
"Papah..." Safa langsung memeluk Arya. Merasakan perlakuan itu tenggorokan Arya terasa sangat sakit sekali. Safa benar-benar haus akan kasih sayang seorang ayah. Entah dimana orangtua Mirna dan saudara kandungnya, dia tidak berani menanyakan. Apalagi karena Mirna sendiri tidak menceritakan kisah hidupnya.
"Kalau Safa pulang ke rumah, papah juga ikut Safa dan mamah kan?" tanya Safa dengan sikap polosnya.
Sesaat Arya tidak bisa bicara apa pun dan diam membisu, tak beberapa lama Arya menjawab pertanyaan Safa dengan rasa percaya diri dan matang.
"Iya sayang, papa akan selalu ada di dekat Safa." Jawabnya terbata-bata.
"Benarkah?"
"Iya, papa akan selalu ada buat Safa."
Safa melepaskan pelukannya dari tubuh Arya dan menatap wajah pria itu dengan mata membesar. Selama ini setiap kali ia bertanya kepada ibunya kapan ayahnya akan pulang dari tempat kerjanya, sang ibu selalu mengelak dari pertanyaan putrinya itu. Karena Mirna tidak ingin putrinya itu kecewa.
"Benarkah, pa?" tanya Safa lagi.
__ADS_1
"Iya sayang."
Arya sudah hampir empat kali mengantarkan Mirna pulang ke rumahnya untuk mengambil beberapa keperluannya maupun kebutuhan Safa selama di rumah sakit. Dari apa yang Arya lihat, ia tahu bahwa Mirna dan putrinya itu dalam fase kekurangan. Hatinya tersentuh oleh rasa berdosa yang besar karena ia telah menyia-nyiakan hidup Mirna dan putri kecilnya itu.
Jadi secara spontan pertanyaan yang ditanyakan oleh putrinya itu ia langsung jawab tanpa harus berpikir panjang. Ketika Mirna mendengar jawaban Arya, ia sangat terkejut bukan main. Kedua bola matanya mendadak membesar. Tetapi dia tidak ingin mengatakan apa pun karena Safa ada di dekat mereka berdua. Oleh sebab itu begitu Safa tertidur, Mirna langsung menarik tangan Arya keluar ruangan dan mengajak Arya bicara serius.
"Mas, semestinya kau jangan memberi harapan kosong kepada Safa. Karena dia sudah bisa berpikir dan mengingat-ingat apa yang didengar nya. Apalagi dia termasuk anak yang berhati lembut dan masih sangat polos." Ucap Mirna terus terang di hadapan Arya.
"Aku ingin Safa merasa senang agar ia bisa cepat sembuh total." jawab Arya.
"Tetapi ada banyak cara lain untuk menyenangkan hatinya." Ucap Mirna tegas.
Arya menarik napas dalam-dalam. Apa yang dikatakan Mirna barusan tidak salah. Tetapi apa yang dikatakannya tadi adalah sesuatu yang sangat serius bukan candaan. Namun tampaknya wanita itu tidak melihat keseriusannya dan mencurigakan nya.
"Pasti kau belum mengenali ku dan memahami diriku, bahwa semua yang kukatakan itu bukan omong kosong, Mirna. Aku termasuk orang yang serius dalam perkataan." kata Arya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Maksud ku sangat jelas. Aku akan membawa Safa beserta ibunya ke rumahku dan tinggal bersamaku."
"Katakan dengan jelas apa maksudmu."
"Sepertinya sudah jelas, Mirna. Aku ingin kita hidup dalam ikatan keluarga bersama."
"Maksudmu kita menikah?" tanya Mirna dengan rasa terkejut bukan main.
"Iya."
"Itu terlu berlebihan dan aku merasa keberatan dengan keputusanmu itu!"
"Karena surat yang kau terima tujuh tahun lalu?"
__ADS_1
"Tidak. Dulu pun aku tidak meminta adanya pernikahan. Apalagi sekarang ini. Jadi sekali lagi kukatakan padamu, aku merasa keberatan. Jangan tanyakan mengapa aku merasa keberatan. Tetapi yang jelas, aku merasa sangat tertekan."
"Karena tak mempercayai ku?" Arya bertanya dengan suara pelan.