah, Mamah sudah bilang tadi sama aku..." Safa mengangguk tanda mengerti.
"Papah, Safa sakit...."
"Ya, sayang. Papah tahu. Tetapi sekarang sudah mau sembuh." Jawab Arya sambil menciumi kepala Safa.
Air mata Arya berlinang di pipinya.
__ADS_1
"Tak lama lagi, kau akan pulang ke rumah kok sayang." Ucap Arya.