
Arya melirik lagi ke arah Safa. Anak itu memang benar-benar tampak sakit. Selama berada di dekatnya, baru satu kali ia melihat mata anak itu terbuka dan mendengar memanggil ibunya, namun kemudian dia memejamkan nya lagi. Itu pun tanpa ada air mata atau menangis. Hati Arya seperti sedang diiris-iris rasanya. Perih sekali. Mengingat masa lalu dan mengingat keberadaan Safa sebagai penyambung rasa yang paling intim dibanding siapa pun di dunia ini, Arya ingin Safa segera sembuh dari sakit nya. Hanya anak itu satu-satunya yang mengikat dirinya dengan semua masa lalu.
Masa kritis terjadi pada hari itu dan malam itu. Anak itu segera di pindahkan ke rung ICU oleh para perawat, supaya mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Melihat itu tanpa menunda lagi Mirna menelpon Arya yang baru saja pulang dari kantornya.
"Mas, Safa kritis." Ucapnya menangis.
"Dia dipindahkan ke ruang ICU."
Mendengar kabar itu Arya langsung kembali ke mobilnya dan tancap gas menuju rumah sakit Safa di rawat. Setelah sampai, dilihatnya Mirna sedang berdoa sambil menangis di sudut ruang tunggu pasien.
"Bagaimana keadaannya, Mirna?" tanya Arya sambil duduk di sebelah Mirna.
"Apa kata Dokter?"
__ADS_1
"Mereka sedang berusaha menyelamatkan Safa, Mas. Tetapi kalau dia tidak bisa di selamatka, untuk apa aku hidup? Hanya Safa yang aku miliki." Sahutnya dengan air mata berhamburan membasahi pipi lembutnya.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi...."
Mendengar Mirna putus asa yang begitu dalam, Arya merasa tidak tahan. Sudah dua kali ia mendengar keluhan itu. Dipeluknya Mirna dan disandarkannya kepala perempuan itu ke di bahunya.
"Ada aku, Mirna. Tetapi apa salahnya jika kita berusaha dan terus berdoa. Yakinkan lah dirimu, Safa pasti sembuh." bisiknya.
jauh. Sekarang orang yang sedang pergi jauh itu sudah ada di dekat mereka.
Apa salahnya jika keberadaan Arya di katakan kepada Safa yang sedang kritis? Siapa tahu ada ikatan batin tersendiri yang bisa membuat Safa tersadar dan semangat melawan sakitnya.
Dengan pemikiran itu, ketika Mirna diperkenankan masuk untuk menjenguk Safa ke ruang ICU, ia mengajak Arya dan mendorong pelan tubuh Arya agar mendekati tempat tidur Safa.
__ADS_1
"Mas, ucapkanlah sesuatu kepada Safa mengenai keberadaan mu." bisiknya.
"Siapa tahu hal itu akan membuatnya sadar dan memberi kekuatan untuk dirinya."
Arya menyadari kebenaran ucapan Mirna. Tetapi saat melihat Safa yang lemah seperti itu, tubuhnya langsung gemetar tanpa ia sadari. Suatu pengalaman serupa menembus seluruh pikirannya yang selama ini ia hilangkan dari pikiran nya agar tidak menyakiti dirinya sendiri. Tetapi sekarang tiba-tiba pikiran itu datang menghampirinya lagi, membuat jantungnya berdegup kencang.
Ia ingat di saat itulah ia kehilangan orang terdekatnya untuk selama-lamanya. Jangan sampai peristiwa masa lalu itu terulang kembali pada anaknya itu.
"Safa sayang, bangun ya nak dan lekaslah sembuh." Ucapnya.
Tetapi tidak ada respon dan reaksi apa pun dari Safa yang sedang terbaring lemas. Tampaknya apa yang dikatakannya itu bagai debu yang terbawa angin.
Para readers penasaran gak sama lanjutan kisah mereka? kalau penasaran, baca terus yaaa kisah mereka😊 jangan lupa like dan coment saran😄 terimakasih....
__ADS_1