
"Mengapa kau begitu mudahnya menjanjikan sesuatu yang besar kepada Safa?" tanyanya dengan suara teguran.
"Itu bukan sekedar janji, Mirna. Itu perkataan yang mengandung akan kepastian. Mirna, karena kita sudah menyinggung masalah itu, maka dalam kesempatan ini aku akan melamar dirimu dan menikahimu. Berilah kesempatan padaku untuk memberikan kebahagiaan pada Safa dan menghapus semua hal yang pernah membuat mu menderita bersama Safa selama ini.."
"Tetapi, aku merasa bersalah mas. Kau jangan memaksakan egomu sendiri. Aku sangat tidak enak hati. Kau sudah terbiasa hidup bebas. Jadi jangan karena keberadaan Safa lalu kau mengubah semua kebiasaanmu itu."
"Tanpa kau katakan pun aku sudah bisa membaca isi hati dan pikiran mu. Tetapi, Mirna sebentar lagi umurku akan kepala tiga. Beberapa bulan ini aku sering berpikir bahwa sudah saatnya aku untuk menikah dan berkeluarga. Keberadaan Safa dan pengenalan diriku terhadap dirimu langsung merupakan semua jawaban atas permintaan ku selama ini. Pasti ini takdir yang diberikan untuk diriku. Mirna, ayolah berpikir positif demi masa depan kita yang lebih baik. Jadi sekali lagi aku ucapkan aku ingin melamar dirimu. Maukah kau menjadi pendamping hidupku hingga maut memisahkan?"
__ADS_1
Mirna menggelengkan kepalanya hingga berkali-kali.
"Tidak, Mas. Aku tidak mau menikah denganmu."
"Apa kau tidak memikirkan masa depan Safa yang masih panjang? Pikirkanlah keberadaan dan masa depan Safa saja. Jangan hanya mementingkan ego mu saja, Mir."
"Kita harus bicara apa adanya yang sesuai dengan fakta. Kita juga masih sangat asing satu sama lain. Juga dalam keluarga mu, aku ini bukan siapa-siapa. Meskipun kita pernah begitu intim di satu hari waktu itu." Wajah Mirna langsung memerah saat bicara seperti itu di hadapan Arya.
__ADS_1
"Tetapi kejadian itu karena kebodohan dan kecerobohan ku dalam bergaul. Sama sekali tidak ada perasaan khusus di antara kita. Apalagi cinta dan sayang. Terus terang aku jadi takut memasuki pernikahan dengan dirimu, Mas..."
"Aku sangat memahami betul perasaan mu, Mirna. Tetapi coba pikirkan sekali lagi. Tidak bisakah kali ini kau berkorban untuk masa depan anakmu? Kalau pernikahan kita kau anggap pengorbanan untuk Safa..."
"Tujuh tahun yang laku, apakah kau pernah memikirkan keberadaan anak itu? Uang yang kau berikan kepadaku itu bukanlah untuk mengaborsi keberadaan nya dalam rahim ku? Tetapi maaf, aku di berikan pelajaran oleh para pengasuh panti asuhan untuk tidak pernah meniadakan nyawa orang lain meskipun nyawa itu masih dalam kandungan. Bukan dosa seorang bayi kecil bahwa ia hadir di dalam rahim ibunya.
Jadi kenapa hidupnya harus di lenyapkan? Dia hanya bayi yang tidak berdosa. Seandainya waktu itu aku khilaf, bukankah tidak akan pernah ada Safa di dunia ini? Jadi aku memutuskan untuk meninggalkan panti demi mengurus anakku sendiri. Bukan kah hal itu bisa dikatakan pengorbanan?
__ADS_1
Arya terkejut bukan main mendengar cerita Mirna. Dicernanya kata demi kata wanita itu dan dibayangkannya semua cerita masa lalu yang Mirna lewati. Hatinya sungguh sedih dan pedih. Tanpa mampu menahan diri, ia mengeluarkan air matanya yang sedari tadi sudah ia bendung.