Melangkah Tanpa Arah

Melangkah Tanpa Arah
Lima belas


__ADS_3

Mirna tak mau mendengar apa pun permintaan maaf dan upaya para atasan lainnya yang membujuknya agar membatalkan rencana nya keluar dari perusahaan. Maka sejak hari itu, Mirna pun tidak lagi mempunyai pekerjaan. Tidak ada penyelesaian di dalam hati nurani nya itu, kendati masa kerja selama tiga tahun yang telah dilaluinya dalam perusahaan yang ditinggalkan nya itu mempunyai arti penting bagi kehidupannya.


Jika saja dirinya masih tetap bekerja di sana, dia tahu karier nya akan menanjak di tahun-tahun yang akan datang. Ada banyak pengalaman yang di dapatinya dan ada banyak kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Tetapi untuk apa kalau hatinya tidak bahagia dan tidak nyaman bekerja di tempat itu? Lebih baik ia menjadi pengangguran begini. Bahkan menurutnya masih ada keuntungan yang tidak bersifat materi.


Ia mempunyai banyak waktu untuk menemani dan merawat Safa dengan tangan ia sendiri. Namun ia juga memikirkan akan kebutuhan sehari-hari yang selalu membutuhkan uang. Tapi dengan sifatnya yang hemat dan telaten dalam pengeluaran biaya, uang pesangon sebesar empat bulan gaji bisa bertahan selama enam bulan lebih. Apalagi sambil menunggu ia mendapat pekerjaan yang baru, ia memberi pelajaran Matematika kepada anak-anak di sekitar tempat tinggal nya dengan biaya ringan. Hasilnya bisa untuk biaya hari demi hari yang Mirna lewati bersama anaknya.

__ADS_1


Baru beberapa bulan kemudian ia baru mendapatkan pekerjaan lagi di suatu kantor yang baru mulai kembali stabil dari kondisi gulung tikar. Memang gaji yang diterimanya tidak banyak, jauh dibawah gaji yang pernah diterimanya di perusahaan yang dulu ia bekerja. Tetapi perasaan nya lebih bahagia dan lebih tenang. Situasi di tempat itu penuh kekeluargaan dan itulah sebenarnya yang Mirna inginkan. Terutama karena dia tak pernah merasakan berada dalam satu keluarga yang utuh. Namun sayang nya, baru saja ia melewati masa percobaan,terjadi peristiwa yang dialaminya sore itu. Safa terserang penyakit Tipes dan kondisinya sudah lumayan parah. Maka dari itu Mirna membawa Safa ke rumah sakit, tapi ia bingung dengan biaya rumah sakit. Mirna tau pasti tidak membutuhkan uang yang sedikit. Maka, sekarang ia duduk di hadapan Arya, penuh dengan berbagai perasaan dan pikiran yang membuat nya sangat gelisah dan galau.


Kalau bisa, ingin sekali lari dari rumah itu dan tak pernah kembali lagi. Tetapi apa boleh buat. Demi anaknya ia harus melakukan nya. Memang, dalam berbagai kesulitan yang dialaminya selama hidup mandiri bersama Safa, tidak sekali pun ia pernah meminta bantuan orang. Bahkan juga tidak ke panti tempat ia di besarkan, meskipun mereka selalu mengatakan untuk jangan pernah sungkan meminta bantuan apa pun. Dan toh selama ini ia bisa melangkah dengan kuat menghadapi berbagai macam masalah yang ada di kehidupannya.


Bahkan ketika masih bekerja id tempat nya yang lama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk membeli sesuatu bagi panti. Namun kini ketika ia membutuhkan uang untuk biaya perawatan rumah sakit Safa yang sangat besar, ia terpaksa harus menemui Arya. Hanya laki-laki itu sajalah yang pantas di mintai bantuan karena dia mempunyai hubungan darah dengan Safa.

__ADS_1


"Sekarang aku tahu siapa dirimu." akhirnya Arya mampu bersuara.


"Apakah yang harus kulakukan untuk dirimu? Katakan saja tanpa perlu merasa sungkan maupun canggung..."


Mirna menelan ludah. Dikuatkannya dirinya untuk menjawab pertanyaan Arya dengan cepat. Di rumah sakit Safa dan Bik Ijah menunggu kehadiran nya.

__ADS_1


"Tadi sudah kukatakan, aku membutuhkan bantuan mu." sahutnya.


"Terus terang aku tidak akan pernah mau menginjak rumahmu ini andai kata tidak mengalami hal seperti ini. Aku....benar-benar sangat terpaksa datang menemui mu karena mengahadapi sesuatu yang tak bisa ku atas sendirian...." ucap Mirna terus terang di hadapan Arya.


__ADS_2