
Banyak suara yang lalu lalang di telinga Mirna.Seperti pasien di sebelah tempat tidur Safa,yang tiap bentar menangis dan orang tuanya yang tiap kali membujuk dengan suara yang tidak pelan.Atau pasien anak lainnya,yang ibunya keluar-masuk ruangan,dan entah apa yang dilakukan oleh orang tua nya itu pokoknya sibuk sendiri. Begitu pun di tempat tidur yang satu lagi, juga selalu saja ada gerakan dan suara-suara yang menggangu.Tetapi Safa hanya diam saja dengan mata terpejam dan badannya yang lemas tak berdaya. Kadang-kadang anak itu tersentak seperti mau kejang sehingga Mirna sama sekali tidak bisa tidur karena rasa khawatir dan cemas yang luar biasa. Perawat sudah mengajarinya bagaimana mengompres anak itu agar suhu nya turun.
Selama lima tahun Mirna merawat anaknya itu dan menjadi ibu,baru sekali ini Safa sakit serius ini.Apalagi dengan kondisi yang mengkhawatirkan.Biasanya anak itu lincah dan ceria.Sejak bayi, Mirna selalu memberi Safa asupan makanan yang bergizi dan membiasakan anak itu makan sayur dan buah. Tidak mewah tetapi sehat. Kalau anak lain tidak suka sayur,Safa tak pernah menolaknya karena sudah terbiasa.Tetapi biasanya anak itu sehat,sekarang ia terbaring lemah dalam kondisi mengkhawatirkan.Kalau saja ia tidak merasa sungkan atau malu,ingin sekali Mirna mengebel perawat untuk menemaninya menunggui Safa.Ia benar-benar merasa malu dan sungkan.
Untungnya menjelang pagi setelah diberi obat lagu oleh dokter jaga,Safa bisa tertidur dengan dengan lebih nyaman dan tenang.Dan badannya sudah ada kemajuan,Mirna sangat senang ya walaupun belum seutuhnya Safa sembuh total.Terlebih ketika perawat tadi mengingatkan untuk segera mengurus biaya administrasi.Sungguh membuat perasaannya semakin tersudut.Sudah begitu ia harus memikirkan biaya transportasi untuk pulang ke rumahnya.Belum lagi untuk makan dan minumnya selama menjaga Safa.Dan uang ekstra buat Bik Ijah.Baru saja ia tadi memberi tahu melalui anaknya yang bekerja sebagai sopir untuk menjaga rumah nya selama Safa di rawat di rumah sakit.Dan Bik Ijah bersedia meskipun berarti harus ada uang tambahan yang harus di keluarkan oleh Mirna.Untunglah tempat tinggal Bik Ijah tidak jauh dari rumah Mirna.Beruntung pula pembantunya itu tak hanya bersedia menunggui rumahnya saja,tapi bahkan ia bersedia menawarkan jasa nya.
__ADS_1
"Kalau neng Mirna harus ke kantor,biar saya saja yang menunggui Neng Safa di rumah sakit.Jangan memikirkan uang tambahan buat saya, Neng. Kasihan anak itu kalau tidak ada yang menunggui," Katanya melalui ponsel anaknya.
Tentu saja Mirna merasa senang.Pembantu rumah tangganya yang bekerja dari pagi hingga Mirna pulang dari kantor itu sungguh baik hati dan ikhlas membantu Mirna. Tetapi untuk hari ini,ia masih di beri izin oleh kantornya untuk menjaga Safa di rumah sakit.
"Besok saja, Bik. Hari ini saya masih mendapat izin tidak masuk kantor," Katanya menjawab tawaran Bik Ijah.
__ADS_1
"Tetapi Neng Mirna pasti capek sekali. Biar saya sajalah yang menunggui nya hari ini.Neng istirahat saja dua atau tiga jam di rumah."
Semula Mirna ingin menolak permintaan Bik Ijah, tetapi begitu teringat masalah uang,ia menyetujui usulan Bik Ijah. Ada baiknya juga Bik Ijah menunggui Safa di rumah sakit sehingga ia bisa berusaha mencari pinjaman.Mungkin dia bisa meminjam tetangga atau entah siapa nanti yang terlintas dalam pikirannya.
Ketika Bik Ijah sampai di rumah sakit,Mirna betul-betul merasa lega.Ada seseorang yang dikenal Safa berada di sampingnya dalam situasi berat seperti ini. Melihat kondisi Safa terus seperti itu Mirna sangat sedih jika melihatnya,ia sangat tak tega dengan Safa.
__ADS_1
Bik Ijah mengerti perasaan Mirna.Bahkan perempuan setengan baya itu ikut meneteskan air mata karena tidak tega melihat keadaan Safa. Apalagi kemudian mereka melihat Safa terbaring seperti orang yang benar-benar lemah.
para readers sejatišjangan lupa coment ya dan likeš